TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 58 SENJATA MAKAN TUAN!


Sundel bolong nek Dijah sudah sampai di hutan rawa mayit. Ia langsung menuju tempat dimana Sintia disekap. Nampak sesosok sundel bolong yang paling berkuasa disana tengah menanti kedatangannya. Ia sudah menjanjikan jiwa nek Siti sebagai taruhannya. Namun kini nek Dijah baru tau, jika salah satu dari mereka berenam celaka, maka perjanjian yang mereka buat bersama sosok dari alam berantah tak akan bisa dilanjutkan. Bahkan jiwa mereka semua bisa diambil sebagai gantinya. Kini mau tak mau, ia harus menipu pemimpin hutan rawa mayit supaya Sintia dapat ia bawa pulang kembali. Namun tiba-tiba saja kuntilanak nek Siti melesat tepat di hadapan mereka. Ia meminta penguasa hutan rawa mayit untuk melepaskan Sintia. Nampaknya Sintia dalam keadaan tak sadar, ia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong. Ia tak menunjukkan ekspresi apapun, sehingga kuntilanak nek Siti semakin cemas. Ia meminta pertukaran dirinya dengan Sintia. Sontak saja sundel bolong nek Dijah panik. Ia tak menginginkan pertukaran itu terjadi. Bukan karena ia perduli dengan jiwa nek Siti. Melainkan ia menghawatirkan keselamatan dirinya sendiri.


"Dasar bodoh! Kenapa kau mengacaukan rencanaku Siti! Memang awalnya aku ingin mempersembahkan jiwamu untuk pemimpin hutan rawa mayit. Namun setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, aku tak akan mungkin membiarkanmu celaka di tempat ini. Meski aku sangat menginginkan itu, namun aku juga harus memikirkan diriku sendiri. Aku terpaksa harus menghianati sesamaku." Batin sundel bolong nek Dijah di dalam hatinya.


Terlihat sundel bolong penguasa hutan rawa mayit tertawa kencang, hingga menggetarkan seisi pohon yang ada disana. Jiwa seorang kuntilanak akan selalu menambah energi dan kesaktian para sundel bolong. Karena itulah kedua hantu itu kerap kali saling bermusuhan. Namun sundel bolong nek Dijah membuat kekacauan. Ia menyadarkan Sintia, hingga membuat gadis itu gemetar ketakutan. Karena sebelumnya ia dalam keadaan tak sadarkan diri, tak ada sosok lain yang menjaganya. Tapi yang terjadi diluar dugaan. Begitu Sintia menyadari jika ia dalam keadaan bahaya, perlahan ia melarikan diri. Ia mengendap perlahan menghindari para sosok gaib yang ada di sekitarnya. Nampak sosok sundel bolong nek Dijah menyadari jika Sintia berusaha melarikan diri, namun ia memilih mengacuhkan nya. Sontak saja Sintia tercekat, ia merasa jika sundel bolong itu sengaja membiarkan nya pergi.


Setelah kepergian Sintia, penguasa hutan rawa mayit langsung melesat ke hadapan kuntilanak nek Siti. Lehernya tercekik hingga ke atas udara. Saat kuntilanak nek Siti dalam keadaan bahaya, dan hampir saja jiwanya musnah di tangan sundel bolong penguasa hutan rawa mayit. Nek Dijah pun membuat sandiwara baru, dengan mengatakan jika Sintia menghilang. Nampak kuntilanak nek Siti langsung memberikan perlawanan. Ia mendorong tubuh hampa penguasa hutan rawa mayit. Nek Dijah berkomunikasi melalui batin, dengan mengatakan keberadaan Sintia pada nek Siti.


"Cepat temukan Sintia, dia berlari ke arah utara hutan ini. Aku yang akan mengecoh penguasa hutan rawa mayit, supaya kau dapat membawa Sintia pergi dari sini!" Ucap nek Dijah melalui batinnya.


Sontak saja kuntilanak nek Siti terperanjat. Ia menatap sundel bolong nek Dijah dengan tatapan terheran-heran.


"Cepatlah pergi dari sini Siti! Sebelum aku menyesali perbuatan ku karena telah menolong mu!" Kata nek Dijah setengah berbisik.


Whuuuusd.


Kuntilanak nek Siti melesat pergi, meninggalkan tempat itu. Penguasa hutan rawa mayit langsung panik, dan meminta sundel bolong nek Dijah untuk pergi mencari Sintia. Karena jika Sintia dapat ditemukan, maka kuntilanak nek Siti akan datang dengan sendirinya. Mengetahui jika ada kejanggalan yang terjadi, para penghuni hutan rawa mayit dikerahkan untuk mencari keberadaan Sintia dan juga kuntilanak nek Siti. Tak ingin sesuatu hal yang lebih buruk terjadi, sundel bolong nek Dijah membantu nenek dan cicitnya pergi meninggalkan hutan sarang sundel bolong itu. Mereka melewati lorong rahasia yang tak banyak diketahui penghuni hutan. Nampak Sintia sudah ada di dekapan kuntilanak nek Siti, dan dibawa pergi meninggalkan hutan angker itu.


Kuntilanak nek Siti tak mau mengambil resiko dengan membawa Sintia kembali ke Panti. Kini ia mengantarkan Sintia pergi sampai batas hutan. Nampak Sintia berdiri dengan tubuh gemetaran. Ia menahan rasa takut bercampur dengan haru. Ia memandang wajah pucat sosok kuntilanak nek Siti. Sintia memberanikan diri menyentuh wajah pucat nenek buyutnya. Namun tangisan sosok yang ada di hadapannya membuat telinga Sintia sakit. Ia memundurkan langkahnya seraya menutupi kedua telinga.


"Maafkan nenekmu ini Sintia... Pergilah dari sini, ikutilah jalan setapak itu. Kau akan menemukan jalan besar setelah melewati gubuk tua di bawah pohon beringin besar. Disana adalah tempat tinggal Kirun. Kau bisa minta tolong padanya, supaya dia memberikan ongkos untukmu pulang ke kota. Nenek tau kau tak memiliki uang sama sekali, dan untuk bisa sampai kesana membutuhkan uang. Nenek akan sampai di Panti sebelum Dijah datang. Karena ia pasti akan mengadu pada Mariyati. Malam ini adalah malam terakhir bulan purnama. Hanya malam ini kesempatan terakhir ku untuk bisa membebaskan mu dari perjanjian terkutuk itu." Ucap kuntilanak nek Siti berlinang air mata.


"Ta tapi nenek buyut bagaimana? Kalau bu Mariyati marah dan melakukan sesuatu pada nenek, Sintia tak akan bisa memaafkan diri sendiri!" Kata Sintia menangis sesegukan.


Keduanya hanya bisa menangis meratapi nasib. Namun kuntilanak nek Siti meyakinkan cicitnya itu untuk segera pergi. Karena jika nek Dijah sampai lebih dulu di Panti, ia tak akan bisa melakukan apa-apa lagi. Mariyati pasti akan mengutus mbah Gito untuk mencari Sintia. Dan kebodohan nek Dijah adalah membiarkan nek Siti pergi bersama Sintia tanpa dirinya. Sehingga nek Siti bisa membebaskan Sintia dari ikatan perjanjian gaibnya. Namun ada satu hal yang ia lupakan. Yaitu ikatan jiwa Sintia dengan nek Siti belum terlepas sepenuhnya. Meski mereka berdua berjauhan, kelak jiwa keduanya akan tetap menyatu. Sebelum salah satu dari mereka benar-benar pergi meninggalkan dunia ini.


"Sintia pergi dulu ya nek... Nenek buyut harus beristirahat dengan tenang di alam keabadian. Jangan lanjutkan perjanjian dengan sosok dari alam kegelapan. Tolong maafkan semua keluarga yang telah menyia-nyiakan nenek dulu. Sintia akan mencari makam nenek buyut dan mengirimkan doa." Ucap Sintia seraya menyeka air matanya.


"Baiklah Sintia... Nenek memang sudah memaafkan mereka. Karena kau, nenek jadi menyesali semua yang terjadi di masa lalu. Cepat pergi Sin, nenek tak bisa menahan kesedihan untuk melihatmu pergi."


Keduanya hanya bisa menangis menghadapi perpisahan yang menyesakkan hati. Kini Sintia sudah melangkahkan kakinya pergi. Nampak kuntilanak nek Siti melesat ke atas udara mengiringi kepergian cicitnya