TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 30 GANGGUAN SIANG HARI.


Terlihat Widia dan Dina berdiri tepat di depan pintu dapur. Mereka memperhatikan Sintia yang sedang menangis seorang diri. Sontak saja Sintia pun terkejut melihat Widia tak lagi berada di pelukan nya. Sintia melihat ke berbagai arah dengan menelan ludah kasar. Peluh mulai membasahi keningnya, ia kebingungan dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"Kalau Widia baru datang, lalu tadi siapa yang gue peluk?" Batin Sintia di dalam hati nya.


Plaaak.


Widia menepuk pundak Sintia, dan menyadarkan nya dari lamunan. Ia terperangah menatap Widia dengan wajah ketakutan.


"Lu ngapain sih lihatin gue kayak gitu? Kayak lihat setan aja gau gak!" Protes Widia dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Lu dari tadi sama Dina ya Wid?" Sintia menatap Widia dan Dina bergantian.


"Iya. Kan gue baru beresin meja sama Dina, emangnya kenapa sih?"


"Gak ada apa-apa kok Wid, cuma nanya aja. Ya udah tolong terusin nyuci piring nya, kepala gue tiba-tiba pusing nih. Gue minum obat dulu ya." Sintia berjalam gontai meninggalkan dapur.


Dina memperhatikan tingkah Sintia yang tak seperti biasanya. Ia pun mengikuti Sintia dan menegurnya. Dina tau ada yang sedang disembunyikan oleh Sintia.


"Lu pasti habis ngelihat sesuatu kan? Makanya tadi lu nangis di dapur."


"Gue gak tau kenapa tadi tiba-tiba pengen nangis. Emang kenapa Din, kok lu ngomongnya gitu?"


"Sebenarnya tadi gue ngelihat sosok kuntilanak yang lagi lu peluk. Makanya gue heran, kenapa lu sampai nangis. Dan ngapain lu peluk tuh kuntilanak sampai terisak gitu?" Jelas Dina yang ternyata melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Sintia mengernyit lalu menelan ludah kasar. Ia merapatkan duduknya ke samping Dina.


"Lu beneran lihat gue peluk kuntilanak Din?"


"Kok malah nanya sih Sin, emang lu pikir siapa yang tadi lu peluk sampai nangis gitu?"


"Ta tadi gue lihatnya itu Widia. Dia tau-tau meluk gue sambil nangis, terus gak tau kenapa gue kebawa suasana haru. Makanya gue ikut nangis, sampai gue dengar suara Widia yang nanya gue lagi apa. Tapi lu yakin Din, lihat gue meluk kuntilanak? Masak siang bolong gini ada setan sih?" Ucap Sintia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Serius Sin, ngapain gue ngada-ngada! Tadi juga lihat sundel bolong di lorong sana, tapi kalian gak percaya sama gue!"


"Kok lu jadi bisa ngelihat hantu sih Din? Emang sebelumnya lu udah bisa lihat mereka?"


"Kayaknya sih baru-baru ini Sin, kalau yang waktu itu di gudang gue lihatnya sama Beni. Gue lihat sundel bolong juga, tapi kenapa gue lebih sering lihat sundel bolong ya. Kalau kuntilanak baru sekali tadi aja sih." Pungkas Dina bergidik.


Riko melihat kedekatan Sintia dan Dina yang tak seperti biasanya. Dengan cengengesan, ia menggoda keduanya supaya akur seperti itu terus. Namun Dina justru kesal, dengan candaan Riko.


"Gue gak deket sama Sintia, cuma lagi ada perlu aja tadi! Udahlah gue mau istirahat bentar, mumpung dikasih waktu tidur siang." Kata Dina seraya berjalan ke kamar.


"Dih, ya sorry Sin. Gue gak tau kalau Dina bakal langsung berubah sikap kayak gitu. Emangnya kalian ngobrolin apa sih?"


Sintia tak langsung menjawab pertanyaan Riko. Ia menghembuskan nafas panjang, lalu bergidik membayangkan jika ia baru saja memeluk sesosok hantu. Widia baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia duduk di samping Sintia dan menatapnya lebih dekat.


"Lu beneran Widia kan? Ngapain lihatin gue kayak gitu?" Sintia duduk mundur ke belakang.


"Kenapa sih Sin? Kok lu kayak ketakutan gitu lihat gue?"


"Iya nih, ada apa sih Sin?" Imbuh Riko penasaran.


Sintia menelan ludah kasar sebelum ia mengatakan sesuatu. Ia menjelaskan kejadian aneh sewaktu di dapur tadi. Dan itulah yang baru saja ia bahas dengan Dina.


"Jadi maksud lu ada kuntilanak yang nyamar jadi gue? Lu seriusan Sin? Ini masih siang loh, kok lu nakutin gue aja sih!" Seru Widia seraya menoleh ke kiri kanan.


"Tadi kan lu nanya, ya gue jawab dong! Siapa yang mau nakutin lu Wid!"


"Udah gak usah dibahas lagi, daripada bikin suasana gak enak. Kita tidur siang bentar aja, biar lebih fresh. Lumayan kan dua jam bisa ketemu kasur." Pungkas Riko untuk mencairkan suasana.


Akhirnya ketiganya kembali ke kamar untuk istirahat. Riko yang seorang diri di dalam kamar merasa suasana jadi terlalu hening. Ia menghidupkan radio kotak jadul, hanya suara kemresek yang terdengar. Ia memutar tombol bundar ke kiri kanan untuk mendapatkan siaran radio. Namun ia justru mendengar suara yang tak asing di telinga nya. Suara itu berkata dengan lantang, "PERGI DARI SINI JIKA KAU INGIN SELAMAT." Seketika Riko terperanjat dari tempat tidurnya. Ia berdiri di sudut kamar, namun ada sesuatu yang menarik kakinya dari bawah.


Bruuugh.


Riko terjatuh, keningnya membentur lantai hingga ia tak sadarkan diri. Dan saat ia tersadar, tak ada cahaya sama sekali. Riko bangkit berdiri, mendongak keluar jendela. Hanya ada cahaya bulan yang menerangi kamarnya. Suasana malam itu sangat sunyi, seakan tak ada kehidupan. Ia berjalan keluar dengan membawa senter di tangannya.


"Kok gak ada orang sih, Sintia, Widia sama Dina kemana ya." Ucap Riko berjalan mengendap.


Ia sudah sampai di depan kamar perempuan. Beberapa kali ia mengetuk, namun tak ada jawaban sama sekali. Riko memberanikan diri untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka lebar, ia melihat perempuan sedang duduk membelakangi nya. Perempuan itu mengenakan gaun putih panjang, nampak oa sedang menyisir rambutnya. Semakin lama diperhatikan, perempuan itu menyisir rambutnya dengan kasar hingga rontok banyak. Nampak kulit kepalanya mengeluarkan darah, bahkan sebagian kulit kepalanya mengelupas. Riko membulatkan kedua mata terkejut, saat perempuan itu berjalan merayap ke arahnya. Dengan langkah yang berat, ia memaksakan diri untuk pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah saja, ia kembali berhenti saat seorang lelaki berseragam menghadang langkahnya dengan membawa pistol yang ditodongkan ke keningnya. Begitu terdengar suara letusan pistol, Riko berjongkok dengan menutupi wajahnya.


"Ko. Rikoo..." Ucap Sintia dengan menggoncangkan tubuh Riko.


Riko mendongakkan kepalanya, menatap Sintia dengan wajah lega. Lalu ia memeluk Sintia dengan nafas yang berderu kencang.


"Gue dimana Sin?" Ucap Riko kebingungan.


"Tenang Ko. Lu kenapa ada disini, bukannya tadi lu tidur di kamar?"


Riko melihat ke sekelilingnya, ia sudah berada di depan kamar Nek Siti. Padahal seingatnya, ia masih ada di dalam kamar. Ia berusaha mengingat apa yang telah terjadi, tetap saja yang ia ingat adalah ia berada di kamar sebelum ada seseorang yang menarik kakinya hingga terjatuh ke lantai.