
Riko mendongakkan kepala ke atas, ia melihat sinar matahari masih terang.
"Kok udah siang aja sih Sin?"
"Siang apanya Ko? Udah jam empat sore nih, sono bantu para kakek dulu. Gue cariin di kamar gak ada, malah lu jongkok disini."
Sintia mengetuk pintu kamar Nek Siti, dan tak lama terdengar derit suara pintu yang terbuka. Nek Siti melihat keluar kamar, ia menegur Riko supaya cepat pergi ke bangunan sebelah. Karena para kakek itu pasti sangat membutuhkan bantuannya. Dengan tergesa-gesa Riko bergegas pergi. Di dalam kamar mandi, Nek Siti mengatakan jika nanti malam para lansia itu akan merayakan syukuran ulang tahun kakek Dodit. Namun sebenarnya ia tak ingin menghadiri acara tersebut.
"Kalau nenek gak datang, pasti Mariyati akan marah. Karena bagaimanapun kami harus selalu bersama disaat suka maupun duka. Namun untuk setiap perayaan ulang tahun kami, nenek tak terlalu suka merayakan nya. Karena itu hanya akan menambah beban nenek saja." Jelas Nek Siti tertunduk dengan wajah sendu.
"Kenapa nenek harus melakukan sesuatu yang gak disukai? Bukankah gak seharusnya bu Mariyati memaksakan kehendak. Kalau emang nenek gak mau, biar Sintia saja yang bilang."
"Gak usah Sin, meski nenek gak mau, nenek tetap harus menghadirinya. Nanti malam kalian harus tidur lebih nyenyak dari biasanya, karena Mariyati pasti akan memberikan jamu penambah energi pada kalian."
Nampaknya nek Siti sengaja memberitahu sesuatu, dengan membahas jamu penambah energi. Mungkin nek Siti ingin mengatakan, jika ia tak menginginkan Sintia meminumnya. Supaya Sintia dapat menemukan kebenaran, mengenai sesuatu yang disembunyikan dibalik perayaan ulang tahun para lansia itu.
"Kenapa nenek melihatku seperti itu? Ayo kalau mau santai di teras belakang."
"Gak usah Sin, sudah jam lima. Sebentar lagi magrib, lebih baik nenek di kamar saja sampai jam makan malam. Pergilah jika kau ingin bersama yang lain."
"Sintia nemenin nenek disini aja ya, tiba-tiba Sintia jadi kangen sama mendiang nenek. Dulu nenek Sintia hilang gak tau kemana, nenek buyut juga gak jelas ada dimana. Jadi dengan menghabiskan waktu bersama nenek, Sintia jadi ngerasa punya nenek lagi." Ucap nya seraya menggenggam tangan nek Siti.
Nampak raut wajah nek Siti berubah sendu, matanya berkaca-kaca lalu mendekap Sintia dalam pelukan nya. Di dalam hati nek Siti, ada ruang tersendiri untuk Sintia. Ia tak ingin jika cicitnya terjebak dalam ritual sesat Panti Jompo. Namun kedekatan keduanya harus berakhir, karena Mariyati tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Sintia bantulah Riko, dia kerepotan mengurus ketiga kakek!" Tegas Mariyati sorot matanya tajam.
Sintia mengernyit, ia merasa jika Mariyati tak pernah membiarkan nya berdua dengan nek Siti dalam waktu yang lama. Namun ia terpaksa menuruti perintahnya. Setelah Sintia meninggalkan kamar nek Siti, Mariyati langsung menegur lansia itu.
"Jangan kau pikir aku tak tau tujuanmu yang sebenarnya Siti! Diam-diam kau dan juga Ridho ingin memberi petunjuk pada cicit kaliana. Berapa kali harus ku bilang padamu, kalau kau tak bisa merusak perjanjian yang telah disepakati bersama. Nanti malam kalian semua akan menyaksikan proses ritual persembahan jiwa untuk Dodit. Bersiaplah menunggu giliran mu." Ucap Mariyati menyeringai di hadapan nek Siti.
Waktu berlalu dengan cepat, setelah makan malam ke empat mahasiswa itu diberikan jamu penambah energi sesuai dengan perkataan nek Siti. Mereka saling menatap, dan berbisik satu sama lain. Karena mereka tak biasa mengkonsumsi obat tradisional seperti jamu.
Mariyati memaksa mereka meminum segelas ramuan yang ia buat. Ramuan jamu tersebut berkhasiat, supaya mereka terlelap lebih nyenyak dan bangun tanpa perlu mengingat teman-temannya yang telah meninggalkan Panti. Dengan terpaksa mereka meneguk jamu itu, hanya Sintia saja yang belum meminumnya. Ia tertegun melihat ketiga temannya meminum habis jamu yang terlihat sangat pahit. Ia bergidik membayangkan rasa jami itu, sampai akhirnya Mariyati membentaknya dengan membulatkan kedua mata. Dengan reflek Sintia berpura-pura meminum jamu itu, namun ia menahannya di dalam mulut supaya tak tertelan. Rasa pahit luar biasa menjalar di lidah hingga tenggorokan nya.
"Baguslah kalau kalian menurut, setelah membersihkan semuanya kalian boleh tidur." Mariyati melangkahkan kakinya pergi.
Sementara itu Sintia langsung berlari ke dapur dengan membawa gelas di tangannya. Ia bermaksud memuntahkan jamu yang ia tahan di dalam mulutnya. Baru saja ia membuka mulut di depan wastafel, ia terkejut karena mendengar suara langkah kaki dari arah belakangnya. Ia menahan setengah jamu itu di dalam mulutnya lagi, namun karena Widia mengejutkannya dari belakang. Reflek Sintia meneguk jamu yang sedari tadi ia tahan dengan susah payah supaya tak tertelan.
Gleeek.
Sintia langsung bergidik merasakan pahit di dalam kerongkongan nya. Dengan cepat ia mengambil segelas air, untuk menetralkan rasa pahit.
"Lu kenapa kaget gitu Sin?" Tanya Widia mengaitkan kedua alis mata.
"Kampret lu Wid! Gue kira tadi bu Mariyati, gak taunya malah lu. Jadi ketelen kan jamu nya!" Jawab Sintia dengan menghembuskan nafas panjang.
"Loh dari tadi emang belum lu telen? Gila kuat banget lu nahan jamu sepahit itu di dalam mulut." Widia nampak shock, ia seperti kagum pada Sintia.
"Apa sih, bukan itu masalahnya. Gue tuh cuman ngerasa gak boleh minum jamu tadi. Makanya gue ikutin kata hati, eh gara-gara lu jadi gagal deh niat gue!"
"Ya sorry Sin, gue kan gak ada maksud. Lagian gue kira udah lu minum jamunya, dan lu kebelakang mau ambil air putih sama kayak yang lainnya."
Di tengah-tengah obrolan mereka, kakek Dodit bersama kakek Bimo datang ke dapur. Kakek Dodit berpesan supaya Sintia dan Widia memastikan ayam jantan hitam, yang disediakan untuknya segera dibawa ke teras belakang.
"Besok pagi aja deh kek, di belakang udah gelap. Lagian kan mau dimasak buat besok pagi kan?" Sahut Widia dengan memandang ke taman belakang.
"Jangan sembrono kalau ngomong! Itu ayam tidak untuk dimasak, ayam itu harus digunakan untuk ritual kesehatan ku. Supaya besok pagi aku dapat bangun dengan lebih sehat dan bugar." Pungkas kakek Dodit mendengus kesal.
Kakek Bimo kembali menekankan supaya keduanya menyiapkan ayam itu di teras belakang. Terpaksa mereka menurutinya, berjalan di tengah gelapnya malam. Meski taman belakang tak terlalu jauh dari kamar mereka, tetap saja suasana horornya sangat terasa. Sintia dan Widia saling bergandengan, mereka melewati halaman belakang yang banyak pohon pisang dan pohon bambu yang besar-besar. Sejauh mata memandang, hanya ada kesan angker yang terasa. Terdengar suara daun yang saling bergesekan, padahal tak ada hembusan angin di sekitar sana. Peluh sudah mulai membawa kening keduanya, sampai mereka terdiam di tempat. Ketika melihat satu batang bambu seperti tertarik sampai menyentuh ke bawah tanah. Entah ada misteri apa dibalik batang bambu, yang tiba-tiba merunduk ke tanah itu. Yang jelas Sintia dan Widia sama-sama tak berani menggerakkan tubuhnya. Mereka berdiri berhimpitan, tak berani melanjutkan langkah kakinya.