
"Kek, kenapa perbuatan yang tidak sengaja kita lakukan bisa merusak segalanya dalam sekejap saja. Riko bingung harus berbuat apa." Ucap Riko seraya mengusap wajahnya kasar.
Kakek Ridho menyunggingkan senyum, ia memberi wejangan pada Riko. Supaya ia lebih legowo dan tak larut dalam kesedihan.
"Dulu kakek pernah melakukan kesalahan yang sama Ko. Akibat kesalahan di masa lalu, telah merusak segalanya yang ada di masa depan. Tapi bagaimanapun hidup tetap berjalan, kita harus menjalaninya dengan lapang dada. Hadapi segalanya dengan kepala tegak, jangan biarkan sesuatu yang buruk merusak hidupmu."
Riko merasa mendapatkan nasehat berharga dari kakeknya sendiri. Ia sedikit tenang, namun tetap saja ia merasa sedih karena setelah ini Sintia pasti akan bersikap dingin padanya. Tak lama setelah itu Mbah Gito datang, ia menyeringai di hadapan kakek Ridho. Nampaknya ia sengaja membuat kakek Ridho kesal.
"Saya mau pamit dulu, mungkin empat bulan lagi saya baru datang kesini. Tolong kalian semua jaga para orang tua dengan baik. Terutama kalian berdua!" Ucap Mbah Gito menunjuk ke arah Sintia dan Riko.
"Saya melihat kalian berdua ada sedikit masalah pribadi. Dan saya harap itu tak akan mempengaruhi kinerja kalian dalam membantu merawat para lansia yang ada disini." Imbuh Mbah Gito menatap keduanya.
"Kami tidak ada masalah pribadi Mbah, mungkin Mbah Gito salah paham saja." Jelas Sintia mengembangkan senyumnya.
Nampaknya kesalah pahaman mereka membuat suasana semakin canggung. Mereka tak saling pandang, dan tentu saja hal itu yang diharapkan Mbah Gito. Karena dengan begitu, usahanya untuk menjebak Riko akan semakin mudah.
"Bagaimana, berhasil?" Tanya Mariyati seraya menghampiri Mbah Gito.
"Masih ku usahakan. Malam ini akan ku selesaikan sisanya. Setelahnya kau sendiri yang atur bagaimana baiknya." Jawab Mbah Gito tersenyum melalui sudut bibirnya.
Keduanya berbicara di sudut ruangan, sepertinya mereka sedang membahas rencana penjebakan. Mbah Gito hanya akan membuat Riko terlihat melakukan sebuah tindakan tidak senonoh, meski sebenarnya ia tak pernah melakukannya.
"Sebelum tengah malam, buat saja Dina dan Riko sibuk mengerjakan sesuatu. Aku akan membuat hasrat keduanya memuncak. Namun mereka hanya sekedar saling menyentuh saja. Aku juga tak mungkin membiarkan Riko melakukannya dengan Dina. Karena sepertinya ia sudah hamil muda. Karena bagaimanapun ketiganya akan berada lebih lama di tempat ini. Kita harus pintar memainkan sandiwara."
"Lantas setelah Dina hamil besar, siapa yang akan membantu mengurus Dijah? Bukankah beberapa bulan lagi Windu akan berulang tahun?"
"Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah kita harus saling di untungkan!"
Perdebatan keduanya memancing perhatian Sintia. Ia bertanya-tanya, kenapa Mariyati nampak berbicara santai pada Mbah Gito yang usianya lebih tua. Bahkan terlihat beberapa kali Mariyati memanggil nama Gito tanpa embel-embel Mbah.
"Sedang apa kau Sintia?" Mariyati tiba-tiba sudah ada di depannya dengan membulatkan kedua mata.
Meski secara fisik Mariyati memiliki usia muda yang tak berbeda jauh dari Sintia. Tetap saja Sintia merasa segan ketika berhadapan langsung dengan pengelola Panti itu.
"Saya mau bertanya, dimana letak kotak piringan hitam Nek Dijah. Karena Dina sedang istirahat di kamar, jadi saya yang akan mengambilnya."
Sintia berjalan gontai seorang diri. Ia membuka pintu gudang yang ada di belakang. Ia menarik gagang pintu, namun pintu itu susah terbuka. Seperti ada sesuatu yang menahannya dari dalam. Ia memutuskan untuk mengintip dari lubang kunci, dan ia melihat sosok sundel bolong sedang berdiri tepat di depan cermin dengan memainkan rambut panjangnya. Detak jantungnya berdetak tam beraturan, keringat dingin membasahi keningnya. Sintia memundurkan langkah, tak berani masuk ke dalam sana. Dari belakangnya ada nek Siti yang memerintahkan nya untuk berani. Entah darimana nek Siti tau, ia meminta Sintia menghadapi segalanya dengan berani. Karena menurutnya, apa yang membuatnya takut tak semenakutkan yang ia bayangkan.
"Tapi nek ada hantu di dalam sana!"
"Lantas kenapa Sintia? Hantu hanyalah makhluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia. Seharusnya kau bisa lebih berani menghadapi mereka. Bisa jadi para hantu sengaja menampakkan dirinya, untuk memberitahu sebuah pesan. Kau harus lebih peka dengan keadaan Sintia."
"Maksudnya nek Siti apa?"
"Cobalah untuk berinteraksi dengan para makhluk gaib itu. Mungkin kau akan mendapatkan sedikit jawaban, sehingga tak akan ada keraguan untuk membuat keputusan!"
"Keputusan? Untuk apa nek?"
Nek Siti mengembangkan senyumnya penuh makna. Nampak Sintia hanya mengernyit, ia sedang menerka-nerka maksud perkataan lansia yang ada di depannya.
"Meski lambat, kau akan menyadari semuanya Sintia. Perlahan kebenaran pasti terungkap, dan kau harus berani mengambang keputusan. Nenek gak mau kau mengorbankan masa depanmu yang berharga di tempat seperti ini." Ucapnya seraya mengusap lembut rambut Sintia.
Nek Siti memerintah Sintia untuk membuka pintu gudang, dan memberanikan diri berhadapan langsung dengan hantu yang ada di dalam sana. Sintia menelan ludahnya kasar, tangannya bergetar ketika menyentuh gagang pintu.
Cekleek.
Pintu baru terbuka sedikit, namun tangan Sintia sudah bergetar hebat. Ia hampir tak sanggup membuka lebar pintu itu.
"Jangan takut Sintia, hantu itu tak akan bisa mencelakai mu. Para hantu hanya bisa menakut-nakuti manusia saja, karena sesungguhnya yang lebih jahat dan bisa mencelakai manusia adalah sesama manusia itu sendiri. Ingatlah pada ajaran agama mu, berdoalah maka segala rintangan akan menyingkir dengan sendirinya." Pungkas nek Siti memberi motivasi.
Mendengar ucapan itu, Sintia mendadak timbul keberanian. Ia membuka lebar pintu itu, nampak sesosok sundel bolong sudah berdiri mengambang di depannya. Belatung berceceran di lantai dengan aroma busuk yang sangat menyengat. Darah berwarna hitam menetes dari balik punggung hantu perempuan itu, membuat Sintia mual dan ingin memuntahkan isi perutnya. Namun ia terdorong dengan ucapan nek Siti, jika ia harus berani menghadapi hantu itu. Karena kalau tidak selamanya ia akan terus diganggu dengan cara yang sama. Sintia menghentikan langkah tak jauh dari sundel bolong itu. Ia menengadahkan tangan ke atas seraya membaca ayat-ayat suci. Tak membutuhkan waktu lama, sosok gaib yang ada di depannya bereaksi. Muncul asap putih di sekitar tubuh hampanya, sundel bolong itu kepanasan karena mendengar bacaan ayat suci yang dilantunkan Sintia.
Whuuuusd.
Sundel bolong itu menghilang begitu saja, setelah asap tipis yang mengelilinginya hilang. Sintia pun lega, ia menghembuskan nafas panjang seraya membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Loh nek Siti kemana ya? Perasaan tadi ada di belakang gue?" Gumam Sintia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
Sintia belum tau, jika nek Siti yang sangat disayanginya juga makhluk gaib sama seperti sundel bolong yang ia bacakan doa. Entah bagaimana akhirnya, jika ia juga tau kalau sebenarnya nek Siti adalah nenek buyutnya sendiri. Mungkinkah Sintia bersedia mengorbankan hidupnya demi menebus rasa bersalah keluarganya, hanya waktu yang dapat menjawab semua.