
Sintia berlari menghampiri pak Kirun. Ia menyatukan kedua tangan memohon pertolongan. Ia berderai air mata pilu, menahan rasa takut dan juga tak tega pada Dina. Ia takut sesuatu terjadi pada Dina, karena saat itu ada siluman yang menculiknya. Sedangkan nasib Widia saja masih belum diketahui, malah satu temannya ikut tertimpa celaka.
"Pak tolooong saya... Ta tadi di dalam hutan sana ada siluman harimau yang nyulik teman saya." Jelas Sintia berbicara gagap.
Hening. Tak ada jawaban dari pak Kirun, ia melangkah semakin dekat pada Sintia. Ditatapnya wajah sendu gadis itu, lalu pak Kirun menghembuskan nafas panjang.
"Tempat mu bukan disini nduk, seharusnya kau bersama keluarga yang lain. Tapi kau harus menghadapi takdir yang sengaja dibuat leluhur mu. Mungkin aku tak bisa membebaskan mu dari perjanjian itu, tapi aku akan berusaha menyelamatkan temanmu itu. Kembalilah ke Panti Jompo, aku yang akan mengurus semuanya. InsyaAllah dengan bantuan Yang Maha Kuasa, temanmu bisa ku selamatkan dari siluman itu. Tapi setelahnya hanya takdir Allah yang dapat menyelamatkan kalian semua." Pungkas pak Kirun seraya menepuk pundak Sintia.
"Perjanjian? Leluhur? Maksudnya pak Kirun sebenarnya apa? Sintia gak paham sama sekali."
"Nanti kau akan paham dengan sendirinya, tapi jangan terlalu membencinya. Ia sudah bersusah payah menghentikan semuanya, namun nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Apa yang sudah disepakati tak dapat dihentikan begitu saja. Kau juga harus ikut berjuang Sintia."
Mendengar ucapan pak Kirun, Sintia merasa jika ada sesuatu yang terjadi diluar sepengetahuan nya.
"Jangan melamun disini nduk, pulanglah ke Panti dulu. Setidaknya untuk saat ini hanya tempat itu yang aman untuk kau singgahi. Karena diluar sini banyak bahaya yang akan mengincar mu." Tegas pak Kirun dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Tapi pak... Saya gak berani pergi ke Panti sendirian. Apalagi saya gak tau arah jalan menuju kesana." Sintia menundukkan kepala seraya menghela nafas.
"Tak usah hawatir. Naiklah delman ini, kuda ku akan mengantarkan mu dengan selamat sampai ke Panti Jompo."
"Lalu pak Kirun bagaimana?"
"Aku harus masuk ke dalam hutan belantara itu. Jika terlambat datang, bisa saja hal yang buruk terjadi pada temanmu. Karena itulah, lebih baik kau kembali ke Panti."
Mendengar penjelasan pak Kirun, Sintia hanya menganggukkan kepala. Ia melangkah naik ke atas delman, duduk di belakang. Lalu ia mengaitkan kedua alis mata dan melihat ke tempat duduk kusir. Pak Kirun menyunggingkan senyum menjelaskan jika kudanya sudah hafal jalan. Kuda itu akan berjalan dengan sendirinya sampai ke Panti. Sehingga Sintia tak perlu hawatir untuk mengemudikan delman itu.
Deegh.
Seketika Sintia teringat sesuatu. Mimpi yang pernah ia alamai, ketika Widia mengatakan jika ia sudah tak sadar selama beberapa hari. Baru saja Sintia akan membuka mulutnya, untuk bertanya pada pak Kirun. Namun delman itu sudah mulai berjalan, dan pak Kirun sendiri sudah tak ada di tempat nya berdiri.
"Loh pak Kirun cepet banget hilangnya. Padahal kan gue mau nanya sesuatu, karena gue ngerasa pernah dalam keadaan seperti ini. Mungkinkah itu hanya mimpi ya?" Batin Sintia di dalam hatinya.
Kakek Dodit mengatakan, jika hilangnya Sintia dan Dina ada hubungannya dengan pak Kirun. Sementara kedua hantu lansia perempuan memang sengaja mengikuti cicit mereka.
"Apa kau tak salah tebak?" Tanya hantu kakek Bimo.
"Lalu apalagi yang bisa kau tangkap dari semua?" Jawab kakek Dodit dengan pertanyaan.
"Siapa yang harus ku tangkap?"
"Bukan menangkap siapa-siapa Bimo, tapi sesuatu yang kau simpulkan setelah melihat kejadian malam ini?" Bentak hantu kakek Dodit dengan emosi.
"Nampaknya ada kemungkinan dugaanmu itu benar. Karena secara tak sengaja kita melihat Sintia di atas delman Kirun. Namun kemana Kirun dan juga Dina? Apa kita harus memberitahu Mariyati terlebih dulu?"
Hantu kakek Bimo dan kakek Dodit terlihat gelisah. Sepulangnya mereka dari rumah Mbah Gito, keduanya secara tak sengaja malah melihat Sintia duduk di atas delman. Dan setelah di amati keduanya yakin, jika itu adalah delman pak Kirun. Kedua hantu itu mengikuti delman yang berjalan ke arah Panti. Begitu sampai di depan bangunan kuno, delman berhenti dengan sendirinya. Sintia turun dari delman, lalu berlari ke dalam bangunan Panti. Berkali-kali ia mengetuk pintu Panti Jompo, namun tak ada siapapun yang membukakan pintu. Tentu saja kedua hantu lansia yang masih ada diluar penasaran, dengan apa yang telah terjadi. Karena delman pak Kirun mengantarkan Sintia kembali. Tapi apa mau dikata, ketika malam tiba semua lansia sudah berubah wujud. Sementara Mariyati juga tak mungkin keluar untuk membuka pintu. Alhasil Sintia diam terpaku di depan pintu, ia sudah lelah membunyikan kentongan kayu. Karena tak ada siapapun yang membukakan pintu. Beruntungnya, tak berselang lama mbah Gito tiba. Ia mengaitkan kedua alis mata menatap Sintia dengan serius.
"Kenapa kau diluar Panti Sintia? Ini masih malam, tapi kau berkeliaran diluar sini?" Ucap Mbah Gito seraya melangkahkan kakinya.
Belum sempat Sintia menjawab, Mbah Gito justru menyentuh keningnya. Terlihat raut wajah Mbah Gito berubah tegang, nampaknya ia mendapat penglihatan dari ingatan Sintia. Sontak saja lelaki itu membulatkan kedua mata. Ia terlihat sangat cemas, dan mengepalkan kedua tangannya.
"Masuklah ke dalam, istirahat di kamarmu. Biar saya yang membawa Dina kembali."
"Apa Mbah Gito tau dimana keberadaan Dina saat ini?" Tanya Sintia dengan mata berkaca-kaca.
"Tenanglah, jangan beritahu siapapun dulu. Saya pasti akan membawa Dina kembali. Kau hanya cukup tutup mulut, meski ada yang bertanya padamu. Saya tak ingin membuat para lansia menjadi hawatir. Apa kau paham Sintia?" Jawab Mbah Gito dibalas anggukkan kepala Sintia.
Mbah Gito membukakan pintu Panti, lalu mengawal Sintia sampai masuk ke dalam kamarnya. Sebelum meninggalkan Panti, Mbah Gito menemui Mariyati dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Nampak Mariyati sangat terkejut, ia terlihat menahan amarah besar. Hingga seluruh tubuhnya bergetar kencang.
"Tahan amarahmu Mariyati. Dengan fisik renta seperti ini, kau bisa saja kehilangan nyawa mu dengan mudah. Sabarlah sampai satu malam lagi, kau bisa telusuri sendiri apa yang membuat Dijah dan Dina bertindak sejauh ini." Ucap Mbah Gito berusaha meredakan amarah Mariyati.
Mariyati memandangi gundukan kain yang menumpuk di sudut ruangan nya. Ia membuka penutup kain dan berteriak kencang seraya membulatkan kedua mata. Ternyata di dalam tumpukan kain itu ada Widia yang duduk dengan mulut dibekap lakban. Ia menggelengkan kepala ketakutan melihat wujud menyeramkan pengelola Panti Jompo itu.