
Pagi itu ke empat mahasiswa sedang sibuk di dapur, karena seperti biasanya, jika para lansia itu berulang tahun maka akan ada jamuan makan besar. Karena mereka tak akan bisa merasakan makan-makan enak di hari biasa. Mariyati sangat berhemat, untuk alasan kesulitan ekonomi. Supaya para mahasiswa itu percaya dengan drama yang dibuatnya.
"Ini kek sup buntut kesukaan kakek Dodit, para gadis ini spesial membuatkan nya untuk kakek. Seandainya Doni masih ada disini, dia juga pasti akan senang dengan hidangan makan hari ini." Ucap Riko seraya membawa satu panci penuh berisi sup buntut.
Nampak wajah semua lansia itu ikut berbinar, merayakan kebahagiaan kakek Dodit. Hanya nek Siti dan kakek Ridho yang terlihat berbeda. Keduanya tak menunjukkan reaksi apapun, dan hanya menundukkan kepala. Sintia melihat gelagat aneh kedua lansia itu, ia menyapa keduanya lalu menyajikan makanan untuk mereka.
"Nek Siti sama kakek Ridho sedang merindukan keluarga ya? Jangan sedih lagi ya, sekarang ada kita semua disini. Anggap saja kita ini seperti keluarga kalian sendiri, meskipun pada akhirnya kami semua alan tetap pergi meninggalkan tempat ini. Tapi Sintia pribadi, akan selalu mengusahakan mengunjungi kalian semua disini." Ucap Sintia berusaha menghibur mereka.
Namun mendengar Sintia berbicara seperti itu, justru membuat kedua lansia itu semakin merasa bersalah. Terlebih lagi nek Siti, yang langsung berlinang air mata. Ia tertunduk pilu, tak dapat membayangkan jika kelak cicitnya itu akan tiada demi dirinya. Kakek Ridho menggenggam tangan nek Siti, berharap ia bisa sedikit tenang. Namun usaha kakek Ridho percuma, nek Siti bangun dari tempat duduknya lalu pergi ke kamar. Mariyati melihat semuanya, ia mengikuti nek Siti sampai di kamarnya. Ia menegur nek Siti lalu memintanya kembali ke meja makan.
"Kau selalu seperti ini Siti! Apa kau sudah melupakan ucapanku semalam? Cepat bergabung dengan yang lainnya, supaya anak muda itu tak curiga dengan sikapmu!" Perintah Mariyati seraya menggandeng tangan nek Siti.
Mereka bersama kembali ke meja makan, sama-sama melahap hidangan buatan ketiga gadis muda itu. Tiba-tiba Dina merasakan mual ketika ia ingin memakan sup buntut. Ia jadi ingin muntah hanya dengan menghirup aromanya.
"Lu kenapa Din? Masuk angin ya?"
"Gue pengen muntah Wid, ngehirup aroma sup buntut ini. Padahal tadi pas di dapur gak kenapa-napa tuh gue nya."
"Mungkin lu baru kerasa gak enak badannya sekarang. Ya udah gak usah dimakan, makan yang lainnya aja."
"Mending lu jelasinnya ke Sintia aja deh Ko. Gue gak mau ikut campur dengan masalah ini." Tegas Widia seraya berjalan masuk ke dalam kamar.
Terlihat Dina bangkit dari tidurnya. Ia duduk dengan menyenderkan kepala di tembok. Meskipun ia terlihat lemas, namun ia masih memiliki hasrat pada Riko. Karena itulah Widia sampai heran melihat kelakuan Dina. Ia menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafas panjang.
"Gak usah heran gitu deh Wid! Kita ini sama-sama dewasa, tentu saja terkadang kita bergairah dengan seseorang yang kita sukai. Begitu halnya yang terjadi pada gue dan Riko. Jadi ya gue harap kalian berdua memahami apa yang terjadi barusan!" Ucap Dina tanpa dosa.
"Apa dengan begitu lu bisa membenarkan perbuatan lu Din? Tadi gue sama Sintia nyari lu karena hawatir, gak taunya lu lagi enak-enak sama Riko. Mana di kamar ini lagi, lu gak ngebayangin gimana perasaan Sintia saat ini?"
"Ngapain gue harus pusing mikirin perasaan tuh anak manja! Harusnya dia sadar, kalau Riko itu cuma cinta sama gue. Nyatanya mereka belum pernah kan melakukan apa yang tadi gue sama Riko lakukan! Itu artinya Riko hanya melakukannya sama gue, karena ya dia cuma cinta gue doang!"
"Terserah apa kata lu deh Din. Gue cuma mau nyampaiin pesan bu Mariyati. Kalau lu emang lemas dan gak enak badan, mending lu istirahat aja. Biar gue sama Sintia yang kerjain semuanya. Tapi sekarang gue agak ragu, meski kayaknya lu sakit tapi lu masih bisa enak-enak sama Riko. Mau heran tapi ini kan lu Din. Jadinya gue gak jadi heran deh!" Kata Widia sebelum pergi dari kamar.
Dina seorang diri di kamar, ia merasa heran dengan perubahan yang ada di dalam dirinya. Entah kenapa ia tiba-tiba melakukan hal itu pada Riko. Padahal ia tak memikirkan hal itu sebelumnya. Karena tanpa siapapun sadari, hal senonoh yang baru saja terjadi adalah karena campur tangan Mbah Gito. Ia ingin menjebak Riko atas perbuatan yang telah ia lakukan pada Dina. Jadi keduanya pun dibuat tanpa sadar melakukan sesuatu yang menjurus ke hal-hal dewasa. Mbah Gito ingin memuluskan jalannya, supaya kelak tak ada yang curiga dengan kehamilan Dina. Sementara itu, Riko berusaha mengejar Sintia untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi tadi. Namun Sintia tak menggubris perkataan Riko. Ia memilih duduk di samping nek Siti, untuk memijat tangannya. Melihat kondisi demikian, kakek Ridho mengambil inisiatif untuk memanggil Riko. Ia penasaran dengan apa yang baru saja terjadi, karena terlihat ketegangan di antara kedua anak muda itu.
"Sabarlah Ko, kebenaran pasti akan terungkap meski datangnya terlambat." Ucap kakek Ridho membuat Riko tercengang.
Ia mengaitkan kedua alis mata, bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang sebenarnya kakek Ridho ketahui. Namun ia sendiri juga bingung, kenapa tadi ia merespon sentuhan Dina. Bahkan ia sempat sedikit berhasrat dan ingin meladeni tangan nakal Dina. Beruntungnya Sintia dan Widia datang, karena kalau tidak entah apa yang akan terjadi selanjutnya.