TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 83 PINDAH ALAM.


Dokter datang ke ruangan Sintia, untuk memeriksanya dan memberikan resep obat. Hari itu Sintia sudah diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit, dan hanya perlu mengkonsumsi obat dari dokter saja. Nampak Adit masih berada disana untuk memastikan kondisi Sintia benar-benar pulih. Bahkan ibu Sintia sangat berterima kasih, karena Adit sebagai petugas polisi selalu mendampingi putri mereka.


"Kalau begitu saya pamit kembali ke Jakarta. Mengenai kasus hilangnya teman-teman Sintia, biar saya kordinasikan dengan polisi setempat. Saya akan tetap memantau dan menyelidiki kasus ini, karena sepertinya kasus mengarah ke hal mistis. Kalau terjadi apa-apa bapak atau ibu bisa menghubungi saya." Ucap Adit seraya memberikan selembar kartu nama.


"Terima kasih ya pak, sudah mau membuang waktu menjaga keselamatan anak kami." Kata ibu Sintia dengan mata berkaca-kaca.


"Pak polisi, apakah kau mengenal baik mbak Rania dan mbak Ayu? Tolong minta mereka untuk segera mendatangi ku. Aku takut terjadi sesuatu pada ketiga temanku. Bahkan sudah beberapa kali aku bermimpi buruk tentang mereka. Seakan aku benar-benar berada di tempat itu, aku tak mau kembali lagi kesana pak!" Seru Sintia dengan berlinang air mata.


Ibu Sintia langsung memeluk anaknya, dan menyeka air matanya. Sang ibu merasa cemas setelah mendengar cerita putrinya. Ia berkata akan mencarikan orang pintar yang mengerti dengan dunia gaib, untuk membebaskan putrinya dari trauma batinnya.


"Kau tenang saja Sintia, ibumu akan melakukan segalanya untukmu. Saya juga akan menyampaikan pesanmu pada mereka. Semoga salah satu dari mereka bisa menolongmu terlebih dulu. Karena baik Rania ataupun mbak Ayu sama-sama memiliki kesibukan. Saya permisi pergi sekarang, karena ada pekerjaan lain yang harus diurus." Pungkas Adit seraya menjabat tangan Sintia dan keluarganya.


Setelah itu Sintia dibantu ibunya mulai berkemas. Sesekali Sintia menghirup aroma bunga tujuh rupa disertai dengan bau kemenyan. Ia bergidik lalu mengusap belakang tengkuknya.


"Bu... Kenapa setiap kali menghirup aroma ini, Sintia jadi ingat dengan Panti jompo itu. Ada hal yang belum Sintia ceritakan pada ibu, mengenai nenek buyut. Apakah benar neneknya ayah bernama Siti? Kalau memang benar, berarti ada misteri dibalik itu semua. Kedatangan Sintia dan teman-teman kesana bukanlah sebuah kebetulan." Kata Sintia seraya menggenggam tangan sang ibu.


"Mungkinkah mereka mengalami nasib yang sama seperti teman-teman mu itu nak?" Imbuh ibu Sintia dengan suara bergetar.


"Sintia juga gak tau bu, karena keberadaan teman-teman belum jelas kemana. Dua di antara kelima temanku berpamitan kembali ke kota, tapi sampai sekarang Sintia gak tau kemana mereka. Bahkan salah satunya, dikabarkan dalam pencarian pihak kepolisian karena menghilang. Lalu bagaimana jika teman-teman Sintia yang lainnya juga menghilang seperti ayah dan juga paman?" Celetuk Sintia tertunduk lesu.


Ibu dan anak itu saling memeluk dan menguatkan diri. Sampai terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkan keduanya. Seorang perawat meminta sang ibu untuk menebus resep obat di apotik rumah sakit. Sebelum ibunya pergi, Sintia diminta menunggu di dalam ruangan nya sampai ibunya kembali.


Baru beberapa menit ibunya pergi. Perhatian Sintia teralihkan dengan benda yang menggelinding di lorong. Seorang anak kecil berusia tiga tahun sedang memainkan bola kecil. Sintia membantu untuk mengambil bola itu, namun bola terus menggelinding sampai ke depan taman yang ada persis di depan ruangan nya. Bola tersebut masuk ke dalam semak-semak. Sintia merogohkan tangannya ke dalam untuk mengambil bola itu. Ia meraba-raba ke bagian dalam rumput yang lebat, namun ia kesulitan menggapainya. Tubuhnya dimajukan ke bagian dalam rumput yang lebat, namun tiba-tiba ia merasakan hawa dingin di sekitar telapak tangannya. Sampai ia benar-benar merasa ada sesuatu yang menarik tangannya masuk ke dalam. Ia membulatkan kedua mata begitu melihat sosok hitam dengan bola mata merah ada di depan matanya. Sosok hitam yang memiliki kulit tangan hitam dengan kuku panjang yang menggores bagian pergelangan tangannya. Dengan mudahnya menarik tubuhnya ke sebuah tempat gelap, dengan aroma lumut yang pekat serta pengap seakan tak ada udara segar disana. Bahkan Sintia sampai tak sadarkan diri karena rasa takut yang terlalu besar menguasainya.


Sang ibu berlari tergesa-gesa kembali ke ruangan. Ia mendapati putrinya sudah tak ada disana, hanya tersisa barang-barang yang tergeletak di lantai. Ia bertanya pada orang-orang yang ada diluar ruangan, dan seorang anak kecil berusia tiga tahun menunjuk ke arah taman depan. Tanpa curiga sang ibu berjalan ke taman tersebut, ia menoleh ke segala arah dan tak melihat siapapun disana. Ia menggaruk kepala yang tak gatal, kebingungan mencari dimana keberadaan putrinya.


Dari kejauhan sepasang mata mengintip di balik dinding. Ia menyeringai melihat ibu Sintia berteriak histeris memanggil nama putrinya berulang kali. Seakan ada kepuasan melihat penderitaan perempuan itu, ia berjalan semakin mendekat. Berpura-pura perduli dan menyapa nya, ia tersenyum licik melihat perempuan yang ada di depannya panik. Ternyata ia sangat senang mengetahui jika Sintia tiba-tiba menghilang, dan meninggalkan ibunya tanpa berpamitan.