
Rania dan Dahayu terus dipaksa untuk singgah, hingga keduanya pun terpaksa menerima tawaran. Mereka duduk di ruang tamu dengan cahaya temaram, karena menurut si pemilik bangunan ia harus menghemat biaya listrik. Jadi ia hanya menggunakan listrik secukupnya saja. Mereka disuguhi teh hangat dan kue bolu di atas piring besi jaman dulu. Sesekali gadis muda itu menengok ke belakang, seperti ada yang mengganggu pikirannya.
"Silahkan diminum dulu, saya tinggal ke belakang sebentar. Kalau kalian mau ke toilet bisa panggil saya dulu, nanti saya antarkan." Ucapnya tersenyum datar.
Dahayu tanpa curiga menyeruput teh hangat tersebut, sementara Rania malah terpaku melihat arsitektur bangunan tua. Ia menggaruk kepala yang tak gatal, lalu bangkit dari duduknya. Ia menyentuh guci besar yang ada di sudut ruangan, kemudian memejamkan kedua mata berharap mendapatkan gambaran mengenai masa lalu bangunan itu. Namun hanya ada energi gelap yang terpancar, Rania tak dapat menembus dimensi gaib nya.
"Sebenarnya apa yang nutupin penglihatan batin gue ya? Makin gue telusuri, kayak ada yang susah payah ngehalangin gue. Tapi kenapa, apa yang menangkal penelusuran gue ini?" Batin Rania di dalam hatinya.
Sementara di dalam sana, Mariyati dan mbah Gito sedang kebingungan. Karena Riko yang tak sadarkan diri di taman belakang tiba-tiba hilang begitu saja. Karena itulah Mariyati sengaja membawa Rania dan Dahayu untuk singgah di tempatnya. Karena keduanya tau, jika dua gadis yang ada di depan Panti Jompo bukanlah gadis biasa. Mereka tak mau jika Riko sampai bertemu dengan Rania ataupun Dahayu, sehingga mereka mengambil resiko untuk menawarkan tempat singgah saja. Tentu bukanlah tanpa persiapan, mereka sudah curiga ketika melihat pak Kirun berjalan beriringan dengan dua gadis muda itu.
"Kau buat saja kedua gadis itu sibuk disini, aku yang akan mencari Riko. Semoga saja dia tak bertemu dengan Kirun di jalan." Pungkas mbah Gito dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Semua ini salahmu Gito, kenapa kau terlalu lama memadu kasih dengan Dina. Sehingga Riko bisa kabur, disaat aku sedang sibuk menyiapkam segalanya untuk ritual Dijah!" Sahut Mariyati membulatkan kedua mata.
"Sudah cukup! Tak perlu mempermasalahkan itu lagi! Aku akan melakukan pencarian, dan akan mengutus jiwa Beny dan Doni untuk menemukan Riko, sebelum ia bertemu dengan Kirun. Sebisa mungkin kau tahan kedua gadis itu di dalam Panti, jangan sampai mereka keluar sebelum Riko kembali."
"Lantas jika sudah subuh, apa aku harus tetap menahan mereka disini? Bagaimana kalau para lansia itu berkeliaran?"
Setelah pembicaraan itu, Mariyati kembali ke ruang tamu. Ia melihat Dahayu sudah setelah sadar, karena efek obat tidur yang ia campurkan di teh hangat. Sementara Rania masih terlihat segar, ia sibuk memperhatikan perkakas kuno yang ada di dalam lemari kaca. Ia penasaran dengan tempat yang tak bisa ia tembus dimensinya.
"Maaf mbak, kita belum berkenalan ya tadi. Nama saya Rania, saya sangat tertarik dengan rumah kuno seperti ini. Apakah saya boleh melihat-lihat ke sekeliling?" Ucap Rania seraya menyunggingkan senyuman.
"Nama saya Riya, tapi maaf sebelumnya. Bukannya saya gak mau kasih masuk ke dalam. Tapi Budhe saya gak suka ada orang asing yang berkeliaran di rumah nya. Makanya saya hanya kasih kalian singgah di ruang tamu. Mohon pengertiannya ya Rania... Saya gak bisa lancang ajak kau berkeliling." Pungkasnya dengan menganggukkan kepala.
Rania hanya bisa pasrah mendengar jawabannya, ia pun tak bisa memaksa dan memilih duduk di samping Dahayu yang sedang bersender di kursi kayu. Terasa hawa dingin yang menyeruak dari bagian dalam rumah tersebut. Samar-samar Rania melihat sekelebat bayangan putih melesat di depan lorong panjang yang gelap. Ketika ia fokus dengan bayangan itu, ia melihat sesosok kuntilanak sedang duduk di atas pohon yang tak jauh dari lorong tersebut. Rania terpancing melihat ke arah sana, membuat Mariyati curiga dan mengetahui jika sosok nek Siti sedang memancing perhatian Rania. Ia berkomunikasi melalui batin dengan sosok nek Siti, dan memintanya untuk segera kembali ke kamar. Namun kuntilanak nek Siti tak bergeming, dan mengeluarkan aura kesedihan yang besar. Sehingga Rania langsung merasakannya. Rania nampak gusar, ia duduk tak tenang dengan menggerakkan kakinya terus menerus. Mariyati mencoba mengalihkan perhatian, dengan membahas bantuan dari warga sekitar.
"Setelah subuh nanti, saya akan meminta bantuan dari warga sekitar. Supaya lebih cepat memindahkan pohon tumbang itu. Apakah kau tak ingin istirahat seperti temanmu ini. Minumlah teh hangat itu, supaya tubuhmu rileks, dan sedikit segar." Kata Mariyati mengalihkan perhatian Rania.
"Hmm nanti saja, apa saya boleh menumpang ke toilet sebentar?" Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Oh iya tentu saja. Mari ikut saya lewat lorong sini. Maaf kalau agak gelap ya tempatnya." Jawab Mariyati terpaksa membawa Rania ke belakang.
Di sepanjang perjalanan melewati lorong gelap, Rania berusaha berkomunikasi dengan sosok kuntilanak nek Siti. Namun sosoknya masih diam seribu bahasa, tak mengatakan apapun. Hanya terasa aura kesedihan yang sangat besar, membuat Rania ikut merasakan duka yang ia sendiri tak tau apa penyebabnya. Akankah mereka berhasil berkomunikasi, meskipun ada Mariyati disana.