TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 74 TEROR TENGAH MALAM.


Malam itu Riko terjaga di dal kamarnya. Ia mencemaskan Widia yang tak tau dimana keberadaan nya. Ia merasa tak berguna jika hanya berdiam diri saja. Akhirnya Riko membulatkan tekad untuk mencari Widia, dan menelusuri kecurigaan nya tentang Panti itu. Ia mengendap keluar dari kamarnya, melihat ke sekitar hawatir jika ada yang memergokinya. Nampak suasana diluar sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik saja. Ia memulai penyelidikan nya ke bangunan tempat para lansia lelaki tinggal. Karena bangunan itu terpisah dari ruangan Mariyati, yang akan memudahkannya mencari bukti. Sesampainya di kamar pertama, Riko mengintip dari balik lubang jendela. Di dalamnya adalah kamar kakek Bimo. Riko menyipitkan sebelah mata, untuk memudahkannya melihat ke bagian dalam. Tak ada cahaya sama sekali, hanya gelap yang ia lihat. Riko pelan-pelan membuka sedikit jendela kayu itu, setelah ada sedikit celah dan cahaya dari luar masuk ke dalam. Terlihat pemandangan yang membuatnya tercekat. Ia hampir tak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Itu kan Beny! Ngapain dia ada disini, di dalam kamar kakek Bimo. Dari gerakannya kayak lagi sembahyang orang china gitu?" Batin Riko di dalam hatinya.


Ia memajukan tubuhnya ke dalam kamar itu, namun hembusan angin besar menggerakan jendela hingga terdengar suara gaduh. Sosok Beny membalikkan tubuhnya menghadap Riko, seketika Riko dapat melihat dengan jelas wajah pucat Beny serta darah kering yang membekas di wajahnya. Riko menelan ludah kasar seraya memundurkan langkahnya. Ia menggelengkan kepala tak percaya. Dilihatnya wajah salah temannya sangat pucat, bahkan auranya terasa sudah bukan manusia lagi.


Whuuuussd.


Tubuh hampa Beny melesat mendekati Riko. Ia memiringkan kepala dengan senyum mengerikan. Beny meminta tolong pada Riko untuk membebaskan jiwanya dari ikatan perjanjian gaib kakek buyutnya. Tentu saja Riko tak mengerti, dan berusaha pergi dari sana. Ia berlari melewati lorong gelap dan berhenti tepat di depan pintu kamar kakek Dodit. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Riko meletakkan tangannya tepat di pintu, dan pintu itu terbuka karena dorongan tangannya. Terdengar suara derit pintu, ia pun menolehkan kepala ke dalam. Lagi-lagi ia melihat seseorang di dalam kamar, namun orang itu bukanlah kakek Dodit. Melihat dari postur tubuhnya, ia terlihat masih muda. Begitu sosok di dalam sana membalikkan tubuhnya, Riko dapat melihat jika yang sedari tadi ia pandang adalah Dony temannya. Karena Dony menundukkan kepala, Riko tak mengetahui jika temannya itu sama seperti Beny hanya jiwa tanpa raga. Ia berjalan pelan masuk ke dalam kamar, untuk memastikan jika yang dilihatnya benar-benar Dony. Ia baru saja akan menyentuh tubuhnya, namun ia kembali dikejutkan dengan penampakan wajah Dony yang sama menyeramkan nya dengan Beny. Riko membulatkan kedua mata, sebelum ia berlari meninggalkan kamar itu. Kedua sosok temannya mengejarnya, mereka berdiri mengambang mengikuti kemana ia berlari.


Bruugh.


Riko terjatuh setelah menabrak sesuatu yang tak dilihatnya. Ia mendongakkan kepala ke atas, dan melihat sosok pocong dengan belatung yang berjatuhan ke lantai sedang menatapnya tanpa berkedip.


"Sial! Mimpi apa gue semalam dikejar banyak penampakan kayak gini!" Seru Riko frustasi dengan mengacak rambutnya kasar.


Sesampainya di kamar Dina, Riko mengetuk pintu beberapa kali. Tapi tak ada jawaban dari dalam sana. Ia berusaha membuka pintu itu dari luar, namun sepertinya pintu terkunci dari dalam. Ditengah kepanikan nya, Riko justru mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Dina. Bahkan terdengar suara berisik dari ranjang kayu yang bergoyang. Riko sudah tak dapat berpikiran jernih lagi, ia berusaha mendorong pintu kamar Dina dengan mendobrak pintu tersebut. Setelah bersusah payah dan pintu berhasil setengah terbuka, Riko langsung melangkah ke dalam. Namun karena kondisi ruangan yang gelap ia tak dapat melihat apa-apa. Dari arah belakang nya ada seseorang yang berjalan mengendap dengan memegangi balok kayu, yang siap di arahkan ke belakang tengkuk Riko.


Bruuugh!


Riko jatuh tersungkur ke lantai setelah Mariyati berhasil memukul tengkuknya. Dan dari dal kamar Dina, nampak mbah Gito sedang berjalan dengan bertelanjang dada seraya membenarkan ikatan sarungnya. Dina masih terlentang di atas ranjang kayu, lalu ia meraih kain jarik parang yang tercecer di lantai, lalu menutupi tubuh polosnya. Terdengar nafas berat mbah Gito, ia terlihat murka dengan apa yang dilakukan Riko.


"Lancang sekali bocah ini mengganggu kesenangan ku! Akan ku beri pelajaran dia nanti!" Seru mbah Gito dengan membulatkan kedua mata.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Riko bisa sampai datang ke kamar Dina? Bukankah seharusnya kalian masih menikmati malam bersama?" Tanya Mariyati mengaitkan kedua alis mata.


"Kenapa kau malah bertanya padaku? Aku justru terganggu karena kedatangannya yang tiba-tiba! Aku belum selesai menikmati malam bersama Dina, tapi pemuda ini lancang mendobrak pintu kamar! Aku benar-benar ingin melenyapkan nya jika ia memang tak berguna untuk kita!" Jawab mbah Gito murka.


Dina tergopoh-gopoh menghampiri kedua manusia sesat itu. Ia menyatukan kedua tangan, dan meminta pengampunan untuk Riko. Setengah hatinya tak tega melihat Riko terkapar dengan kening yang berdarah. Ia berniat membawa Riko kembali ke kamarnya, namun mbah Gito melarang. Karena apa yang mereka lakukan tadi belum selesai. Dan mbah Gito masih ingin melanjutkannya. Karena menurutnya permainan panas Dina lebih memuaskan ketika ia dalam keadaan sadar tanpa dihipnotis.