TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 52 MELARIKAN DIRI?


"Si siapa kau? Kenapa kau berdiri disana?" Tanya Widia berbicara gagap.


Widia memperhatikan sosok yang ada di depannya. Dari kejauhan ia yakin, jika yang ada di dalam ruangan bukanlah sosok Mariyati. Karena dari postur tubuhnya saja sudah berbeda. Widia kembali bertanya, namun sosok itu justru melesat lebih dekat ke arahnya. Sosok dengan pakaian khas penari jawa pada jaman dulu, dengan selendang merah yang melingkar di pinggul. Sosoknya memperkenalkan diri, sebagai nenek buyut Widia. Sontak saja Widia terkejut, ia melihat wajah hantu itu tak asing di matanya.


"Suara ini, gak! Gak mungkin! Hantu ini adalah perwujudan nek Windu! Jadi dialah nenek buyut gue? Tapi kenapa dia mau nyelakain gue?" Batin Widia bertanya-tanya dalam hati.


"Nduk cah ayu... Tak perlu bingung mencari alasan kenapa. Aku yang akan menjelaskan segalanya padamu." Ucap sosok nek Windu seraya mengusap rambut Widia.


Hening. Tak ada sepatah katapun yang Widia ucapkan. Ia masih dalam keadaan terguncang, dan tak menyangka dengan kenyataan yang ada. Widia duduk dengan berderai air mata ketakutan. Bahkan seluruh tubuhnya menggigil, ia tak dapat merasakan tubuhnya sendiri. Padahal ikatan yang melilit tubuhnya sudah hampir terlepas, namun ia tak berani menggerakkan tubuhnya. Di tengah-tengah kekalutan nya, samar-samar ia mendengar suara adzan subuh berkumandang. Nampak sosok nek Windu tiba-tiba memekik dengan tubuh hampa yang mengeluarkan asap putih tipis. Ia seperti kepanasan dan terbakar, setelah nya terdengar suara pekikan sosok gaib yang langsung menghilang begitu saja.


Nampak Widia sempat tercekat. Ia membuka lebar mulutnya, namun ia tau saat itu adalah waktu yang tepat untuknya melarikan diri. Karena setelah mendengar suara adzan, para sosok gaib tadi pasti akan kembali ke tempat persembunyiannya.


"Gue harus segera pergi dari tempat ini, sebelum bu Mariyati datang. Gue harus keluar sebelum matahari bersinar, karena sebentar lagi bu Mariyati juga akan masuk kesini untuk menyembunyikan wujud aslinya dari teman-teman. Tapi apa gue tega pergi seorang diri tanpa memberitahu yang sebenarnya ke mereka." Gumam Widia pada dirinya sendiri.


Meski kesulitan, Widia telah berhasil melepas tali yang melilit tubuhnya. Ia berusaha bangkit berdiri, namun kakinya keram karena terlalu lama menekuk. Ia nekat merangkak keluar, karena takut jika Mariyati tiba-tiba kembali ke ruangan nya. Susah payah Widia merangkak sampai lorong dapur, dan ia melihat Mariyati baru saja keluar dari ruang ritual. Ia sedang menuju ke ruang kerjanya. Seketika Widia berusaha bangkit berdiri, lalu bersembunyi di balik tembok dapur. Deru nafasnya sangat kencang, sampai ia memutuskan untuk menahan nafas supaya keberadaan nya tak diketahui Mariyati. Begitu Mariyati melewati lorong panjang, dan masuk ke dalam ruangan nya. Ia langsung bergegas pergi melalui taman belakang. Namun ketika ia melewati kamarnya, ia melihat Sintia sedang duduk di ujung tempat tidur. Di depannya ada sosok kuntilanak yang seakan berkomunikasi dengannya. Hampir saja Widia mengacuhkan Sintia, dan ingin melarikan diri sendiri. Namun naluri nya membuatnya menghentikan langkah. Widia berbalik arah, ia berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sintia... Jangan percaya dengan apa yang dikatakan kuntilanak itu! Dia adalah salah satu lansia yang kita rawat di Panti ini. Mereka adalah leluhur kita, yang menginginkan nyawa kita sebagai tumbal. Kita harus pergi dari sini Sin, ayooo!" Seru Widia dengan menangis sesegukan.


Sintia terdiam dengan raut wajah kebingungan. Ia memandangi wajah kuntilanak yang ada di depannya. Sosok astral yang bersusah payah menahan panasnya suara adzan, hanya demi untuk meyakinkan nya. Mungkinkah sosok itu berniat jahat untuk menumbalkan nyawanya. Hanya sosok kuntilanak itu saja yang bisa menahan panasnya bacaan ayat-ayat suci. Sementara sosok hantu yang lainnya sudah kembali ke tempat persembunyian.


Sintia tak bergeming, ia justru fokus melihat wajah sendu sosok astral yang ada di depannya.


"Percayalah padanya Sin, kami semua disini adalah jiwa tanpa raga. Kami semua membutuhkan tumbal nyawa dari keturunan kami sendiri. Kau adalah cicitku yang baik hati, aku tak akan tega menjadikanmu korban untuk kelangsungan hidupku yang palsu ini." Ucap sosok kuntilanak nek Siti yang secara kebetulan merubah wujudnya menjadi manusia yang tak memiliki raga.


Setiap pagi tiba, para sosok lansia itu akan berubah wujud menjadi jiwa tanpa raga yang berwujud manusia seperti pada umumnya. Tak ada kekuatan ataupun hal spesial yang bisa mereka lakukan, jika wujudnya sudah berubah. Sontak saja Sintia dan Widia sangat terkejut dengan membulatkan kedua mata. Mereka berdua berdiri saling berhimpit dengan wajah ketakutan. Mereka baru saja menyaksikan perubahan wujud kuntilanak nek Siti menjadi manusia. Keduanya tak menyangka jika ada hal gaib semacam itu di sekitarnya.


"Pergilah dari Panti ini, ajak juga Riko. Karena sebenarnya kakek Ridho juga tak ingin mendapatkan persembahan jiwa dari cicitnya." Ucap nek Siti dengan mata berkaca-kaca.


"Bohong! Dia bohong Sin, buktinya gue aja disekap sama bu Mariyati. Karena nenek buyut gue mau numbalin gue. Kalau gue gak bisa melepaskan ikatan, pasti gue bakal tiada dalam beberapa hari ke depan! Dia pasti juga sekongkol dengan para lansia lainnya!" Jerit Widia, tak mempercayai nek Siti.


Nek Siti tertunduk dengan wajah sendu. Ia sampai berlutut di depan Sintia, karena tak tau harus bagaimana untuk meyakinkan cicitnya itu. Terlihat Sintia melangkahkan kaki mendekati nek Siti, ia menyentuh pundak sosok tua itu lalu membantunya berdiri. Sintia mengusap air mata yang membasahi wajah keriput nek Siti. Ia juga berlinang air mata, tak tega melihat penderitaan yang ditunjukkan nek Siti melalui raut wajahnya. Widia kembali memperingatkan Sintia untuk tak terperdaya dengan lansia yang ada di depannya. Namun Sintia justru meminta Widia untuk diam, ia memberi petunjuk dengan gestur tubuh. Sintia meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, karena ia mendengar suara langkah kaki yang menuju kamar mereka.


"Widia bersembunyi lah dulu, nenek buyutmu sedang menuju kesini. Meski belum ada yang menyadari jika kau melarikan diri, lebih baik tak ada yang melihatmu disini. Setelah semuanya aman, kalian bisa menjemput Riko dan bersama pergi dari tempat terkutuk ini!" Pungkas nek Siti seraya menyunggingkan senyumnya.


Widia masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia panik tak tau harus berbuat apa, seketika Sintia menarik tangannya dan mendorong tubuh Widia ke dalam kamar mandi. Ia tak tau harus bagaimana lagi, meski ia belum sepenuhnya percaya pada nek Siti. Ada sebagian dirinya yang memintanya untuk mendengarkan perkataan lansia itu. Sehingga ia buru-buru menyembunyikan Widia dari penglihatan lansia lainnya.