
Di dalam hutan rawa mayit hanya ada sekumpulan sundel bolong yang tinggal. Tempat itu dijadikan wilayah kekuasaan para hantu dengan punggung berlubang, yang menaruh dendam pada beberapa manusia. Dan hanya manusia yang berilmu hitam saja yang mendatangi tempat itu, untuk menjadikan para sundel bolong sebagai peliharaan. Sundel bolong ditugaskan untuk berbagai hal buruk. Mulai dari santet, hingga pesugihan. Sementara sundel bolong nek Dijah memilih lepas dan mengabdi pada pengelola Panti yang dulu merawatnya.
Para sundel bolong itu saling membantu ketika sundel bolong yang lainnya terkena masalah. Karena itulah, sundel bolong nek Dijah membawa Sintia ke hutan itu. Supaya Kuntilanak nek Siti tak bisa menemukannya Sintia dengan mudah. Karena ia harus berhadapan dengan para sundel bolong yang menempati hutan itu.
Sintia disembunyikan di dalam pohon besar, yang di dalamnya ada sundel bolong yang paling berkuasa disana. Sintia dijadikan jaminan oleh nek Dijah, supaya dapat menjebak nek Siti datang. Dan ia akan melenyapkan jiwa nek Siti hingga tak bisa menerima persembahan jiwa siapapun lagi. Karena dendam di masa lalu, membuat kedua sosok hantu itu terlibat masalah hingga sekarang.
Sore itu, para lansia sudah keluar dari kamar mereka masing-masing. Dan tak ada satu pun anak muda yang membantu mereka. Nek Windu curiga jika para anak muda itu telah melarikan diri. Ia terburu-buru pergi ke kamar Sintia, dan yang ia lihat hanya Dina saja. Para lansia sudah tau mengenai kepulangan Dina, sehingga mereka tak terkejut melihat gadis itu di dal kamarnya. Namun ketidakhadiran Sintia semakin membuat para lansia cemas. Kakek Bimo dan kakek Dodit juga mengatakan kalau Riko tak ada di dalam kamarnya. Karena cemas, akhirnya mereka berbondong-bondong menemui Mariyati di dalam ruangan nya. Nampaknya Mariyati sendiri juga belum tau apapun, ia yang sedang bersemedi untuk menghemat energinya justru terkejut mendengar ucapan para lansia.
"Apa kau juga membiarkan cicitku pergi?" Bentak nek Windu melotot.
Hening. Tak ada jawaban dari Mariyati. Perempuan tua itu hanya berjalan mondar-mandir di dalam ruangan nya. Tak lama mbah Gito datang, dan meminta mereka untuk keluar dari ruangan Mariyati.
"Kalian akan membuat Sintia curiga. Lebih baik kalian melakukan aktivitas seperti biasa."
"Apa kau lalai dalam mengawasi cicitku? Gito... Kau terlalu sibuk mengurusi Dina, sampai kau tak tau jika Sintia telah hilang!" Ucap nek Siti menahan amarah.
"Kita sudah berusaha sebaik mungkin. Apa kau tak tau apa yang direncanakan cicitmu itu Siti?" Bentak Mariyati dengan nada suara tinggi.
Nampak semua lansia terdiam, mereka saling menatap penuh tanya. Sampai akhirnya mbah Gito menjelaskan apa yang telah terjadi di belakang mereka.
"Kau beruntung Windu, aku sudah datang dan mengetahui segalanya sebelum para anak muda itu berhasil menjalankan rencananya. Karena kalau tidak, kau pasti akan kehilangan persembahan jiwa dari Widia." Jelas mbah Gito dengan suara beratnya.
"Percayalah padaku, gadis itu pasti akan segera kembali. Aku sengaja membuat rencana mereka terlihat berhasil. Tapi mengenai Sintia, aku tak tau menau. Entah apa yang sebenarnya terjadi." Kata Mariyati mengaitkan kedua alis mata.
Nek Siti terlihat marah, ia membalikkan tubuhnya menghadap nek Dijah. Tangannya menunjuk tepat di depan wajah lansia itu. Nek Siti mengatakan jika hilangnya cicitnya pasti ada hubungannya dengan nek Dijah. Karena sudah berulang kali nek Dijah berusaha mencelakai cicitnya.
"Apa kali ini kau punya bukti untuk menunduhku hah? Jangan asal bicara kau Siti!" Sahut nek Dijah membulatkan kedua mata.
Terjadi ketegangan di antara kedua lansia itu. Mariyati meminta mereka semua meninggalkan ruangan nya, hanya nek Dijah saja yang diminta tetap bersamanya.
"Kalian harus mengurus diri sendiri, karena untuk sementara waktu hanya ada Dina yang sedang mengandung. Dan dia tak bisa melakukan banyak hal. Aku akan memastikan Widia dan Riko segera kembali." Ucap Mariyati seraya mendongakkan kepala ke atas.
Mbah Gito berpamitan untuk menyelesaikan urusannya. Karena ia telah mengikat jiwa Widia, supaya ia tak bisa pergi jauh dari Panti. Dan tentunya, Riko juga tak akan mungkin meninggalkan Widia seorang diri. Keduanya saat ini sedang bersembunyi di suatu tempat yang tak jauh dari Panti. Tempat yang biasanya menjadi persembunyian para calon tumbal. Karena sebenarnya Widia dan Riko tak pernah benar-benar meninggalkan Panti. Karena sejak awal, para calon tumbal sudah terikat jiwanya dengan para lansia. Jadi meskipun mereka pergi meninggalkan Panti, tak akan lama pasti akan segera kembali. Apalagi Dina, yang kini tengah mengandung keturunan mbah Gito. Bagaimanapun caranya lelaki itu pasti akan menyelamatkan nyawa nya.
Kini Mariyati sudah berdiri tepat di depan nek Dijah. Ia mengancam nek Dijah, untuk mengatakan apa yang telah dilakukannya pada Sintia. Karena tak hanya menduga-duga saja, Mariyati juga yakin jika nek Dijah ada hubungannya dibalik hilangnya Sintia. Karena tadi pagi Sintia masih ada di Panti, dan siangnya tiba-tiba menghilang.
"Kalau kau tak mau mengatakan yang sebenarnya, jangan harap aku akan membantumu mendapatkan persembahan jiwa dari Dina!" Cetus Mariyati berkacak pinggang.
Setelah bulan purnama nanti malam berakhir. Wujud Mariyati akan segera kembali, dan semua kekuatannya juga bisa digunakan lagi. Ia mengancam nek Dijah dengan berbagai cara, supaya ia mengaku dan mengatakan dimana keberadaan Sintia. Namun nek Dijah tetap pada pendiriannya, sehingga Mariyati tak bisa memaksanya untuk mengaku.