
Ketiganya menerawang melalui batin, dan melihat jika ada seorang gadis yang tak mereka kenal membawa Riko pergi. Karena gadis itu dan Riko sama-sama tak sadarkan diri, ketiganya tak bisa menelusuri keberadaan keduanya. Sekuat dan sesakti apapun mereka, jika target yang ingin mereka cari dalam keadaan tak sadar, mereka tak akan bisa menemukan keberadaannya.
"Sial! Kemana gadis itu pergi membawanya!" Batin mbah Gito di dalam hatinya.
Mbah Gito menatap Mariyati dengan cemas, ia memberi kode dengan gestur tubuh untuk meninggalkan tempat itu. Sementara pak Kirun hanya menatap punggung keduanya yang berjalan pergi. Dari dalam mobil nampak Rania dan Dahayu melambaikan tangan pada pak Kirun, dan dibalas dengan anggukan kepala serta senyum simpulnya. Kedua gadis itu sedang dalam perjalanan menuju ke Jakarta tanpa tau masalah yang sebenarnya ada di tempat itu. Mereka tak bisa berlama-lama berada disana karena tanggung jawab mereka pada pekerjaan.
"Aku yakin kalian pasti akan kembali untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di tempat ini." Gumam pak Kirun tak bergeming menatap kepergian mobil travel yang ditumpangi Rania dan Dahayu.
Perlahan sinar matahari mulai muncul, suara kicau burung bersahutan. Pak Kirun berusaha menerawang kembali, namun ia tak berhasil mendapatkan penglihatan. Dan ia memutuskan untuk mencari di sekitar lokasi.
Sementara Mariyati dan mbah Gito memilih kembali ke Panti. Nampak Dina baru saja bangun dan memasak dengan bahan masakan seadanya. Ia mengeluh pada Mariyati, jika ia kerepotan mengurus semuanya seorang diri. Belum lagi besok adalah hari ulang tahun nek Windu.
"Kalian semua kemana sepagi ini, Riko juga gak ada di kamarnya?" Tanya Dina penasaran.
"Mulai sekarang, kau sendiri yang akan melakukan semuanya. Riko tiba-tiba menghilang entah kemana, dan kami belum bisa menemukan nya." Jawab mbah Gito dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Abi, tolonglah kakak ini. Kasihan sekali dia hanya terbaring lemah di atas delman. Fatima hawatir jika orang-orang yang bersamanya tadi adalah orang jahat. Karena aura disana sangat panas, dan kakak ini meringkuk kesakitan tak ada yang menolongnya." Ucap Fatima dengan raut wajah sendu.
"Baiklah putriku, abi mengerti. Tapi setelah ini kau tak bisa keluar meninggalkan Pondok ini, karena mereka pasti bisa menemukan mu diluar sana. Abi hawatir kau akan jadi target mereka, supaya dapat menemukan pemuda ini. Abi melihat ada aura lain di dalam tubuhnya, sepertinya jiwa pemuda ini sudah tergadaikan untuk makhluk gaib. Jika para manusia sesat itu bisa menemukan mu, mereka akan mencari cara supaya mendapatkan pemuda ini kembali. Hanya tempat ini yang aman untuk kalian berdua. Tak ada energi negatif yang dapat masuk kesini, kecuali energi positif dengan tujuan yang baik saja. Tapi abi belum taj, siapa saja orang-orang dengan energi negarif yang kau lihat tadi." Jawab seorang lelaki paruh baya, yang bertugas menjaga pondok pesantren disana.
"Apakah selamanya Fatima tak bisa meninggalkan Pondok ini abi?"
"Tentu saja tidak nak, hanya selama pemuda ini masih berada disini saja. Sementara itu abi akan mencari tau, ada apa sebenarnya. Kita harus menolongnya nak, jiwanya yang tergadaikan bukanlah atas kemauannya. Ada orang lain yang sengaja menjebaknya ke dalam ritual sesat itu. Tugas kita adalah membantunya terbebas dari hal gaib tersebut."
Nampak raut wajah Fatima berubah pucat, ia baru pertama kali berurusan dengan hal gaib macam itu. Meski dia percaya dengan dunia yang abi nya bicarakan. Tapi ini adalah pengalaman pertamanya.
Terlihat Riko masih dalam perawatan tabib, dengan pengobatan alternatif yang memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang dijadikan obat untuk membalut luka bagian luar kakinya. Ia masih belum membuka matanya, dan dibagian kepalanya terikat perban dengan ramuan tradisonal yang dibalutkan. Denyut nadinya terasa lemah, bahkan nafasnya terdengar sangat berat. Nampak ayah Fatima terlihat gusar, karena tak dapat menemukan identitas diri pemuda yang ditolongnya. Apalagi pemuda itu juga belum sadarkan diri, sehingga ia tak mendapatkan informasi apapun. Namun tiba-tiba, ia merasakan ada energi lain yang mencoba memasuki wilayah Pondok pesantren nya. Lelaki paruh baya itu buru-buru berlari keluar pondok. Ia memejamkan kedua mata, untuk melihat siapa yang mencoba menerobos masuk ke dalam wilayahnya. Sosok yang belum bisa ia lihat dengan jelas, seakan menyembunyikan jati dirinya dari pandangan batin pengelola Pondok pesantren itu. Siapakah orang dengan energi lain yang mencoba menyusub ke dalam Pondok pesantren yang ia jaga. Hanya itu yang menjadi pertanyaan lelaki tersebut.