TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 102 MENGGALI INFORMASI?


Namun usahanya sia-sia, karena ada pagar besi yang tergembok rapat, sehingga ia kesulitan mencari tau dimana keberadaan Dina. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, Rania hampir kehabisan energinya. Melihat Rania hampir terjatuh, reflek saja Sintia dan Riko langsung menangkap tubuh nya.


"Mbak Rania kecapekan ya? Duduk dulu Mbak, istirahat sebentar!" Sintia menopang tubuh Rania, sementara Riko memberikan satu botol air mineral.


Rania meneguk setengah botol air mineral, lalu mengusap peluh di keningnya. "Dulu gue pernah berurusan dengan masalah kayak gini. Tapi waktu itu hanya tabir hitam yang menutupinya. Berbeda dengan sekarang, pagar besi tinggi menjulang yang tergembok rapat. Seakan mereka benar-benar menyembunyikan jati diri dan keberadaan nya. Siapa sebenarnya Bu Mariyati itu. Meski sudah kembali ke wujud aslinya, dia masih memiliki pengaruh besar." Ucap Rania dengan mengaitkan kedua alis mata.


Terdengar dering ponsel yang mengejutkan mereka. Nampak panggilan telepon dari Adit. Rania bergegas menyentuh tombol terima panggilan. Dan Adit langsung menjelaskan maksud tujuannya menelepon.


"Aku mendapatkan kabar dari petugas setempat. Mereka bilang tak ada siapapun di bangunan bekas Panti Jompo itu. Namun mereka curiga ada beberapa jazad yang dikuburkan di belakang bangunan itu. Apa kau yakin meninggalkan wanita tua itu disana Ran?"


"Tentu saja aku yakin Mas. Aku bersama Riko meninggalkan wanita itu di kamar paling depan. Bukankah seharusnya ia tak bisa kemana-mana. Ataukah mungkin ada yang sengaja membawanya pergi dari sana!"


Rania dan Adit sama-sama menghembuskan nafas panjang. Mereka curiga, jika kelompok sesat yang sama diam-diam telah membawa pergi wanita tua tersebut.


"Aah... Gimana ya Mas, aku gak mungkin minta bantuan Pak Jarwo. Beliau sedang banyak tugas yang harus di urus. Beberapa warga desa tetangga ada yang terkena penyakit misterius. Pak Jarwo seorang diri mengobati semua warga desa itu. Sementara Pak Abdul dengan ilmu agamanya mungkin dapat membantu, tapi beliau juga memiliki tanggung jawab pada pondok pesantren yang dikelolanya. Aku tak tau harus bagaimana sekarang, apalagi energi ku sudah terkuras habis." Jelas Rania lesu.


"Kau istirahat dulu Ran, jangan terlalu lelah. Aku gak bisa menyusulmu kesana, karena disini banyak kasus yang harus segera aku tangani. Belum lagi bertambah satu kecelakaan misterius yang menewaskan seorang wanita muda. Sepertinya sih memang kecelakaan yang gak disengaja, tapi tetap saja kami harus melakukan olah TKP. Berdasarkan rekaman CCTV, ada keanehan pada alat kedokteran yang membuat bola mata pasien terlepas. Meski pihak keluarga menolak autopsi, tapi polisi tetap harus menyelidikinya lebih tuntas lagi. Jadi jika masalah disana memang belum ditemukan titik terangnya, lebih baik kau kembali ke Jakarta saja. Banyak kasus yang bisa kau jadikan bahan berita."


"Baiklah Mas, aku tunggu sampai lusa. Kalau gak ada perkembangan apapun disini, mungkin lebih baik aku kembali. Karena salah satu teman Sintia kini menghilang. Kejadiannya hampir sama seperti Sintia yang tiba-tiba hilang di Rumah Sakit waktu itu. Bisa jadi pelakunya emang kelompok yang sama. Tapi kemana perginya mereka, dengan membawa wanita tua dan Dina yang masih dalam keadaan sakit sehahis operasi caesar."


Setelah mempertimbangkan segala hal, Rania memutuskan untuk tetap disana sampai lusa. Dan panggilan telepon pun berakhir karena Adit dipanggil komandannya.


"Lalu siapa Mbak? Apa wanita berkebaya dan memakai kain jarik yang membawanya ya. Karena di malam itu, gue lihat wanita paruh baya itu masuk ke kamar gue. Dia merhatiin gue, tapi gue pura-pura tidur sih." Kata Sintia dengan mengingat wajah wanita yang ia maksud.


Deegh...


"Wanita berkebaya memakai kain jarik? Jangan-jangan wanita yang semalam aku lihat itu yang sudah membawa Dina." Batin Rania di dalam hatinya penuh tanya.


"Mbak Rania kenapa ngelamun?" Tanya Riko mengaitkan kedua alis mata.


"Sebenarnya semalam gue ketemu sama wanita berkebaya juga, dia memang makai kain jarik. Tapi gue gak ada feeling apapun sewaktu berhadapan langsung dengannya. Karena aura negatifnya gak gitu terpancar, atau mungkin memang tersamar dengan aura positif orang-orang yang ada di sekelilingnya. Kayaknya sih dia gak datang sendirian, ada beberapa orang yang bersamanya. Wanita itu nanya ruang kenanga, katanya mau jenguk kerabatnya. Gue udah curiga tuh, masak tengah malam dibolehin jenguk pasien. Gak masuk akal kan?"


Ketiganya diam dengan menerka-nerka. Namun kedatangan keluarga Dina mengejutkan mereka. Ibu Dina datang untuk membawa pulang jenazah bayi Dina. Ia juga berpesan, jika melihat Dina dimanapun, mereka diminta memberikan kabar pada ibunya.


"Kalian hebat banget ya bisa hidup berdampingan dengan para makhluk tak kasat mata. Belum lagi harus menghadapi wanita iblis seperti Mariyati itu. Gue salut sama kalian yang bisa bertahan sampai sejauh ini. Apalagi Widia, yang sudah berulang kali kabur tapi akhirnya kembali lagi ke tempat terkutuk itu. InsyaAllah gue bakal cari tau yang sebenarnya. Takutnya jiwa Dina dimanfaatkan oleh Bu Mariyati, dan kita gak menyadarinya. Karena masalah disini sudah semakin melebar, gue juga harus meminta bantuan orang lain. Lagipula gue gak mungkin seorang diri menghadapi kelompok sesat sebesar mereka." Ucap Rania seraya menghembuskan nafas panjang.


"Terus Mbak Rania mau gimana lagi? Apa Mbak mau nyari keberadaan Dina?" Tanya Sintia, diikuti Riko yang menanyakan hal serupa.


"Gue pengen bubarin kelompok sesat itu, seperti kelompok sesat yang dulu pernah dipimpin Tante nya Mbak Ayu. Mereka terpecah menjadi bagian kecil, dan gak sebesar dulu lagi jangkauannya. Mungkin malam ini juga gue mau balik pakai travel ke Jakarta, jadi kalian jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa hubungi gue aja!" Jawab Rania seraya memberikan kartu namanya.