
Rania mendapatkan ijin dari atasannya, namun ia juga tak bisa lama-lama meninggalkan tanggung jawabnya. Hanya satu minggu waktu yang diberikan pak bosnya. Mau tak mau ia menerima, karena ia juga sudah terlalu sering mengajukan cuti. Kali ini ia tak bisa mengelak, rencana resign pun tak dapat ia ajukan. Rania terlalu sungkan untuk meninggalkan pak bosnya yang sudah terlalu baik padanya.
"Gimana dapat cuti berapa hari Ran?" Tanya Adit di depan kemudinya.
"Tujuh hari mas, kalau kau bisa menemani ku menelusuri kasus sampai berapa hari?" Jawab Rania dengan pertanyaan.
Adit nampak berpikir, ia mendongakkan kepala ke atas seraya mengusap dagunya. Sebenarnya ia tak bisa lama-lama meninggalkan tugasnya. Namun ia juga tak mau membiarkan Rania seorang diri di tempat yang berbahaya. Meskipun ia sendiri belum tentu bisa melakukan sesuatu jika ada bahaya yang tak kasat mata muncul. Setidaknya Adit ingin selalu berada di samping gadis pujaannya, terlebih lagi ia akan melakukan hal-hal yang cukup menantang.
"Aku akan mengajukan cuti sama sepertimu. Entah aku harus membuat alasan apalagi pada komandan." Adit menghembuskan nafas panjang seraya memijat pangkal hidungnya.
"Kalau gak bisa gak usah dipaksakan mas. Aku bisa sendiri kok, aku cuma harus pergi ke suatu tempat terlebih dulu. Konsultasi dengan orang yang ada disana. Aku tak langsung melakukan tindakan. Jadi setelah mengantar ku, kau bisa kembali ke kota." Rania menggenggam tangan pemuda yang ada di sampingnya. Mereka saling senyum dengan mata berbinar.
"Kalau gitu aku cuti sehari dulu untuk mengantarmu kesana. Jika ada sesuatu yang menurut mu bahaya, jangan bertindak seorang diri. Beritahu aku, biar aku bisa membantumu. Oke?" Tegas Adit seraya mengemudikan mobilnya.
Rania sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah pondok pesantren yang ada di Jawa Tengah. Sementara di lain tempat, mbah Gito juga sedang mempersiapkan segala keperluannya untuk bertapa di kaki gunung semeru yang ada di Jawa Timur. Kali ini Mariyati agak gelisah dengan kepergian sekutunya. Seakan ada sesuatu yang mengancam akan terjadi.
"Apa kau yakin akan pergi sekarang juga?"
"Tentu saja, lebih cepat akan lebih baik. Aku harus mendapatkan mustika dari Patih Prabu Dewata Cengkar. Aku mendapatkan petunjuk itu dari Ratu Shima Saraswati. Dan secepatnya kita harus memilikinya, sebagai senjata untuk melawan musuh-musuh kita yang masih belum jelas siapa. Jika mereka berasal dari golongan putih, akan menjadi perlawanan yang sangat sulit bagi kita. Berbeda halnya jika musuh berasal dari golongan hitam, mungkin aku tak perlu bersusah payah untuk bertapa. Kenapa kau nampak gelisah Mar? Apa kau tak yakin dengan keputusan ku?"
"Tidak! Bukan begitu... Aku hanya merasakan bahaya besar, entah berasal darimana. Sepertinya musuh kita nanti bukanlah orang-orang biasa. Jika saja aku tau siapa mereka, mungkin aku bisa mempersiapkan segalanya." Mariyati menghembuskan nafas panjang, tak seperti dirinya yang biasanya.
"Kau lakukan saja ritual persembahan untuk Windu. Bukankah Widia sudah lama datang bulan nya. Karena kau juga akan mendapatkan keuntungan, setelah menyantap organ dalam gadis itu. Kau akan memiliki energi lebih untuk melihat siapa orang-orang yang berusaha memata-matai tempat ini!" Mbah Gito mengambil bungkusan besar yang akan dibawanya ke kaki gunung Semeru.
Setelah kepergian mbah Gito, Mariyati membuat pelindung di sekitar Panti Jompo. Nampak beberapa warga datang memasuki halaman Panti. Salah satu nya adalah pak RT setempat. Ia menanyakan guna bangunan yang ia tempati.
"Gak kok pak, itu teman-teman saya dari kota. Kebetulan mereka memang menginap disini, karena saya pernah cerita dulu tempat ini dijadikan Panti Jompo sama bude saya. Mereka hanya dapat tugas kampus buat wawancara saja. Udah gak ada lansia lagi disini, apa ada yang mau ditanyakan lagi pak? Soalnya saya mau ngurus bude di dalam." Jawab Mariyati dengan menyunggingkan senyum.
Pak RT langsung percaya, karena ia sudah terkena ilmu yang digunakan Mariyati. Mariyati tak ingin berurusan dengan orang yang tak penting, sehingga ia memilih menggunakan kesaktiannya supaya lelaki tersebut percaya dengan penjelasan nya.
Mariyati masuk ke dalam, nampak Sintia sedang memperhatikan nya dari jendela. Ia menegur Sintia, supaya jangan lagi berdiri di dekat jendela. Karena ia tak mau ada yang mengetahui keberadaan para mahasiswa itu, sehingga timbul masalah baru.
"Dina ikut ke ruangan saya sekarang!" Perintah Mariyati seraya melangkahkan kakinya.
"Ada apa bu?" Dina duduk di depan meja kerja pengelola Panti itu.
"Nanti malam saya akan melakukan ritual persembahan. Kau harus memastikan supaya Sintia tak keluar dari kamarnya. Ritual malam ini agak berbeda dari sebelumnya. Mungkin saya memerlukan mu juga, seperti yang pernah saya jelaskan tempo hari!"
Dina menelan ludah kasar, raut wajahnya berubah seketika. "Kenapa harus aku? Aku sudah bersedia memberikan calon anakku, tapi kalian berencana membuat ku jadi..." Dina tak melanjutkan perkataannya, karena Mariyati langsung melotot di hadapannya.
"Kelak kau juga yang akan mendapat keuntungan nya! Karena hanya kau gadis dengan watak keras, dan perangai yang sesuai dengan diriku. Semua belum tentu terjadi Dina... Saya hanya berjaga-jaga saja, jika sesuatu benar-benar terjadi. Dan saya dapat dilumpuhkan oleh musuh, maka kau akan tau sendiri. Jika kita sepakat, ritual penyatuan akan terjadi di malam yang sama. Malam ini tepatnya, apa kau setuju?" Mariyati menatap Dina dengan sorot mata tajam.
Dina masih diam seribu bahasa, lidahnya seakan kelu tak dapat berkata-kata. Ada pergolakan batin di dalam dirinya, namun seakan ia tak bisa menolak tawaran yang diberikan padanya. Bukan karena terpengaruh dengan ilmu yang dimiliki Mariyati, namun itu semua karena sifatnya sendiri. Dina yang ingin memiliki segalanya yang dimiliki Mariyati, membuatnya dilema. Ia harus merelakan sebagian dirinya, untuk memberikan tempat pada pengelola Panti Jompo itu. Entah kehidupan apa yang akan ia jalani kelak. Kini ia meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai.
"Lu sakit ya Din?" Tanya Sintia dari arah belakang.
"Gak usah sok perduli deh! Sana lu urus para kakek, biar gue yang bantu nenek-nenek itu!" Jawab Dina ketus.
Terlihat nek Dijah memperhatikan keduanya dari kejauhan. Setelah Sintia pergi, nek Dijah menghampiri Dina dan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut. Dina hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun nek Dijah mengatakan sesuatu yang masuk akal menurutnya, sehingga ia kembali mempertimbangkan kesepakatan nya dengan Mariyati.