TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 72 WANITA MISTERIUS?


Sementara Riko sedang membuat rencana untuk menyelidiki yang sebenarnya, Sintia yang telah berhasil kabur dari Panti tak pernah lepas dari teror yang dikirimkan padanya. Hampir tiap menit ada saja gangguan yang ia alami. Dari penampakan bayangan hitam, hingga benda-benda di sekitarnya yang bergerak dengan sendirinya. Kini Sintia sudah menceritakan segalanya pada Rania dan Dahayu. Tapi kedua gadis itu belum bisa melakukan apapun. Selain mereka tak dapat melakukan penerawangan melalui batin, mereka juga tak tau harus melakukan apa. Karena siang nanti keduanya harus kembali ke Jakarta menggunakan mobil travel.


"Sorry ya Sin, kita berdua belum bisa bantu apa-apa. Tapi kalau kita berdua ada waktu senggang, pasti kita bakal bantu lu kok. Untuk sementara biar orang tua lu yang nyari pertolongan buat lu dan teman-teman. Gue udah cerita semua ke nyokap lu kok, beliau pasti cari cara buat selesaikan masalah ini. Kalau dirasa emang belum kelar juga, lu bisa hubungi gue. Lagipula gue juga penasaran dengan cerita lu, apalagi beberapa kali bayangan hitam itu nampakin diri di depan kita. Tapi kayaknya susah banget buat nembus dimensi gaib nya, pasti yang ada di balik makhluk itu bukan orang-orang sembarangan!" Seru Rania dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Iya mbak, kayaknya sih emang gitu. Ada yang aneh sama pengelola Panti itu. Dia itu usianya gak jauh dari kita, malahan hampir terlihat seumuran. Tapi dia punya aura dan wibawa yang gede banget. Sampai gue benar-benar sungkan dan segan di depannya. Berasanya kayak lagi berhadapan sama orang yang jauh lebih tua gitu. Bahkan para lansia yang ada disana juga kayak yang hormat dan patuh banget sama pengelola Panti itu. Padahal kan dia masih muda banget, kenapa kok bisa gitu ya?" Jelas Sintia dengan raut wajah kebingungan.


"Udah Sin, lu gak usah mikir segitu jauhnya. Lebih baik sekarang lu banyak istirahat aja, jangan terpancing dengan sosok hitam itu. Kalau dia muncul lu pura-pura aja gak lihat. Mungkin dengan begitu bisa mengurangi intensitas kedatangannya." Kata Dahayu seraya menepuk pundak Sintia.


"Makasih ya mbak, kalian berdua mau bantuin gue meski kita baru kenal. Hati-hati di jalan ya, jangan lupa datangin gue lagi ya mbak. Gue takut gak ada yang bisa bebasin teman-teman gue disana." Sintia terisak.


Rania dan Dahayu berusaha menenangkan Sintia seraya berpamitan padanya. Karena mereka harus segera pergi. Di depan pintu sudah ada Adit yang membawakan koper kedua gadis itu. Adit tak bisa kembali ke Jakarta bersama mereka. Karena ia harus menunggu Sintia sampai diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Namun tiba-tiba Rania menghentikan langkahnya. Ia sedang melihat ke ujung lorong, karena ada seorang wanita muda yang memperhatikan gerakannya.


"Lu ngapain berhenti disana Ran?" Tanya Dahayu seraya berjalan menghampirinya.


"Itu mbak ada yang lihatin kita dari tadi, tapi kok gue ngerasa aneh aja. Ngapain tuh orang lihatin kita fokus banget gitu." Jawab Rania tak memalingkan wajahnya.


"Dimana sih?" Dahayu penasaran dan melihat ke sekelilingnya.


Namun begitu Rania menolehkan kepala untuk memberitahu keberadaan wanita misterius tadi oada Dahayu, wanita tersebut langsung hilang begitu saja.


"Loh kok gak ada sih?" Ucap Rania dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Astaga kalian berdua ngapain berhenti disana?" Teriak Adit yang tiba-tiba menghentikan langkah, karena ada seseorang yang berbicara padanya.


Deeegh.


"Loh orang itu kan wanita yang lihatin gue tadi. Sejak kapan dia tiba-tiba ada di depan mas Adit, dan mau apa dia?" Batin Rania di dalam hatinya.


Seketika Rania mempercepat langkahnya, ia mendatangi Adit yang sedang berbicara dengan wanita muda tersebut.


"Anda lurus saja terus belok kiri, disana ada ruang jaga. Tanya saja pada perawat yang ada disana, pasti mereka bisa menunjukkan arah yang jelas dimana ruang radiologi." Ucap Adit memberikan penjelasan.


Wanita muda itu hanya menyunggingkan senyum pada Rania dan Dahayu. Dengan gestur tubuh, ia berpamitan meninggalkan mereka semua. Nampak Rania terheran-heran, bagaimana caranya wanita muda itu bisa sampai di depan Adit. Padahal mestinya wanita itu harus melewatinya terlebih dulu untuk sampai di tempat Adit berdiri. Namun ia berusaha berpikiran positif, dengan beranggapan ada jalan lain bisa mengarah ke Adit.


"Udah yuk jalan, ngapain bengong disini!" Seru Dahayu.


"Hmm wanita tadi mau apa mas?" Celetuk Rania.


"Gak mau apa-apa kok, dia cuma nanya ruang radiologi aja." Jelas Adit seraya melangkahkan kakinya.


Rania menoleh ke belakang melihat wanita muda tadi berjalan. Ia memandang ke arah ruangan dimana Sintia dirawat, membuat Rania semakin curiga. Namun wanita tersebut terus melanjutkan langkahnya, melewati ruangan Sintia tanpa melakukan apa-apa. Akhirnya Rania dapat bernafas lega, ia beranggapan jika dirinya hanua terlalu berpikiran negatif saja. Nyatanya tak lama setelahnya, wanita muda tadi justru berjongkok di depan teman yang ada di ruangan Sintia. Ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan yang ia bawa. Sesuatu di dalam kain berwarna hitam, yang di dalamnya nampak seperti kain putih lusuh yang terikat. Sontak saja Rania menarik tangan Dahayu, ia menunjuk ke arah wanita muda tadi berjongkok.