
Setelah mendapatkan perawatan, Sintia dibawa ke ruang isolasi. Adit meminta Rania dan Dahayu untuk mencari identitas diri yang kemungkinan ada di pakaian Sintia. Namun setelah Dahayu mencari disemua kantong pakaian, ia tak menemukannya apapun. Rania sampai heran, dan tak bisa menerawang apapun melalui batinnya.
"Sebenarnya siapa perempuan ini, kenapa aku tak bisa menerawang melalui batin. Kayak ada kekuatan besar yang nutupin kisah hidupnya. Pasti ini ada hubungannya dengan bayangan hitam tadi." Batin Rania di dalam hatinya.
Plaaak.
Dahayu menepuk pundak Rania, karena sedari tadi ia melamun tanpa berkedip sama sekali. Akhirnya Rania menceritakan isi hatinya, dan Dahayu pun mengatakan hal yang sama jika ia juga tak bisa menerawang apapun mengenai gadis yang mereka tolong itu. Tak lama setelah itu, seorang perawat datang, ia mencari Adit karena korban kecelakaan itu sudah sadar dan ingin bertemu dengan mereka. Namun karena Adit sedang berbicara dengan petugas kepolisian, akhirnya Rania dan Dahayu mengambil inisiatif untuk menemui Sintia. Mereka akhirnya berbicara di dalam ruangan isolasi.
"Sebelumnya gue mau minta maaf karena menghambat perjalanan kalian. Perkenalkan nama gue Sintia Lebdosari. Gue mahasiswi dari Universitas Merdeka. Sebenarnya gue sama teman-teman ditugaskan pkl di sebuah Panti Jompo yang ada di daerah sini. Tapi terjadi sesuatu yang gak terduga disana, gue gak bisa jelasin gimana detailnya." Ucap Sintia menangis terisak.
Rania dan Dahayu hanya diam lalu saling menatap. Keduanya tak mengerti dengan apa yang Sintia katakan, karena mereka tak bisa menerawang melalui batin.
"Lu tenang dulu ya, jangan terlalu dipaksa buat cerita. Kondisi lu masih belum baik-baik aja, mending lu istirahat dulu. Kita akan nungguin lu sampai lu baik-baik aja." Ucap Rania dengan mengaitkan kedua alis mata.
Tiba-tiba saja Sintia merasakan nyeri di kepalanya. Ia memegangi keningnya, dan nampak kesakitan. Perawat meminta Rania dan Dahayu menunggu diluar, karena Sintia membutuhkan istirahat yang cukup.
"Udah gak apa-apa Ran, kita tunggu dia istirahat dulu. Yang penting sekarang kita udah tau identitasnya." Kata Dahayu dengan menghembuskan nafas panjang.
"Iya juga sih mbak, mungkin lebih baik kita kasih info ini ke mas Adit. Biar dia bisa hubungi keluarga Sintia." Ucap Rania seraya berjalan menyusuri lorong panjang.
Nampak Adit sedang berbicara dengan seorang petugas polisi. Ia baru saja memberikan keterangan perihal kecelakaan yang mereka alami. Setelah itu Rania dan Dahayu juga dimintai keterangan. Mereka langsung menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. Setelah polisi mencatat laporan mereka, Rania mengatakan jika korban sudah sadar dan memberikan informasi. Berbekal informasi itu polisi menghubungi pihak universitas, dan mendapatkan kontak keluarga.
"Sepertinya keluarga baru tiba besok, karena perjalanan kesini juga membutuhkan waktu. Kalau gitu, kalian berdua bisa pulang setelah aku memesankan travel ke Jakarta." Jelas Adit yang masih sibuk dengan gawainya.
"Kita pulang besok aja deh mas, kalau keluarga Sintia udah datang. Soalnya ada yang mau kita tanyain juga ke dia." Rania menatap Dahayu dengan menaikan dagunya.
"Iya Dit, kayaknya ada hubungannya dengan gaib deh. Gue takutnya setelah kita tinggal malah ada apa-apa sama Sintia. Gue mau tau dulu, ada apa sebenarnya. Kenapa dia bisa ada di jalanan tengah hutan." Sahut Dahayu mengaitkan kedua alis mata.
"Kalian yakin ada hubungannya dengan gaib? Tapi kan tadi murni kecelakaan yang terjadi!" Pungkas Adit dengan berkacak pinggang.
"Entahlah mas, kita juga belum tau apa-apa. Karena mau ditelusuri pun juga gak bisa, ada tabir hitam yang menutupi mata batin. Kayaknya emang ada yang sengaja ngebuat Sintia sampai nekat nabrakin dirinya." Rania tiba-tiba memalingkan wajahnya, setelah melihat sesosok bayangan hitam melintas di lorong panjang.
Tak lama terdengar suara jeritan seseorang, mereka semua langsung menoleh ke arah kamar Sintia. Beberapa perawat pun berlarian ke ruangan itu. Semua orang panik dan penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sampai gadis itu berteriak histeris.
Rania dan Dahayu sudah ada di luar ruangan, sementara Adit sedang berkomunikasi dengan Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Sintia. Menurutnya kondisi Sintia lebih terguncang secara kejiwaan, karena secara fisik hanya luka luar saja yang ia dapat. Adit menjelaskan hal yang sama pada kedua gadis yang ada di depannya. Mereka hanya menggelengkan kepala seakan tak percaya jika Sintia mengalami gangguan jiwa. Keduanya memutuskan untuk berbicara dengan Sintia, karena kondisinya sudah lebih baik.
Rania dan Dahayu memperkenalkan diri pada Sintia. Mereka menjelaskan jika mereka memiliki kemampuan melihat makhluk gaib, seketika Sintia berderai air mata dengan memegangi tangan keduanya.
"Tadi gue lihat ada bayangan hitam di ujung tembok sana mbak! Tolong gue... Gue takut, gue gak mau kembali ke Panti itu mbak!" Seru Sintia menangis sesegukan.
"Iya Sin... Tenanglah... Kita percaya kok. Tadi kita berdua juga lihat bayangan hitam. Bahkan sejak perjalanan ke rumah sakit, kita udah sadar kalai diikuti bayangan hitam itu. Jadi lebih baik lu cerita ke kita, apa yang sebenarnya terjadi di Panti itu. Sampai lu kayak ketakutan gitu. Terus gimana teman-teman lu yang lainnya?" Tanya Rania seraya menggenggam tangan Sintia.
"Panti itu berbahaya mbak... Dan teman-teman gue masih ada yang tertahan disana. Gue juga bingung harus cerita darimana, karena gue ngerasa gak aman di tempat ini mbak! Tolong bawa gue pergi dulu dari sini, setelah itu gue akan cari bantuan buat bebasin teman-teman gue. Sebelum hal yang buruk terjadi ke mereka." Jawab Sintia berderai air mata.
Nampak seluruh tubuh Sintia bergetar ketakutan. Ia terus melihat ke berbagai arah, seakan ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Dahayu menggenggam tangan Sintia, dan memintanya menenangkan diri. Karena mereka akan menemani nya disana, sampai Sintia merasa lebih baik.