TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 35 HASIL AKHIR PERSEMBAHAN.


Mariyati tetap angkuh dan berpegangan dengan komitmen nya, ia tak mau terpengaruh hasutan kangmas nya. Mereka saling beradu ilmu, dan sama-sama terlihat tangguh. Nampak jiwa tanpa raga Doni semakin ketakutan. Ia tak tau harus berbuat apa, melihat kenyataan yang ada di depan matanya. Sampai akhirnya Mbah Gito dagang, mengurung jiwa nya ke dalam botol kayu yang bertuliskan mantra jawa kuno diluarnya. Barulah setelah itu Mbah Gito membantu Mariyati untuk mengalahkan kangmas nya.


"Lanjutkan saja urusanmu, aku yang akan menghadapi laki-laki bodoh ini. Kita tak memiliki waktu lebih banyak lagi, sebentar lagi sudah hampir subuh. Para anak muda itu akan segera bangun dari tidurnya!" Seru Mbah Gito pada Mariyati.


Mariyati mundur, ia berniat melanjutkan kegiatannya, namun kangmasnya berusaha menghalangi nya. Tentu saja Mbah Gito tak tinggal diam, ia menggiring laki-laki itu keluar dari ruang ritual. Ia memanfaatkan situasi untuk membuat musuhnya pergi dari sana. Mbah Gito berusaha mencelakai Riko yang ada di kamar seorang diri. Tentu saja laki-laki itu langsung mengejar Mbah Gito. Terjadi perkelahian gaib diluar sana. Suar cahaya putih dan hitam saling bertabrakan, mereka sedang beradu kesaktian di alam antah berantah.


Sementara itu Mariyati sudah selesai mengambil organ dalam Doni. Ia meletakkan hati dan jantung yang masih sedikit berdenyut ke atas daun pisang. Ia duduk bersila dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Terlihat mulutnya komat-kamit membaca rapalan mantra. Tiba-tiba wujudnya berubah menjadi seorang nenek tua, bahkan lebih tua daripada lansia yang ada disana. Tangannya yang bergetar mengambil hati dan jantung yang ada di depannya. Ia langsung melahap organ dalam itu tanpa jeda. Kedua tangan nya berlumuran darah yang menetes dari organ yang dimakannya. Dan secara ajaiib, begitu ia melahap habis hati dan jantung itu, Mariyati terlihat jauh lebih muda dari sebelumnya. Kulitnya yang kendur berubah menjadi kencang, dan tak ada lagi kerutan di wajahnya. Yang semula ia terlihat berusia empat puluhan, mungkin sekarang lebih nampak seperti gadis berusia dua puluh lima tahunan. Tentu saja inilah yang diharapkan Mariyati, dan entah bagaimana tanggapan para mahasiswa itu nantinya.


Mariyati tak mau menunggu Mbah Gito menyelesaikan perkelahian nya dengan kangmasnya. Akhirnya ia sendiri yang menguburkan jasad Doni ke lubang yang sudah disiapkan. Setelah selesai menguburkan jasad Doni, ia menuju kamar para mahasiswa itu. Ia memberikan sihir pada ke empat nya, supaya mengingat Mariyati dengan wujud yang sekarang.


"Setelah kalian bangun, kalian hanya akan mengingat wujud dan jati diriku yang sekarang. Dan kalian juga akan melupakan semua kejadian yang sebelumnya pernah terjadi disini. Hanya yang saya katakan saja, yang menurut kalian adalah benar. Abaikan apapun yang kalian tau ataupun dengar, bekerjalah di Panti ini sampai waktu yang sudah saya tentukan. Apa kalian paham?" Ucap Mariyati pada ketiga gadis muda yang tak sadar dengan apa yang terjadi saat itu.


Mariyati juga melakukan hal yang sama pada Riko. Sehingga ia tak akan kerepotan lagi, untuk menyesuaikan diri dengan wujud barunya yang lebih muda. Karena di hadapan para mahasiswa itu, ia tetaplah Mariyati sang pengelola Panti Jompo Muara Hati.


Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh, satu persatu mahasiswa itu terbangun dari tidurnya. Dan peperangan gaib antara Mbah Gito dan saudara dari Mariyati selesai. Hasilnya keduanya sama-sama tangguh dan tak bisa dikalahkan.


"Kenapa kau tak mendatangi ku ke alam lain setelah urusan mu selesai? Apa kau sengaja tak ingin berhadapan lagi dengan kangmas mu?" Tanya Mbah Gito dengan nafas yang berderu kencang.


"Urusan ku masih banyak disini, kenapa kau mempermasalahkan hal sepele seperti itu? Bukankah kau tak terkalahkan olehnya?" Jawab Mariyati dengan pertanyaan.


"Tentu saja, namun aku juga tak bisa mengalahkan nya. Jika kita berdua bersama-sama menyerangnya, Kirun pasti sudah kalah sejak lama. Tapi aku tau, kau tak ingin kangmas mu itu terluka. Karena itulah kau selalu mengulur waktu dengan berbagai alasan."


"Sudah cukup! Hentikan ucapanmu itu, jangan pernah kau mencampuri urusan pribadi ku. Kita hanya sepakat untuk bekerja sama, tidak lebih dari itu!"


Terjadi sedikit perselisihan di antara keduanya, namun mereka memilih menghentikan nya. Karena setelah ini Mbah Gito harus melakukan ritual kembali, untuk menyempurnakan ritual yang sebelumnya. Entah apa yang dilakukan Mbah Gito di dalam sana, karena setelah kakek Dodit keluar dari ruangan itu. Tubuh tuanya terlihat lebih sehat dan segar, sama seperti kakek Bimo waktu itu. Mariyati sudah menunggu diluar, ia berdiri tegap dengan tubuh semampai dan rambut hitam yang diikat kuda. Mariyati terlihat jauh lebih muda dengan penampilan yang sekarang. Mungkin jika ia mendapatkan semuan organ dalam para mahasiswa itu, Mariyati akan merasakan usia muda selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Dengan begitu ia bersama para lansia itu akan tetap selalu bersama dalam waktu yang cukup lama.


"Selamat pagi bu." Sapa Riko seraya membawa handuk di tangannya.


Riko mengembangkan senyumnya, ketika melihat wajah ayu Mariyati. Ia bahkan sangat terkejut begitu melihat kakek Dodit, yang baru saja keluar ruangan bersama Mbah Gito.


"Wah selamat ya kek, Riko gak nyangka kakek Dodit ternyata lebih gagah kalau sehat seperti ini." Ucap Riko seraya menjabat tangan, dan dibalas senyuman oleh kakek Dodit.


"Kalian semua harus merayakan nya bersama denganku."


"Wah maaf kek, tapi Riko gak suka ayam hitam. Jadi gak bisa ikut makan."


"Siapa bilang ayam hitam itu untukmu? Sebagai hidangan pembuka, semalam aku sudah menikmatinya seorang diri." Pungkas kakek Dodit berkacak pinggang.


Tak lama setelah itu, Riko pergi untuk membersihkan kamar mandi. Di dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa perempuan muda seperti Mariyati mau bekerja di Panti Jompo itu. Padahal menurutku, Mariyati memiliki paras cantik dan tentu saja ia bisa memilih pekerjaan yang lain. Riko tak pernah tau seperti apa wujud asli Mariyati, karena itulah ia beranggapan seperti itu.


"Door!"


"Ngangetin aja sih Wid!" Kata Riko dengan menghela nafas panjang.


"Lagian lu ngapain ngelamun di kamar mandi? Ntar kesambet loh!"


"Gue heran aja Wid, sama bu Mariyati. Usianya kan kelihatannya gak jauh beda dari kita, tapi kok dia mau ya jadi pengelola Panti Jompo ini?"


"Dih ngapain lu keppo ngurusin hidup orang. Jangan-jangan lu naksir ya, lu udah gak ada rasa gitu sama Sintia?"


Plaaak!


Riko menepuk lengan Widia, dan memintanya untuk tak membahas masalah itu lagi. Menurutnya hubungan nya dengan Sintia sudah jauh lebih baik saat mereka disana. Ia tak ingin mencampurkan masalah hati ketika berada dalam tugas lapangan.


"Jangan sampai lu bahas masalah ini di depan Sintia ya Wid. Gue gak mau hubungan gue sama dia renggang lagi kayak dulu!"


Widia hanya menggelengkan kepala, ia heran dengan kedua temannya itu. Sebenarnya mereka sama-sama masih saling cinta, tapi hubungan mereka kandas karena ulah Dina. Yang sekarang ketiganya malah disatukan dalam satu tempat, yang akan menjadikan neraka bagi mereka semua.