TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 105 MENYEMBUNYIKAN SEBUAH RENCANA.


Ratu Shima Saraswati menyunggingkan senyumnya. Ia melesat menghampiri Warsito, dan membujuknya untuk kembali menjadi bagian dari pemujaan sesat yang dilakukan kelompok itu. Tak ada jawaban yang diberikan Warsito. Ia hanya menundukkan kepala penuh penyesalan. Ia menyadari jika sebentar lagi hidup anaknya akan berubah berantakan. Meski ia tak akan dijadikan tumbal, tak akan merubah fakta jika kelak hidup Putri akan berubah total. Tak ada yang bisa dilakukan Warsito selain menyesali keadaan. Ia mengutuk dirinya sendiri, lalu bersimpuh di hadapan sang Ratu dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.


"Kau seharusnya senang. Dari gelar Mantri Keparak Tengen, kau akan naik gelar menjadi Kakek seorang penguasa. Kelak anakmu Putri akan melahirkan seorang pemuda yang akan menjadi pemimpin baru. Perpaduan keturunanmu dengan keluarga Hadiningrat sangat ditunggu, dan dinantikan oleh semua anggota. Bahkan Gito yang sedang bertapa di kaki Gunung Semeru juga melakukan ritual khusus, supaya calon penerus yang akan terlahir dari rahim anakmu layak menjadi penerus tahta kepemimpinan. Karena masalah yang terjadi di Panti Jompo sudah berakhir, tak akan ada yang mencurigai kelompok Mariyati lagi. Lantas bagaimana keputusan mu Warsito, apakah kau bersedia kembali?" Tanya sang Ratu.


Warsito diam membisu dengan menghembuskan nafas panjang. Lalu sang Ratu kembali berkata, jika ia akan memberikan waktu untuk nya. Supaya ia dapat berpikir jernih untuk mengambil keputusan.


"Kau tau, aku tak suka memaksakan kehendak. Karena itulah aku memberikan mu waktu, dan tentukan pilihanmu! Kau sudah tau bukan resiko apa yang akan kau terima, jika kali ini kau berniat meninggalkan ku lagi?" Pungkas Rati Shima Saraswati dengan membulatkan kedua mata.


Lagi-lagi Warsito hanya diam tak mengatakan sepatah katapun. Sampai akhirnya, jiwa nya pergi ke tempat nya semula. Sang Ratu pun meninggalkan tempat itu, tapi sebelumnya ia nampak berbicara serius dengan Mariyati dan Mbak Ijah. Tak berselang lama Nek Dijah pun menghadap di depan Ratu Shima Saraswati. Ia seperti meminta sesuatu, karena berulang kali ia bersimpuh dengan menyatukan kedua tangan.


"Baiklah! Lakukan saja apa yang menurut kalian baik. Tapi satu hal yang harus kalian tau. Keturunan dari Mantri Keparak Tengen harus menyatu dengan keturunan Hadiningrat. Setelah semua itu terjadi, kalian bisa melakukan rencana kalian sendiri." Ucap sang Ratu seraya duduk di atas kereta kencana nya.


Nampak Mariyati dan Mbak Ijah saling menatap dengan menyunggingkan senyumnya. Nek Dijah pun menganggukkan kepala pada keduanya.


"Melati, bawalah ibumu ke tempatnya. Biar dia beristirahat disana. Karena hanya tempat itu yang aman untuknya." Perintah Mariyati dengan suara datar.


Melati membawa Nek Dijah ke sebuah rumah kosong yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Dulunya tempat itu sering dipakai untuk ritual pemujaan ataupun persembahan. Namun semenjak Warsito bertaubat, tempat tersebut menjadi terbengkalai. Dan baru hari ini mulai dibersihkan.


"Apakah Ibu nyaman menempati tubuh gadis muda itu?" Tanya Mbak Ijah pada Mariyati.


"Apakah anda akan membalaskan dendam pada mereka? Bukankah jiwa para lansia itu sudah musnah. Karena mereka sendiri yang mengakhiri perjanjian yang dibuat?"


"Tidak! Bukan begitu ceritanya Jah! Karena malam itu Windu seharusnya menerima persembahan jiwa dari cicitnya. Tapi Sintia dan Riko membawa seorang gadis muda dengan energi besar. Dia datang bersama seorang ulama yang paham dengan agama. Mereka membinasakan semua lansia yang ku jaga selama ratusan tahun lamanya. Beruntung nya, Dijah saat itu melarikan diri, ketika beradu ilmu dengan Siti. Kini aku harus tetap menggunakan tubuh Dina untuk mengecoh mereka. Kita harus tetap mendapatkan persembahan jiwa, meski para lansia itu sudah binasa!"


"Lantas apa yang akan ibu lakukan?" Mbak Ijah semakin penasaran, dan mengajukan pertanyaan.


Terlihat Mariyati membisikkan sesuatu di telinga Mbak Ijah. Keduanya pun sama-sama menganggukkan kepala.


"Malam ini biarkan Restu melakukan penyatuan dengan Putri. Ingat, pesan Ratu Shima Saraswati. Kita harus membuat hubungan keduanya berhasil, untuk mendapatkan keturunan yang layak. Sementara waktu, kau harus mengawasi Mawardi. Bagaimanapun, kita tau jika dia tak suka kalau kedua adik tirinya bersatu. Karena sebelumnya, kita sudah terlanjur mengatakan padanya, jika dia lah yang akan menjadi penerus tahta."


"Apakah Mawardi akan melakukan perlawanan pada kita bu?"


"Itulah yang aku hawatirkan. Karena itulah kau harus memberi pengertian padanya. Mawardi akan mengerti jika kau yang menjelaskan padanya. Karena dari kecil, kau yang lebih dekat dengannya." Perintah Mariyati sebelum meninggalkan rumah kost itu.


Sebentar lagi fajar akan segera tiba. Adzan subuh akan berkumandang. Mariyati memilih bersembunyi di ruangan dengan pintu pewayangan. Ia tak suka mendengar suara adzan, karena seluruh tubuhnya akan terasa panas menjalar. Mariyati bersama Mbak Ijah dan Nek Dijah diam-diam telah merencanakan sesuatu. Mereka ingin memiliki penerus yang layak, dengan mengorbankan keturunan yang layak pula. Apa yang akan terjadi selanjutnya, tunggu di bab yang akan datang.