TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 42 BERUBAH WUJUD?


Mariyati melangkahkan kakinya kembali ke dalam ruangan nya, ia menarik gagang pintu dan memanggil nama Widia. Tak ada jawaban sama sekali, hingga akhirnya ia melihat bayangan seseorang dibalik tirai jendela.


Widia duduk disudut ruangan dengan tirai yang menutupi tubuhnya. Ia juga menutup wajahnya dengan kedua tangan, tak berani melihat ke sekitarnya. Begitu ia mendengar suara Mariyati, Widia mendongakkan kepala ke atas dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Aaaargggh!" Jerit Widia histeris dengan membulatkan kedua matanya.


Mariyati mengaitkan kedua alis mata, ia heran kenapa Widia ketakutan melihatnya. Bahkan kini Widia berusaha keluar dari ruangan nya. Di tengah-tengah kebingungan nya, Widia berhasil meninggalkan ruangan Mariyati. Ia berlari tak tentu arah, bingung harus pergi kemana. Sementara itu, Mariyati yang merasa ada kejanggalan baru menyadari sesuatu. Pantangan untuknya yang tak boleh diketahui oleh para mahasiswa itu. Mariyati berlari tergesa-gesa ke gudang belakang. Sesampainya disana, ia menarik tirai penutup cermin dan berkaca di depannya. Nampak wujudnya berubah menjadi seorang nenek tua peyot. Meski tenaganya masih kuat seperti anak muda, di malam bulan purnama wujud aslinya akan terlihat. Hanya itu saja pantangan yang harus ia hindari ketika bulan purnama tiba. Dan karena terlalu fokus mengawasi nek Siti, ia sampai melupakan malam keramat yang bisa menjadi malam terburuknya. Mariyati menangis melihat wujud aslinya di cermin. Tubuh tua renta dan wajah peyot yang dipenuhi keriput dimana-mana. Membuatnya tak tahan berdiri di depan cermin. Karena cermin selalu mengingatkan nya dengan wujud aslinya dan para lansia yang ia jaga. Misteri inilah yang menjadi pertanyaan Sintia tempo hari. Kenapa semua cermin di Panti itu disembunyikan disatu tempat, dan selalu tertutup tirai.


"Aku sudah ketahuan oleh Widia, aku harus segera menemukannya. Karena selama beberapa hari ke depan aku tak bisa menggunakan kekuatan ku untuk menghipnotis nya. Jadi aku harus mengambilnya tindakan sendiri. Apalagi Gito tak ada disini, tak ada yang bisa membantu ku. Selama beberapa hari ke depan, aku juga tak bisa menunjukkan jati diri ku di hadapan mereka semua. Karena wujud asliku akan bertahan selama bulan purnama belum selesai. Meski di pagi atau siang hari sekalipun!" Gumamnya pada diri sendiri.


Mariyati mengepalkan kedua tangan. Ia berjalan tertatih dengan tubuh tua nya. Meski kekuatannya masih besar, tapi dengan tubuh renta itu gerak tubuhnya terbatas. Ia mencari ke segala arah, dengan harapan bisa menemukan Widia sebelum ia memberitahu semua teman-teman nya. Namun ia terlambat, karena Widia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Mariyati setengah mati berusaha berjalan lebih cepat, tapi ia tak bisa mengandalkan fisiknya. Bantuan pun tiba disaat yang tepat. Hantu nek Windu datang, dan membekap mulut Widia dengan selendang merah yang masih melingkar di pinggulnya. Tubuh Widia diseret dari sana, ia dibawa ke ruang ritual oleh hantu nek Windu. Mariyati pun akhirnya dapat bernafas lega, karena Widia belum berhasil membongkar fakta yang sebenarnya. Ia berjalan tertatih menuju ruangan ritual, nampak Widia terus berontak meski ia terlilit dan terbungkam selendang. Hantu nek Windu diam dengan tatapan nanar, ternyata masih ada sedikit kasih sayang untuk cicit nya.


Kini Mariyati sudah ada di depan Widia, ia mengayunkan tangan dan memukul Widia hingga terjungkal. Keningnya membentur tembok hingga berdarah. Kepala Widia berkunang-kunang, ia berusaha mendapatkan kesadarannya kembali. Tapi percuma, karena sekali lagi Mariyati melayangkan pukulan ke wajahnya. Akhirnya Widia tersungkur dengan darah yang membasahi keningnya. Tanpa sadar sosok nek Windu menghisap habis darah itu. Karena sosok sepertinya memang tak tahan dengan aroma darah.


"Sudah cukup Windu, hentikan! Belum waktunya kau menikmati darah itu. Pergilah, biarkan aku menyelesaikan semua ini sendiri!" Seru Mariyati seraya berjalan tertatih dengan tubuh yang membungkuk.


Malam itu menjadi malam yang cukup panjang untuk Mariyati. Karena dengan tubuh tua nya, ia harus mengatasi Widia seorang diri. Belum lagi besok pagi ia harus bersembunyi dari para mahasiswa lainnya. Karena wujud tuanya akan tetap bertahan meski pagi sudah tiba. Dan dari prediksi nya yang terlambat, bulan purnama akan berlangsung selama tiga hari ke depan. Dan ia terpaksa menyembunyikan jati dirinya. Kini Mariyati terpaksa mengikat tubuh Widia, ia juga membungkam mulutnya dengan lakban.


Sintia tak dapat tidur dengan nyenyak. Ia berkali-kali melihat keluar jendela, berharap Widia akan segera kembali. Tapi harapannya seakan pudar, karena sudah hampir dua jam menunggu namun tak ada tanda-tanda Widia akan datang. Sintia bangkit dari tidurnya, ia membangunkan Dina yang tertidur lelap.


Dina tak bergeming, ia masih tetap memejamkan matanya. Namun Sintia juga tak mau menyerah, ia terus berusaha membangunkan Dina.


"Apa an sih lu! Bisa gak biarin gue istirahat dengan tenang! Perkara Widia belum balik aja sampai segitu hebohnya!" Seru Dina dengan menghembuskan nafas panjang.


"Kok lu gitu sih Din? Ini bukan masalah sepele tau gak! Kalau ada apa-apa sama Widia gimana, lu juga tau kan di daerah sini tuh berbahaya. Masih banyak buronan yang sembunyi di sekitar sini. Takutnya dia kenapa-napa tau gak!" Sahut Sintia seraya mengacak rambutnya kasar.


"Terus salah gue gitu, kalau Widia hilang? Kalau lu hawatir cari aja sana, gak usah ganggu gue tidur!" Dina bersikap acuh, lalu merebahkan tubuhnya kembali.


"Astaga, gitu amat sih lu jadi orang! Widia itu teman kita, kalau ada apa-apa sama dia kita juga yang susah. Seandainya gak ada peraturan yang ngelarang kita buat keluar kamar malam-malam, dari tadi juga gue udah cari Widia!"


"Terserah lu aja deh Sin. Gue gak mau debat sama lu!" Sintia berjalan ke dekat jendela, ia mengamati sekitar.


Sintia terus menunggu hingga rasa kantuk menyerangnya. Ia tertidur di kursi depan jendela, sampai suara adzan subuh membangunkan nya. Sayup-sayup ia membuka kedua matanya, berharap jika Widia sudah ada di tempat tidur. Namun harapannya sirna, saat ia menyadari jika temannya itu belum kembali juga. Sontak saja Sintia semakin panik, ia berlari ke ruangan Mariyati untuk melaporkan hilangnya Widia. Namun setelah mengetuk pintu berkali-kali, tak ada jawaban dari dalam. Ia memberanikan diri untuk membuka gagang pintu, tapi suara nek Dijah mengurungkan niatnya.


"Mariyati sedang tidak ada di Panti. Barusan dia pergi ke kota buru-buru, dan tak sempat berpamitan. Kau ada perlu apa kesini pagi-pagi?" Tanya nek Dijah mengaitkan kedua alis mata.


Sintia menggelengkan kepala seraya menghembuskan nafas panjang. Ia tak tau harus berkata apa pada lansia itu, karena yang bertanggung jawab di Panti itu adalah Mariyati. Namun perempuan itu tak berada disana, sehingga Sintia bingung harus bagaimana.