TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 69 KEADAAN PANTI KACAU!


Seperti biasanya, siang itu setelah makan siang para lansia langsung istirahat di kamar mereka masing-masing. Widia tak mau membuang waktu, ia cepat-cepat memberitahu Dina mengenai kecurigaan nya tentang Panti Jompo tersebut. Berbagai hal klenik yang masyarakat sekitar sangkut pautkan mengenai Panti Jompo itu. Namun raut wajah Dina terlihat biasa saja, dan terkesan tak perduli sama sekali. Seketika Widia merasa ada yang aneh dengan temannya tersebut.


"Lu mau percaya atau gak? Kalau emang gak percaya ya udah, gue gak akan lanjutin ceritanya. Dan lu gak usah dengar rencana kita!" Pungkas Widia menyipitkan kedua mata.


"Apa sih Wid, dari tadi kan gue dengerin lu cerita! Lu ngomong tinggal ngomong aja kek, gue percaya kok sama cerita lu!"


Dina meminta Widia melanjutkan pembicaraan, ia hanya diam mendengarkan berbagai ucapan temannya itu. Sesekali Dina melihat ke segala arah, ia memperingatkan Widia untuk memelankan suaranya.


"Oke, sekarang gue udah tau semuanya dari lu. Jadi apa kesimpulan yang lu sama Riko ambil? Apa lu bakal nyari bukti buat membenarkan dugaan lu itu?" Tanya Dina dengan sorot mata tajam.


"Gue sih tergantung Riko, soalnya dia belum ngomong apa-apa. Gue diminta ngasih tau lu lebih dulu. Jadi setelah nanti terbukti kecurigaan kita, lu bakal tetap mau pergi bareng kan Din? Gak mungkin kan hanya buat dapetin nilai bagus buat kampus lu rela ngorbanin nyawa lu di tempat kayak gini! Gue udah parno balik ke tempat ini. Takutnya tiba-tiba tempat ini berubah menjadi tempat lain. Kayak yang di film-film itu loh Din!"


"Halah korban film lu Wid! Jangan asal percaya sama omongan orang gitu aja. Kita tinggal disini gak sehari dua hari, emang pernah kita mendapat perlakuan gak baik dari bu Maryati? Malahan semua kebutuhan kita dicukupi!" Ucap Dina dengan menggelengkan kepala.


"Masalahnya bukan itu Dinaaa! Gue gak bahas baik enggaknya ibu pengelola Panti. Tapi ada yang aneh dan janggal dengan tempat ini! Lu inget gak sih, jumlah mahasiswa sekelompok kita itu totalnya ada enam orang. Dan kemungkinan mereka memang pernah ada disini. Lu tau gak gue dapet kabar, kalau ada mahasiswa dari kota yang hilang. Dan orang itu adalah Beny teman kita Din! Terus nih ya, penjual di pasar juga mengenal Sintia. Padahal kita semua disini gak ada yang pernah tau kalau Sintia ikut program pkl ini. Agak aneh gak sih menurut lu. Makanya gue sama Riko, ntar malam mau nyari tau sesuatu!" Kata Widia seraya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Stop! Jangan muter-muter di depan gue bisa gak! Bikin pala puyeng aja sih!" Dina menarik lengan Widia, ia pun menghentikan langkah tepat di depan Dina.


Dina meyakinkan Widia, jika mereka tak perlu melakukan apapun yang akan merugikan diri mereka sendiri. Dengan iming-iming nilai bagus, Dina membujuk Widia untuk tetap melanjutkan pkl di Panti sampai selesai. Terjadi pergolakan batin di diri Widia. Ia kebingungan menentukan sikap, apalagi mengingat nilai akademis nya yang dibawah rata-rata.


"Udah lu percaya aja sama gue, biar gue yang cari tau. Ntar gue ngomong sendiri ke Riko, kalau emang kalian berdua mencurigai sesuatu!" Bujuk Dina sekali lagi.


Widia hanya diam dengan mengaitkan kedua alis mata. Ia terlihat memikirkan sesuatu, seakan Widia tau jika Dina yang dikenalnya sudah berubah. Karena menurutnya, Dina adalah orang yang tak mudah percaya pada orang lain. Namun ia seakan mempercayai pengelola Panti yang belum lama mereka kenal.


Sore itu, mereka makan malam bersama dengan para lansia. Mariyati dan mbah Gito tak nampak hadir. Bahkan Dina tergesa-gesa menghabiskan makanannya, dan meminta ijin untuk istirahat sebentar di kamar.


"Perut gue agak gak enak nih, tolong ya kalian berdua urusin semuanya dulu. Gue nanti pasti bantuin lagi, kalau udah agak mendingan." Jelas Dina berjalan meninggalkan meja makan.


Riko agak cemas melihat Dina, ia berniat memapah perempuan itu ke kamar. Namun Dina langsung menolaknya. Seketika Widia semakin bertanya-tanya, tak seperti Dina yang biasanya. Ia tak pernah menolak setiap bantuan yang Riko berikan.


"Ko, biar gue aja yang anterin Dina. Lu jaga para orang tua sebentar ya!" Cetus Widia bicara setengah berbisik.


Nampak Widia diam-diam berjalan di belakang Dina. Setelah sampai ujung lorong panjang, Dina tak berbelok ke arah kamarnya. Ia justru berbalik arah ke ruang ritual. Perlahan Widia berjalan mengikuti Dina, ia bersembunyi di balik tembok ketika Dina membalikkan tubuhnya melihat ke belakang. Tingkah aneh Dina, semakin menguatkan kecurigaan Widia. Jika terjadi sesuatu yang membuat Dina berubah. Samar-samar ia mendengar suara orang-orang yang tak asing di telinganya. Itu adalah suara Dina, Mariyati dan juga mbah Gito. Mereka sedang membahas dirinya dan juga Riko.


"Kau tenang saja Dina, setelah bayi yang kau lahirkan itu keluar. Aku akan memberikan apa yang sudah ku janjikan. Tak hanya cinta seorang pemuda seperti Riko saja. Cinta para lelaki yang lebih tampan dan mapan pasti bisa kau miliki. Hanya dengan menyerahkan bayi yang kau kandung sekarang, kau akan mendapatkan segalanya. Kau tak perlu terprovokasi dengan ucapan kedua temanmu itu. Mereka tak sebanding denganmu, terutama Widia yang jalan hidupnya tak akan lama!" Pungkas Mariyati dengan suara datar.


"Aku yang akan menjamin keselamatan mu sampai bayi itu lahir. Jadi kau tak usah cemas dengan desas-desus yang beredar diluar Panti. Semua itu hanya akan terjadi pada orang-orang yang tak patuh seperti teman-temanmu yang lainnya!" Cetus mbah Gito.


Hanya terdengar suara tawa Dina saja. Ia pun setuju dengan keduanya, ia hanya berpura-pura berada di pihak Widia dan Riko. Padahal ia sudah menentukan jalannya sendiri, ia tak mau mengikuti saran dari kedua temannya. Sementara diluar sana, Widia sedang menerka-nerka maksud ucapan Mariyati, yang mengatakan jika jalan hidupnya tak akan lama.


"Jangan-jangan mereka mau melakukan sesuatu ke gue? Pokoknya gue harus pergi dari sini, meski tanpa Riko ataupun Dina. Gue masih mau hidup, gimanapun caranya gue harus pergi dari tempat ini sekarang juga!" Batin Widia di dalam hatinya.


Karena terlalu takut, Widia sampai melupakan Riko yang berada di pihaknya. Ia diam-diam mencari jalan keluar dari Panti itu. Padahal sebentar lagi sudah hampir memasuki waktu magrib. Riko kebingungan mengurusi para lansia itu seorang diri. Ia memutuskan menghampiri kedua teman wanita nya, yang ia pikir ada di dalam kamar. Namun begitu sampai kamar, Riko tak menemukan siapapun disana. Baik Dina ataupun Widia tak berada di dalam kamar. Nampak raut wajah Riko berubah semakin cemas. Beberapa lansia itu memilih kembali ke kamar mereka sendiri. Hanya nek Siti yang masih termenung di depan jendela taman belakang. Ia memegangi syal yang belum selesai dirajut. Terlihat kedua matanya berkaca-kaca, sampai sesuatu diluar dugaan terjadi. Nek Siti yang dilanda rindu dan kalut pada cicitnya, tak menyadari jika adzan magrib sudah berkumandang. Wujud aslinya pun berubah, sebelum ia sempat kembali ke kamarnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kemungkinan jati dirinya akan diketahui oleh Riko yang sedang berjalan ke arah taman belakang.