
Sintia dan Widia mengintip dari balik jendela. Keduanya penasaran, apa yang sedang dibicarakan Pak Kirun bersama Mariyati dan Mbah Gito. Karena Sintia merasa ada sedikit ketegangan di antara mereka semua. Namun sepertinya Mariyati menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan nya. Ia menoleh ke belakang, lalu melihat ke arah jendela. Sontak saja Sintia menarik tangan Widia menjauh dari jendela. Ia bersembunyi dibalik tembok. Widia bertanya dengan gestur tubuh, namun Sintia hanya diam seraya meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Entah apa yang dibicarakan Mariyati bersama Pak Kirun dan Mbah Gito. Karena setelah itu Sintia memilih kembali ke teras belakang.
"Sin, ikut nenek ke kamar sebentar ya." Ucap nek Siti seraya bangkit dari kursi goyang.
"Ada apa nek?" Sintia mengaitkan kedua alis mata penuh tanya.
"Nenek mau menunjukkan sesuatu, mungkin suatu saat itu bisa berguna untuk mu."
Meski tak paham dengan maksud nek Siti, Sintia tetap mengikuti kata hatinya untuk percaya dengan setiap ucapan lansia itu. Ia sudah sampai di dalam kamar nek Siti, ia diminta duduk di atas tempat tidur. Tangan nek Siti merogoh ke dalam seprei kasurnya, ia mengambil kalung emas dengan liontin hati.
"Ini ambilah, simpan baik-baik. Anggap saja ini sebagai pemberian leluhurmu sendiri, karena hanya ini yang bisa nenek berikan untukmu."
"Tapi nek, kalung ini sepertinya sangat mahal. Sintia gak bisa menerimanya, lebih baik nenek simpan saja."
"Jangan menolaknya Sintia, jangan buat nenek sedih dan kecewa. Kau anak yang baik, tidak seharusnya kau terjebak di tempat seperti ini. Nenek merasa bersalah padamu, jadi nenek minta simpanlah kalung itu."
Nek Siti sengaja memberikan barang berharga peninggalan keluarganya. Dan kalung itu sebenarnya turun temurun, hanya ada dua pasang kalung yang jika disatukan akan membentuk sepasang hati kembar. Satu kalung lainnya entah berada dimana, karena itulah nek Siti sengaja memberikan kalung itu supaya kelak dapat memberi petunjuk untuk Sintia.
"Waktumu masih cukup panjang dari yang lainnya Sin, nenek masih memikirkan sebuah cara untukmu."
"Cara untuk apa nek?"
Nek Siti mengembangkan senyumnya, ia meminta Sintia untuk mengenakan kalung pemberiannya. Sementara itu Sintia masih bertanya-tanya di dalam hati, kenapa nek Siti selalu penuh misteri. Disetiap perkataannya seakan menyiratkan sesuatu yang ia tak ketahui.
Karena sebentar lagi sudah memasuki jam dua belas siang, Sintia pergi meninggalkan kamar nek Siti. Ia berjalan gontai ke dapur, kalung yang sudah melingkar di lehernya tiba-tiba terjatuh dan terbuka liontin nya. Nampak foto seorang lelaki muda di kertas foto hitam putih. Sintia berjongkok untuk memungut kalung itu, ia memperhatikan dengan seksama.
"Kok kayaknya gue pernah lihat orang ini, tapi dimana ya?" Gumam Sintia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Lu lagi lihat apa Sin?" Tanya Widia seraya menghampiri Sintia.
"Mungkin itu sebagai bentuk terima kasihnya, karena lu udah bantu ngerawat nek Siti."
Whuuusd.
Tiba-tiba hawa dingin melewati tubuh mereka. Sintia dan Widia sama-sama mengusap belakang lehernya.
"Ini nih yang gak gue suka di tempat ini, pasti ada yang gak beres deh. Gue ngerasa merinding tau gak!" Pungkas Widia dengan bergidik.
"Sssst... Diem aja Wid, di belakang lu ada kuntilanak yang lihatin kita."
"Masak sih? Lu jangan ngadi-ngadi deh Sin, ini masih siang hari bolong tauk!"
"Ya udah terserah lu kalau gak percaya, noleh aja ke belakang!"
Meski agak ragu, namun Widia memberanikan diri menoleh ke belakang. Dan benar saja, sesosok kuntilanak dengan rambut putih yang menjuntai ke tanah, sedang melotot melihat ke arahnya. Tubuhnya yang pucat dengan bagian mata yang menghitam, tengah melotot melihatnya. Seketika Widia berlari tunggang langgang, meninggalkan Sintia yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia melangkahkan kakinya mendekati kuntilanak itu. Kali ini Sintia benar-benar membulatkan tekad, untuk lebih berani berhadapan dengan para makhluk gaib yang secara sengaja mendatangi nya. Ia berjalan setengah mengendap, tangannya berusaha menyentuh sosok astral yang ada di depannya.
Whuuuuss.
Kuntilanak itu melesat menabrak tubuh Sintia. Seketika ia jatuh ke lantai, dan kepalanya terbentur tembok. Ia tak sadarkan diri, dan mendapat penglihatan gaib. Seorang lelaki muda yang tak asing di ingatan nya sedang menunggu seorang perempuan. Mereka bersama-sama pergi ke sebuah tempat, banyak orang yang datang kesana. Lelaki itu memberikan minuman yang membuat si perempuan tak sadarkan diri, dan akhirnya si lelaki memanfaatkan keadaan untuk mengambil kesucian gadis muda itu. Karena kesalahan satu malam itu, akhirnya masa depan perempuan itu harus berakhir sia-sia. Ia terpaksa menikahi lelaki yang merenggut kehormatan nya itu. Namun kehidupan pernikahan mereka tak berlangsung bahagia. Si perempuan masih mencintai pemuda yang menjadi cinta pertamanya. Sintia begitu terkejut melihat wajah si perempuan yang sangat mirip dengannya. Ia merasa jika mimpi yang berturut-turut itu bukanlah sembarang mimpi. Namun sebuah petunjuk yang sengaja diberikan untuknya. Dan di dalam mimpi nya, Sintia melihat sosok kuntilanak itu menangis dengan air mata darah. Ia mencoba berkomunikasi untuk menanyakan tujuannya memberikan penglihatan. Tak ada apapun yang dikatakan sosok gaib itu, ia melesat mendekat padanya, lalu mengusap lembut wajahnya.
"Maafkan nenek buyut mu ini Sintia... Nenek pasti akan membebaskan mu dari perjanjian terkutuk ini." Ucap kuntilanak yang ada di depannya.
Sintia membulatkan kedua mata, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menepis tangan hampa sosok astral itu, dan berniat mengusirnya dengan bacaan ayat-ayat suci. Namun sosok itu mengatakan sesuatu yang membuatnya mengurungkan niatnya.
"Apapun yang terjadi di masa lalu, kau tetaplah darah dagingku. Dengan menghilangnya keturunan-keturunan ku yang lainnya, tak mengurungkan niatku untuk membalaskan dendam. Namun setelah bertemu dan mengenalmu, aku menjadi ragu untuk melanjutkan niatku. Kau anak yang baik Sintia, pergilah dari tempat terkutuk ini. Tempat mu bukan disini." Jelas kuntilanak itu dengan berlinang air mata darah.
Sintia hanya terdiam mendengar kata-kata yang terlontar dari sosok gaib itu. Ia terbawa suasana haru, apalagi melihat kuntilanak itu seakan tulus mengucapkan kata-kata nya. Tanpa sadar tangan Sintia berusaha menyentuh wajah sembap kuntilanak itu. Namun tiba-tiba ada sosok lain yang mendorong tubuhnya hingga terjungkal. Sosok perempuan tua dengan wajah kisut melotot melihatnya. Ia terlihat komat-kamit membaca sesuatu, yang membuat sang kuntilanak berteriak histeris karena kesakitan. Nampaknya perempuan tua itu adalah pemilik sosok gaib yang sedari tadi berkomunikasi dengan Sintia. Karena merasa terancam setelah kehadiran perempuan tua itu. Sintia berlari tak tentu arah. Ia berharap jika mimpi itu akan segera berakhir, dan ia dapat kembali ke dunia nyata.