
Ternyata nek Dijah yang membuka pintu dari dalam. Ia menyeringai di depan Sintia, ia bergumam sendiri seperti sedang menertawakan Sintia. Bahkan Widia juga mendengar perkataan nek Dijah, yang mengolok-olok Sintia dan juga nek Siti.
"Udahlah Sin, hiraukan aja. Lu tau sendiri sifat nek Dijah, dia itu sebelas dua belas sama Dina. Kita masuk ke dalam yuk sekarang." Kata Widia dibalas anggukan kepala Sintia.
Sampai di dalam kamar itu, terlihat nek Siti berbaring lemah di atas tempat tidur. Para lansia yang tersisa kembali ke kamar mereka. Nek Windu meminta bantuan Widia untuk memapahnya ke kamar. Akhirnya yang tersisa hanya nek Siti dan Sintia saja. Raut wajah nek Siti berubah sumringah, saat melihat Sintia datang menjenguknya. Lansia itu menggenggam tangan Sintia dengan berlinang air mata.
"Syukurlah kau kembali Sintia. Nenek sangat mencemaskan mu. Mungkin memang lebih baik nenek gak perlu ikut campur, supaya kehidupan mu tak terancam bahaya. Entah harus bahagia atau sedih melihatmu berada disini, nenek jadi bingung Sin."
"Maksudnya gimana nek? Sintia gak pergi kemana-mana kok, tapi beberapa hari kemarin mungkin Sintia kurang sehat sama seperti nenek. Tapi mulai besok Sintia bakal jagain nenek lagi." Sintia mengecup punggung tangan nek Siti, membuat hati lansia itu semakin tersentuh.
Ia sudah pasrah, untuk memberikan petunjuk pada Sintia. Karena pada akhirnya Mariyati akan menggagalkan usahanya, dan membuat Sintia terjebak di alam lain sebelum waktunya tiba. Beruntungnya waktu itu nek Siti dengan wujud kuntilanak telah berhasil menemui Pak Kirun untuk meminta bantuan. Karena kalau tidak, mungkin saat ini Sintia tak akan bangun dari pingsan sampai waktu pengorbanan tiba.
"Seandainya semua ini tak perlu terjadi, kau tak perlu datang ke tempat ini untuk mengorbankan dirimu sendiri Sin."
"Apalah arti pengorbanan Sintia nek? Sintia hanya menjaga dan mengurus nenek, dan itu bukan tugas yang berat."
"Sudahlah Sin, nenek sudah pasrah meski apapun yang nenek lakukan belum menunjukkan keberhasilan. Tapi percayalah, kelak akan ada seseorang yang tulus membantumu. Hanya itu yang bisa nenek katakan, karena seseorang sudah memberikan petunjuk padaku."
"Apa sih maksudnya nek? Kenapa Sintia ngerasa ada sesuatu yang akan membahayakan, apa keberadaan Sintia disini ngebuat seseorang marah? Katakanlah nek, supaya Sintia tidak bertanya-tanya lagi."
"Tidak ada apa-apa Sin, jalanilah hidupmu seperti biasanya. Biarlah waktu yang akan menjawab setiap pertanyaan mu itu. Sekarang kembalilah ke kamar, nenek mau istirahat dulu."
Sintia berjalan gontai seraya memijat pangkal hidungnya. Ia menoleh ke segala arah, nampak suasana malam itu sangat sunyi. Ia masuk ke dalam kamar, hanya ada Dina yang masih duduk bersender. Terlihat raut wajah Dina sumringah, ia merasa di atas angin karena bisa membuat Riko bertekuk lutut padanya.
Sintia berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sesekali ia mendongakkan kepala melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas lebih sepuluh menit. Namun tak ada tanda-tanda kedatangan Widia. Dina yang kesal melihat Sintia berlalu lalang di depannya akhirnya murka. Ia membentak Sintia, dan memintanya untuk diam di tempat tidurnya.
Sementara itu, Widia yang baru saja meninggalkan nek Windu di kamarnya berjalan melewati lorong gelap. Samar-samar ia mendengarkan percakapan beberapa orang. Mereka membicarakan ulang nek Windu yang tak lama lagi. Dan mereka juga membahas pengorbanan jiwa demi kelangsungan hidup lansia itu. Ia mendengar namanya disebut sebagai tumbal untuk nek Windu. Sontak saja Widia terkejut dengan membulatkan kedua mata. Ia berjalan mundur dengan menutupi mulutnya yang menganga. Pemilik suara yang sedang membicarakan nya mengatakan, jika tak lama lagi hidupnya akan berakhir di tangan nenek buyutnya sendiri.
"Nenek buyut? Siapa yang mereka maksud?" Batinnya bertanya-tanya.
Widia mencoba merapatkan telinganya di pintu. Ia mendengarkan berbagai hal yang membuatnya semakin terkejut dan tak percaya. Ternyata kakek Bimo, Dodit, dan nenek Dijah sedang membahas semua cicit mereka. Yang namanya sama persis dengan teman-teman nya. Widia bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah semua yang ia dengar adalah kebetulan atau fakta yang sebenarnya. Apalagi ketiga lansia itu mengatakan jika dirinya akan menjadi tumbal untuk nenek buyutnya. Tanpa Widia sadari, waktu berjalan dengan cepat. Setelah pukul dua belas malam, wujud para lansia itu akan berubah menjadi sosok hantu. Sementara ia yang tak mengetahui apapun, berusaha mengintip dari lobang pintu. Namun apa yang dilihatnya tak sesuai dengan ekspektasinya. Widia justru melihat tiga sosok hantu yang saling berhadapan. Seketika ia terjatuh ke lantai, matanya membulat sempurna dengan seluruh tubuh yang bergetar. Ia sangat yakin jika mendengar suara para lansia di dalam ruangan itu, tapi setelah ia mengintip ke dalam yang dilihatnya adalah sosok-sosok menyeramkan.
Bruuugh.
Widia terjatuh, dan para hantu lansia itu menyadari kehadirannya. Ketiga hantu itu menembus pintu kayu, dan berdiri mengambang di depan nya. Widia menangis menahan rasa takut yang luar biasa. Ia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Suara jeritan Widia terdengar sampai ruangan Mariyati, dan membuatnya keluar untuk melihat situasi. Dan ia pun tercengang melihat ketiga hantu lansia sedang mengelilingi tubuh Widia.
"Apa yang kau lakukan disini Widia? Sekarang sudah tengah malam, tapi kau masih berkeliaran disini!" Bentak Mariyati seraya berkacak pinggang.
Widia menghela nafas panjang, merasa lega karena ada bantuan yang datang. Ia berlari menghampiri Mariyati, lalu bersembunyi di belakang tubuhnya. Ia memohon supaya menyelamatkannya dari para hantu lansia itu.
"Tolong saya... Mereka semua ternyata adalah para orang tua yang kita rawat di Panti ini. Ternyata mereka sudah meninggal dunia, dan menyamar menjadi manusia. Selama ini kita sudah tertipu!" Seru Widia dengan menangis histeris.
"Pelankan suaramu Widia! Tenanglah, sekarang kau sudah aman. Pergilah ke dalam ruangan saya, biar saya yang mengurus semuanya. Saya tidak menyangka jika ada hantu di dunia ini." Kata Mariyati tersenyum melalui sudut bibirnya.
Widia menuruti perkataan Mariyati, ia bergegas masuk ke dalam ruangan. Ia menyangka jika Mariyati sama seperti dirinya yang tak tau apa-apa. Kini Mariyati tengah berdiri di hadapan para hantu lansia. Ia menegur ketiganya karena terlalu ceroboh, hingga membuat jati dirinya terungkap di depan Widia. Nampak ketiga hantu itu ketakutan melihat amarah Mariyati, mereka tak tau jika percakapannya tadi didengar oleh Widia. Dan tepat tengah malam, wujud asli mereka langsung berubah. Mereka pun juga tak menyangka jika ada orang lain yang berdiri mengintip, dan melihat wujud asli mereka. Kini entah apa yang akan dihadapi Widia. Mungkinkah Mariyati akan membiarkan Widia begitu saja, meskipun ia telah melihat wujud asli ketiga lansia.