TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 23 WUJUD PEREMPUAN TUA DI CERMIN.


"Sudah malam, antarkan semua orang tua ke kamar mereka!" Perintah Mariyati.


"Tunggu sebentar lagi Mar, masih jam sepuluh dan kami masih ingin berada diluar kamar." Jelas Nek Siti dengan menundukkan kepala.


"Kalian baru saja diterapi, lebih baik banyak istirahat di kamar. Cepat bawa semua orang tua ini ke kamar!"


Dengan satu perintah dari Mariyati, para mahasiswa itu langsung patuh dan memapah para lansia kembali ke kamar. Sepertinya Mariyati sengaja menghentikan Nek Siti dan Kakek Ridho untuk banyak berbicara dengan cicit mereka. Ada kekhawatiran Mariyati, jika para lansia itu berubah pikiran dan benar-benar menyelamatkan keturunannya.


"Belum ada jam sebelas nih, enaknya kita ngapain ya?" Kata Doni seraya menghidupkan sebatang rokok.


"Lu dapat rokok darimana Don? Sini bagi gue!" Pinta Riko yang sudah lama tak menyentuh rokok sama sekali, semenjak mereka ada disana.


"Dih apa an lu, gak ada lagi! Ini aja gue boleh nemu tadi! Lagian waktu lu ke pasar, ngapain gak beli rokok sekalian sih. Kalau gini kan mulut gue jadi asem, terpaksa deh nyari-nyari rokok kayak orang susah aja!" Doni terus menyesap rokoknya hingga habis.


Riko pun tak habis pikir, selama disini ia belum pernah sekalipun melihat atau menemukan rokok yang tergeletak. Tapi Doni yang secara kebetulan bisa menemukan sebatang rokok tanpa tuan.


"Ributin apa an sih kalian?" Widia membawa teko air, yang baru saja ia isi dengan air minum.


"Itu si Riko mau minta rokok ke gue. Ini aja gue nemu cuma sebatang!"


"Hati-hati loh Don, kalau sampai ketahuan Bu Mariyati bisa kena omel lu! Gak boleh ada yang ngerokok disini, karena para lansia iti sensitif sama asap rokok!"


"Denger tuh Don, apa kata Widia. Makanya pas di pasar gue gak bisa beli rokok juga!" Ucap Riko seraya menoyor kening Doni.


"Iya tuh Doni, gak bisa sabar dikit jadi orang. Main embat rokok nemu lagi, jangan-jangan rokok yang ada di tempat sesajen yang lu ambil ya?" Tanya Widia menyipitkan kedua mata, menatap Doni penuh curiga.


"Ehm... Gak kok! Ngarang lu pada! Udahlah perkara rokok sebatang aja diributin. Btw Sintia mana Wid?" Jawab Doni mengalihkan pembicaraan.


Widia menjelaskan, jika Sintia sedang mencari sesuatu di gudang belakang. Ia mencari mukena dan sajadah, yang kemungkinan tersimpan disana.


"Semenjak disini kita gak pernah ada yang ibadah. Nah kata Sintia, dia mau ibadah lagi tapi gak ada mukena nya. Kita kan datang kesini tanpa membawa apa-apa, cuma pakaian yang kita pakai sama ponsel yang udah disita."


"Iya juga sih Wid, walau ibadah gue suka bolong-bolong. Biasanya gue selalu ikut shalat jum'at. Katanya cowok yang ikut shalat jum'at bisa nambah ganteng!" Pungkas Doni seraya menata rambut jambulnya.


"Tau tuh Sintia yang ngide buat cari di gudang, biasanya kan barang yang gak kepake disimpen disana." Kata Widia sebelum melangkah pergi ke kamarnya.


Sintia yang masih berada di gudang belakang, hanya berbekal lampu petromaks sebagai penerang. Ia mencari ke berbagai kotak yang ada disana, ia hanya menemukan pakaian dan kain putih yang usang. Hembusan angin semakin kencang, hingga menyibak kain penutup kaca. Kain itu terbang tertiup angin, lalu Sintia berusaha menggapai tirai yang tersangkut di ventilasi atas pintu. Saat ia berhasil mengambil kain penutup kaca, nampaknya ada yang melihat dirinya. Ia berdiri tepat di depan cermin, dan ia melihat penampakan perempuan buruk rupa. Seluruh kulitnya kisut, dan rambutnya memutih. Ia mengenakan pakaian seperti yang biasa dikenakan Mariyati. Pakaian khas pekerja Panti, dengan setelan rok span berwarna cokelat senada dengan kemeja. Sontak saja Sintia terkejut, dan ia hampir saja menjerit ketakutan. Tapi suara seseorang membuatnya jadi sedikit lega.


"Apa yang kau lakukan disini Sintia? Cepat tutup cermin itu!" Bentak Mariyati dengan membulatkan kedua mata.


Sintia membalikkan tubuhnya, ia melihat Mariyati dari atas ke bawah. Untuk memastikan jika yang dilihatnya benar-benar pemimpin Panti Jompo itu.


"CEPAT TUTUP KACA ITU SINTIA!" Cetus Mariyati bicara dengan nada lebih keras lagi.


Dengan panik Sintia langsung menutupi seluruh bagian kaca dengan kain. Seluruh tubuhnya berpeluh, dan nafasnya tak beraturan.


"Maaf Bu, saya mau cari mukena. Tapi angin menerbangkan kain itu. Dan waktu saya mau menutup nya kembali. Justru saya melihat penampakan perempuan tua, yang terlihat sangat menyeramkan. Tubuhnya seperti tinggal tulang dan kulit saja."


"Itulah kenapa saya tak meletakkan cermin di seluruh ruangan yang ada di Panti ini. Itu adalah jiwa salah satu pekerja yang dulu tinggal disini. Dia senang menampakkan wujudnya di depan cermin karena itu saya menyembunyikan semua cermin dan menutupi nya dengan kain. Saya tegaskan sekali ini saja padamu, dan kai bisa ingatkan semua temanmu. Jangan pernah lagi ada yang membuka cermin-cermin itu. Jika kalian tak mau melihat hal yang tak seharusnya kalian lihat. Apa kau mengerti Sintia?" Jelas Mariyati menatap Sintia penuh amarah.


Sintia menganggukkan kepala, dan kembali menanyakan mengenai mukena dan sajadah untuk ibadah. Tapi Mariyati mengatakan, sudah lama tak ada yang ibadah di Panti Jompo itu. Jadi ia tak menyimpan nya lagi, dan Sintia pun meminta ijin untuk membelinya di Pasar. Tapi Mariyati kembali beralasan jika ia tak memiliki anggaran lebih untuk membeli mukena ataupun sajadah.


"Kau tau sendiri bagaimana kondisi Panti Jompo ini. Saya kesulitan mendapatkan donatur yang mau memberi sumbangan untuk tempat ini. Sementara keluarga para lansia itu tak pernah sekalipun datang, apalagi memberikan bantuan uang tunai. Jadi saya harap kau mengerti dengan keputusan saya. Bukan maksud saya melarang kalian untuk beribadah. Tapi saya mohon untuk beberapa bulan ke depan, lebih fokus lah untuk mengurus mereka."


Mendengar penjelasan Mariyati, Sintia pun langsung tertunduk sedih. Ia memang melihat dan tau bagaimana kondisi di Panti tersebut. Sehingga ia dapat memaklumi alasan Mariyati, tak memberikan anggaran untuk membeli perlengkapan ibadah. Dan dibalik itu semua, Mariyati juga menggunakan hipnotis supaya Sintia dapat luluh ketika mendengar penjelasan nya. Dan tentu saja rencana Mariyati berhasil. Karena setelah itu, Sintia langsung kembali ke kamarnya tanpa meributkan apapun lagi. Sintia hanya penasaran dengan sosok perempuan tua yang terlihat di depan cermin.


"Gimana Sin dapat mukena nya?" Tanya Widia di atas tempat tidur.


"Gak ada Wid, besok aja gue jelasin." Jawab Sintia nampak berpikir.


"Lu lagi mikirin apa sih Sin?"


Sintia tak langsung menjawab pertanyaan Widia, ia tak mau membuat teman sekamarnya itu ketakutan. Apalagi sekarang Dina tak tidur bersama mereka. Jadi kamar itu terasa semakin sunyi, karena hanya mereka berdua saja yang menempati. Dari luar sana, nampak kilatan petir menyambar, sepertinya sebentar lagi hujan akan tiba. Tirai jendela semakin bergoyang dengan kencang, membuat siluet bayangan hitam. Suasana malam itu semakin terasa mencekam. Apalagi setelah seluruh lampu di Panti dipadamkan. Widia beringsut ke dalam selimut, dan menyembunyikan wajahnya. Sementara Sintia masih duduk menyenderkan kepala di tembok. Kedua matanya fokus menatap keluar jendela, seperti ada seseorang yang melakukan sesuatu di tengah taman yang gelap.