
Dina masuk ke dalam ruangan Mariyati, ia melihat ke ujung ruangan. Hanya ada tali yang berserakan di lantai. Widia tak ada disana, membuat Dina panik dan memikirkan sebuah cara. Ia yakin jika Widia tak tau mengenai dirinya yang membelot dan berada di pihak Mariyati. Otaknya benar-benar licik. Dina tau jika Widia pasti masih ada di sekitar ruangan itu. Hanya saja ia bersembunyi, karena mengira jika yang datang adalah Mariyati.
"Wiid... Ini gue Dina... Lu dimana? Kita harus segera pergi dari Panti terkutuk ini. Gue udah nyari lu kemana-mana, dan gue udah tau kalau lu dikurung disini. Gue cuma nyari waktu yang tepat supaya dapat menerobos masuk ke ruangan ini. Karena kalau gue gegabah, yang ada gue bakal ditangkap sama seperti lu! Ayo Wid... Keluarlah! Kita harus segera pergi dari sini!" Ucap Dina untuk mengecoh Widia.
Nampaknya rayuan Dina berhasil meluluhkan hati Widia. Ia terlihat keluar dari ruangan sebelah, dengan berjalan agak berjinjit. Rambutnya terurai kusut berantakan, dengan air mata yang sudah mengering menyisakan bekas di wajahnya. Widia menghambur ke pelukan Dina dengan menangis sesegukan.
"Ayo Dina... Kita harus cepetan keluar dari tempat ini. Gue merasa ada kehidupan lain disini, seakan gue yang akan jadi mangsa mereka. Gue udah lama disekap disini, kenapa lu baru temuin gue sih Din! Dari tadi gue udah berusaha ketuk-ketuk pintu sebelah, kali aja lu denger suaranya. Dan syukurlah lu benaran temuin gue. Cepet Din, kita harus pergi sebelum ada yang menemukan kita!" Widia bergelayut di lengan Dina dengan raut wajah ketakutan.
"Lepasin tangan gue Wid! Kita harus menjemput Sintia dulu... Apa lu tega ninggalin dia disini?" Kata Dina memainkan sandiwaranya.
Widia menghembuskan nafas panjang, lalu menarik tangan Dina keluar dari ruangan itu.
"Ayo kita ke kamar, pasti Sintia gak tau kalau gue masih ada disini! Jangan-jangan teman satu kelompok kita semuanya dijadikan tumbal di Panti Jompo ini?" Celetuk Widia dengan menelan ludah kasar.
"Ssstt... Pelanin suara lu bahaya tauk! Saat ini Sintia ada di ruangan itu, dia diminta membersihkan ruangan ritual karena besok pagi mbah Gito akan datang." Jelas Dina untuk menggiring Widia masuk ke dalam jebakan.
Dina hanya menganggukkan kepala seraya menggandeng tangan Widia. Sebenarnya ia malas harus bersandiwara begitu, namun ia tak memiliki pilihan lain.
Dari kejauhan, samar-samar Sintia melihat Dina dan Widia berjalan dengan bergandengan tangan. Sintia yang mengintip dari balik jendela kamar mengucek mata. Ia yakin tak salah lihat, lantas siapa yang ada dibalik selimut itu. Sintia membalikkan badan. Ia melihat selimut yang ada di ranjang Dina tiba-tiba tersibak. Ada pergelangan tangan yang putih pucat dan keriput keluar dari balik selimut. Sintia memundurkan langkah dengan menelan ludah kasar. Detak jantungnya terpompa cepat, bahkan keringat dingin sudah membanjiri wajahnya. Sosok wanita mengenakan dress putih panjang dengan noda darah menghitam tiba-tiba saja melayang ke atas udara. Ia menyeringai seraya menempelkan tubuh hampanya ke tembok. Terpampang jelas punggung berlubang, dengan belatung yang berjatuhan ke lantai.
"Aaarrgghh..." Sintia menjerit, lalu berlari kencang meninggalkan kamarnya.
Ia berniat mengejar kedua temannya, namun keduanya sudah terlebih dulu masuk ke ruang ritual yang biasa digunakan mbah Gito. Teror tak berhenti sampai disitu saja. Tiba-tiba sosok sundel bolong tadi melayang persis di depan Sintia. Matanya melotot seakan sosok gaib itu akan menelan nya. Tangan keriputnya di arahkan ke belakang, ia merogoh segenggam belatung dari punggung nya yang berlubang. Belatung-belatung itu disiramkan ke kepala Sintia. Membuat gadis itu bermandikan aroma busuk sekaligus anyir darah. Lidahnya seakan kelu, ia kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri. Sehingga Sintia jatuh lemas, dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia menangis tanpa suara, dan berdoa di dalam hatinya supaya ada yang menolongnya. Tak berselang lama sesosok kuntilanak terbang melesat mencengkeram leher sundel bolong itu. Kini keduanya sedang beradu kekuatan di halaman kebun. Sintia berusaha mengumpulkan tenaga, untuk menghampiri kedua temannya. Ia membersihkan cairan lengket yang berasal dari lubang sundel bolong tadi. Cairan busuk yang menempel di wajahnya, membuat Sintia mengeluarkan isi perutnya. Dan ia terkejut dengan apa yang baru saja ia muntahkan. Nampak beberapa bunga tujuh rupa yang keluar dari mulutnya. Dan ia merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. Sintia merogohkan jarinya ke dalam mulutnya, ia menemukan sesuatu yang tertahan di kerongkongan nya. Ia menariknya keluar, nampak gumpalan rambut putih panjang terganjal di kerongkongan nya. Rambut putih panjang itu terlihat mirip dengan rambut kedua hantu yang ada di depan nya. Sintia merasa dejavu melihat adegan keributan antara kedua sosok hantu itu. Sintia membuang gumpalan rambut yang sudah seluruhnya keluar dari tenggorokannya. Ia terbatuk dengan memuntahkan seteguk darah segar. Setelah itu secara tiba-tiba Sintia dapat mengingat kembali setiap kejadian yang pernah ia lupakan sebelumnya.
"Nenek buyuuut..." Ucap Sintia dengan mata berkaca-kaca.
"Cepat gali gundukan tanah yang terlihat masih basah itu Sintia. Ambil bungkusan kain kafan yang ada di dalamnya. Lalu bakar hingga menjadi abu, supaya kau dapat terbebas dari perjanjian terkutuk ini!" Seru sosok kuntilanak nek Siti.
Mendengar ucapan nenek buyutnya, Sintia langsung bangkit berdiri. Ia melihat ke segala arah mencari gundukan tanah yang dimaksud. Namun fokusnya tiba-tiba teralihkan, begitu mendengar suara jeritan Widia.