TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 32 AKHIR HIDUP DONI.


"Wid lu lihat sesuatu gak sih?"


"Gu gue takut Sin, itu apa an sih yang berdiri di atas bambu. Kok tinggi besar gitu, mana berbulu hitam lagi."


"Hussd, diem Wid!" Sintia membekap mulut Widia, supaya ia tak melanjutkan perkataannya.


Sintia menarik tangan Widia, keduanya bersembunyi dibalik tumpukan kayu. Rupanya ada sesosok wowo, yang sedang duduk bersantai di antara pohon bambu. Dan yang mereka lihat hanya sepasang kakinya saja. Sintia memberanikan diri mendongakkan kepala ke atas. Ia melihat sepasang mata merah dan besar, sedang melihat ke sekelilingnya. Sintia menahan nafas, karena mengira wowo itu tau dimana keberadaannya.


"Ada..." Ucap Widia tak melanjutkan kata-katanya, karena dengan cepat Sintia membekap mulutnya.


Sintia memberi kode untuk diam, dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Sementara itu efek jamu pemberian Mariyati sudah mulai berpengaruh pada Widia. Matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya agak sedikit berat.


"Syukurlah demit itu udah gak ada, yuk kita ambil ayamnya."


Hening tak ada jawaban dari Widia, ia sudah setengah sadar. Kepalanya jatuh di pundak Sintia.


"Wid lu kenapa sih? Heh bangun Wid!" Seru Sintia dengan menepuk-nepuk pipi Widia.


"Duh kepala gue berat banget Sin, gue gak kuat lagi nih pengen tidur aja." Jelas Widia dengan memegangi keningnya.


Akhirnya Sintia mengurungkan niat untuk pergi ke taman belakang. Ia memapah Widia ke kamarnya. Nampak Dina juga sudah berbaring di atas tempat tidur. Ia meminta Widia untuk istirahat di kamar, sementara ia akan kembali ke taman belakang. Saat ia berjalan keluar kamar, ia melihat Riko yang sedang memapah kakek Ridho ke kamar. Setelah saling menyapa, Sintia mengatakan jika ia harus ke taman belakang mengambil ayam hitam. Kakek Ridho meminta Riko mengantarkan Sintia, karena ia merasa ada yang ingin berbuat jahil pada gadis itu. Sintia sempat menolak, namun kakek Ridho memaksanya sehingga ia terpaksa menerima bantuan Riko. Setelah itu Sintia dan Riko kembali ke taman belakang. Sedangkan kakek Ridho masih berdiri di tempatnya. Ia memandang ke depan, melihat kedua anak muda itu dari kejauhan. Dan benar saja dugaan nya, ia melihat wujud asli kedua kakek tua sudah bersiap menakut-nakuti Sintia dan Riko. Nampak sosok hantu berpakaian tradisional china, sudah menanti di samping kandang ayam. Sementara sosok pocong bersembunyi di antara batang pohon pisang. Tiba-tiba wujud kakek Ridho berubah menjadi hantu tentara Indonesia jaman dulu. Ia melesat cepat mendatangi kedua hantu itu. Kakek Ridho dengan wujud aslinya berhasil menghalangi niat kedua hantu kakek itu. Hanya dengan membulatkan kedua matanya pada kedua hantu sebayanya, kedua hantu itu langsung pergi begitu saja.


Whuuusd.


Ketiga sosok hantu itu pergi, melesat melewati Sintia dan Riko. Seketika mereka sama-sama mengusap belakang lehernya.


"Kok tiba-tiba gue ngerasa merinding ya Ko?"


"Sama Sin, gue juga." Sahut Riko seraya menguap terus menerus di sepanjang perjalanan ke taman belakang.


"Dih tumben kalian semua jam segini udah pada ngantuk? Tadi Widia sama Dina juga kayaknya capek banget gitu, sampai udah tepar di tempat tidur."


Mereka berjalan santai menuju bangunan utama, nampak Mariyati sudah berdiri di depan pintu. Ia meminta Riko meletakkan ayam hitam itu ke dalam ruangan ritual Mbah Gito. Sintia langsung mengernyitkan keningnya, merasa aneh dengan perintah pengelola Panti itu.


"Loh Mbah Gito mau datang kesini juga ya bu?" Tanya Sintia penasaran.


"Mbah Gito akan membantu saya pergi ke kampung sebelah, untuk mengantarkan kakek Dodit berobat seperti kakek Bimo. Tapi sebelumnya kami harus melakukan acara doa bersama. Lebih baik kalian berdua segera kembali ke kamar, tidurlah lebih cepat karena pagi nanti banyak yang harus kalian kerjakan." Jawab Mariyati dengan suara datar.


Sintia dan Riko kembali ke kamar mereka masing-masing. Di kamar perempuan, hanya Sintia yang masih terjaga. Meski matanya sudah terlihat sayu, namun entah kenapa seperti ada yang menahannya untuk terpejam.


"Kenapa gue jadi ikutan ngantuk ya, padahal baru jam sebelas lebih sepuluh menit. Malam ini emang suasananya agak berbeda, pantas aja mereka berdua udah merem." Gumam Sintia pada dirinya sendiri.


Ia masih membaca sebuah novel horor, karya seorang penulis favoritnya. Rupanya strateginya untuk tetap terjaga dengan membaca, malah membuatnya semakin dilanda kantuk yang luar biasa. Padahal biasanya, ia bisa tetap membaca hingga berjam-jam. Perlahan pun kedua matanya mulai terpejam. Sintia sudah terpengaruh jamu racikan Mariyati, dan ia pun terlelap begitu saja.


Mariyati menerawang melalui batin, ia melihat ke empat anak muda itu sudah terlelap. Ia langsung memberikan pesan pada Mbah Gito, supaya lekas datang ke Panti. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja, Mbah Gito sudah datang bersama Doni. Terlihat Doni dalam keadaan seperti orang linglung. Ia tak menyadari jika hidupnya akan berakhir sebentar lagi.


"Sudah siap semuanya?" Ucap Mbah Gito mengaitkan kedua alis mata, dan dibalas anggukan kepala oleh Mariyati.


Doni terus mengikuti perintah Mbah Gito, ia diminta masuk ke ruang ritual. Doni berjalan gontai ke dalam ruangan itu. Nampak beraneka sesajen dan dupa sudah dinyalakan. Mbah Gito membakar kemenyan, lalu meletakkan bunga tujuh rupa ke dalam baskom air. Kurang lima menit lagi sudah jam dua belas tengah malam. Terdengar Mbah Gito mulai membaca rapalan mantra. Mariyati menyiapkan empat batok kelapa di atas dipan kayu. Lalu memerintahkan Doni berbaring disana. Diluar sana nampak kilatan petir yang menyambar. Meskipun cuaca nampak terang, namun beberapa kali terdengar suara petir yang menggelegar. Mariyati mulai menyalakan lilin yang mengelilingi dipan kayu. Tepat tengah malam, para hantu lansia itu berdatangan. Hanya tersisa dua sosok saja yang belum datang. Mariyati membulatkan kedua mata, merasa kesal karena hantu kakek Ridho dan nenek Siti belum datang. Akhirnya Mariyati mengancam kedua hantu lansia itu. Ia berkomunikasi melalui batin, meminta keduanya segera datang. Kalau tidak ia akan melukai kedua cicitnya.


"Meski aku tak akan mengambil jiwa cicit kalian sekarang. Aku bisa menyiksa raga mereka, sampai kalian berdua tak berdaya untuk melihat nya!" Ucap Mariyati melalui batin.


Whuuuusd.


Kedua hantu lansia itu dengan cepat melesat mendatangi Mariyati. Tatapan mereka seakan penuh amarah, namun keduanya tak berdaya untuk melawan.


"Cepat bergabung bersama yang lainnya!" Seru Mariyati melotot.


Ke enam hantu lansia itu berdiri mengambang, mengelilingi Doni yang sedang berbaring di atas dipan kayu. Mbah Gito bangkit berdiri membawa dupa di tangannya. Ia berjalan memutari Doni sebanyak tujuh kali. Lalu ia memejamkan mata dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Sesekali ia memberikan uap dupa ke wajah Doni. Lalu Mariyati mengambil sebilah pisau. Ia berjalan mendekat ke sekeliling hantu lansia. Diberikannya pisau itu ke Mbah Gito, dan pisau pun dibacakan mantra-mantra. Mungkin inilah akhir kisah hidup Doni, yang sebentar lagi akan menjadi tumbal untuk kakek buyutnya sendiri.