
Mariyati yang telah bersemayam di tubuh Dina, membuat strategi untuk mengecoh Sintia dan kedua temannya. Riko dan Widia kemungkinan masih bersama Sintia. Ia pun menggunakan ponsel Dina untuk menghubungi Sintia. Terdengar suara cemas dari seberang telepon sana. Membuat Mariyati menyeringai puas, karena berhasil memperdaya Sintia.
"Lu kemana aja sih Din? Apa benar ada yang sengaja bawa lu pergi dari Rumah Sakit? Sekarang jenazah bayi lu udah dibawa ke kampung halaman bokap lu. Katanya mau dikubur disana. Sekarang lu dimana Din? Nyokap lu hawatir banget dengan kondisi lu!" Ucap Sintia di seberang telepon.
"Sorry ya Sin, kemarin gue masih sangat shock. Gue tiba-tiba pengen nenangin diri, dan gue butuh waktu sendiri dulu. Tolong sampaikan ke keluarga gue, mereka gak perlu hawatir. Kalau gue udah siap mental, gue bakal balik dan belajar ke kampus seperti sebelumnya. Bagaimana kondisi Widia? Gue benar-benar menyesal, udah termakan hasutan Bu Mariyati dan ngehianatin kalian." Kata Dina dengan tersenyum dari sudut bibirnya.
Sintia mengaitkan kedua alis mata, ada sedikit kecurigaan di dalam hatinya. "Lu dimana sekarang Din? Gue denger dari Polisi kalau Bu Mariyati tiba-tiba menghilang dari Panti. Bukan lu kan Din yang bawa dia pergi?" Tanya Sintia.
Hening. Tak ada jawaban yang diucapkan Dina. Sampai akhirnya ia berbicara dengan nada tinggi. "Lu nuduh gue gitu maksudnya? Mana mungkin gue bisa ngelakuin hal kayak gitu Sin! Lu tau sendiri gue baru aja operasi caesar, gak mungkin gue bisa bawa wanita tua itu pergi dari Panti. Buat bisa pergi dari sana aja, gue udah susah payah banget! Kalau mau nuduh orang kira-kira dulu dong Sin!" Bentaknya dengan nada tinggi.
"Ya udah kalau emang bukan lu, sekarang gue tanya lu dimana? Gue gak akan minta lu pulang, kalau emang lu masih butuh waktu sendiri. Seenggaknya keluarga lu tau dimana lu berada!"
"Gue bakal balik secepatnya, kita ketemu di kampus aja. Urusan keluarga gue, biar gue sendiri yang atur. Sampaikan maaf gue ke Widia dan Riko, gue tutup dulu telepon nya." Dina mengakhiri panggilan telepon dengan mengepalkan kedua tangan.
Mbak Ijah mendekati Dina, bertanya dengan menaikan dagunya. "Apa yang akan ibu lakukan?"
"Tenang saja Jah. Aku akan menggunakan identitas Dina untuk mendekati Sintia dan teman-temannya. Disaat yang tepat aku akan mengambil jiwa mereka semua, sebagai penebusan dosa karena telah membinasakan para buyut mereka. Kau urus saja rencana awal mu, tapi jangan kau persembahkan dulu si Mukidi itu. Karena sepertinya Melati dan Harto akan memberikan persembahan untuk Ratu Shima Saraswati. Mereka ingin memberikan persembahan itu sebagai bentuk syukur karena Restu telah menikahi keturunan Mantri Keparak Tengen." Jelas Dina dibalas anggukkan kepala Mbak Ijah.
Pagi itu para penghuni kost mulai kembali ke tempat mereka. Putri berpas-pasan dengan Dina di depan gerbang. Ia menghentikan langkah dan mengaitkan kedua alis mata. Putri jelas mengingat sosok wanita muda yang baru saja ia lihat. Ia menyapa nya dan mengingat wanita tersebut, ketika ia akan berangkat ke Jakarta. Mereka bertemu di dalam bis, dan wanita itu menjatuhkan tas kecil miliknya.
"Ternyata kau yang bertemu dengan ku di dalam bis. Makasih ya udah nyimpen barang ku. Perkenalkan aku Dina, keponakan Bu Melati dan ini Nenek ku. Kami akan tinggal di paviliun depan." Jelasnya seraya menjabat tangan.
"Oh iya aku sedang buru-buru, tolong titipkan tas ku pada Mbak Ijah ya. Lain kali kita ngobrol lagi." Imbuh Dina seraya mendorong kursi roda ke seberang jalan.
"Gak kok. Cuma kebetulan pernah satu bis aja. Ya udah yuk masuk ke dalam. Aku agak gak enak badan nih, rasanya sakit semua." Keluh Putri dengan memegangi belakang lehernya.
"Tadi malam aku mimpi menikah dengan seseorang yang gak ku kenal. Aku juga mimpi melakukan hubungan suami istri dengan seseorang. Bahkan aku sempat melihat darah mengalir di betis, tapi setelah bangun tidur kayaknya gak terjadi apa-apa. Meski seluruh badan ku terasa sakit." Batin Putri di dalam hatinya.
Malam-malam berikutnya pun ia kembali bermimpi hal yang sama. Bahkan ia benar-benar melihat wujud dari lelaki yang berada di mimpi nya. Dia adalah Wirya, anak sulung dari pemilik kost nya. Beberapa kali juga Wirya sudah mengutarakan ketertarikan nya pada Putri. Membuat Putri tak nyaman dan canggung berada di dekatnya. Kini ia terduduk di tepo ranjang, dan mengingat mimpi-mimpi nya yang terus berlanjut bagaikan potongan episode sinetron. Ia melihat ayahnya menikahkan nya dengan seorang pemuda tampan, dan banyak tamu undangan yang terasa tak asing di ingatan nya.
Samar-samar ia mendengar suara mesin motor yang sangat familiar. Putri mengenali suara motor itu sebagai motor milik Mawardi. Karena motor itu adalah milik ayahnya dulu, dan turun menurun menjadi milik Mawardi. Ia bergegas keluar dari kamar dan mengintip dari jendela dapur. Tak ada siapapun diluar sana, ia justru melihat penampakan Sundel bolong di kebun kosong samping kost nya. Sontak saja Putri memundurkan langkah seraya menutupi wajahnya. Terasa sentuhan tangan yang memegang pundaknya.
"Mbak Putri lihat apa malam-malam begini?"
"Astaga Mbak Ijah ngagetin aja sih! Ta-tadi aku lihat ada Sundel bolong disana Mbak!" Putri menunjuk ke arah kebun kosong.
Mbak Ijah menepis tangan Putri. "Jangan nunjuk-nunjuk Mbak, kalau ada yang tersinggung gimana? Namanya kebun kosong pasti ada penunggu nya. Makanga kalau malam jangan lihat keluar sana. Memangnya Mbak Putri ada perlu apa ke dapur?" Tanya Mbak Ijah dengan suara datar.
"Aku mau ngambil minum kok Mbak. Dan tadi ada suara motor diluar, aku penasaran makanya lihat keluar. Eh malah ada penampakan menyeramkan!" Jawab Putri bergidik.
"Oh tadi ada kerabat Bu Melati yang baru saja pulang. Memang masih ada beberapa yang menginap, dan meninggalkan tempat ini tengah malam. Katanya jalanan lebih sepi dan gak macet. Saya tinggal dulu ya Mbak, mau istirahat sebelum subuh sudah harus bangun lagi." Mbak Ijah melangkah pergi meninggalkan Putri yang masih terpaku di dapur.
Putri melangkah ke dalam kamar. Ia melanjutkan tidurnya, dan melanjutkan mimpinya yang tertunda. Kali ini ia berhadapan langsung dengan Wirya, di dalam sebuah kamar keduanya melakukan penyatuan. Putri tak bisa mengelak setiap sentuhan pemuda itu. Karena di dalam mimpi, Wirya mengaku sebagai suaminya, dan mereka melakukan penyatuan selama beberapa kali. Meskipun semuanya terjadi di dalam mimpi, pada kenyataannya Putri benar-benar melakukan penyatuan dengan Wirya. Dan kelak ia akan benar-benar mengandung secara gaib. Hasil dari hubungan itu, akan menjadi awal penentu bagi masa depannya dan juga kedua orang tua nya kelak.