
"Tapi mbah, saya hanya ingin membantu Riko sebentar saja. Dia terluka mbah..." Kata Dina dengan suara sedikit bergetar.
"Itu bukanlah urusanmu! Urusanmu adalah melanjutkan permainan yang belum selesai kita lakukan! Biar Mariyati yang akan mengatur semuanya, kau cukup lakukan apa yang aku minta. Jika kau masih ingin mendapatkan apa yang kau mau! Pemuda seperti Riko atau bahkan lebih baik darinya bisa dengan mudah kau dapatkan, setelah kau menyempurnakan ritual penyatuan kita!" Tegas mbah Gito seraya menarik tangan Dina kembali ke dalam kamar.
Sebelum mbah Gito menutup pintu, ia memberi kode dengan gestur tubuh pada Mariyati. Dan dibalas dengan anggukkan kepala saja. Pengelola Panti itu langsung menyeret tubuh Riko ke taman belakang, dan meninggalkan nya disana. Entah apa yang akan dilakukan nya, ia tak melakukan apapun pada Riko. Meski ia tau, jika Riko baru saja melihat sesuatu yang tak seharusnya dilihatnya.
Malam itu cuaca mendung, dan hujan mulai tiba. Petir menggelegar dan menyambar pohon besar yang ada di depan Panti. Pohon itu tumbang dan menghadang badan jalan. Nampak dari kejauhan ada sebuah mobil yang akan melintas, tapi terhadang dengan pohon yang tumbang itu. Terlihat sopir mobil kebingungan mencari jalan lain, karena untuk pergi ke kota hanya bisa melewati akses jalan itu saja. Sopir tersebut memberitahu pada semua penumpang yang ada di belakang. Jika perjalanan mereka terhambat karena cuaca buruk dan pohon tumbang.
"Ada apa sih mbak berisik-berisik?" Tanya Rania yang terbangun dari tidurnya.
"Gue gak tau Ran, tadi ketiduran juga gue. Soalnya mobil travel ini dari siang muter-muter jemput penumpang door to door dulu, makanya kelamaan kita ninggalin daerah ini. Tau-tau udah malam aja sih, efek kecapekan di jalan ya gini!" Jawab Dahayu seraya meregangkan otot di tubuhnya.
Rania melihat keluar jendela, nampak kanan dan kirinya hanya ada pepohonan dan kebun terbengkalai. Hanya ada beberapa bangunan yang jaraknya saling berjauhan. Sepertinya daerah itu lebih terpencil dan sepi penduduk daripada wilayah desa nya.
Terdengar Dahayu sedang berbicara dengan sopir travel, yang mengatakan jika mereka tak bisa melanjutkan perjalanan sampai pagi tiba. Karena dalam keadaan hujan lebat di daerah sepi seperti itu, mereka tak dapat melakukan apapun. Apalagi meminta bantuan dari warga sekitar. Mengingat jumlah bangunan yang tak seberapa, pasti penduduknya sangat sedikit. Sedangkan jika ingin menyingkirkan pohon tumbang membutuhkan bantuan tenaga dan peralatan yang mereka sendiri tak punya. Mau tak mau mereka harus mengharapkan dari bantuan warga sekitar.
"Gimana nih Ran, masak kita semalaman duduk di dalam mobil aja? Mana perut udah mulai keroncongan lagi!" Keluh Dahayu dengan memegangi perutnya.
"Iya ya, kita seharian belum makan nasi. Cuma kemasukan roti doang lagi. Entar deh mbak lihat keadaan dulu gimana, kalau udah gak gitu deras, kita coba keluar lihat di sekitar sini kali aja ada warung kopi. Biasanya kan jualannya sampai subuh gitu, lumayanlah buat ganjal perut seadanya." Ucap Rania melihat ke sekitar luar.
"Kenapa gue ngerasa gak asing dengan bangunan gedung ini ya? Tapi gue pernah lihat dimana ya?" Batin Rania bertanya-tanya di dalam hatinya.
plaaakk.
Dahayu menepuk pundak Rania, karena ia terlihat melamun di pinggir semak-semak. Seketika Rania terperanjat, ia memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Dih ngapain ngelamun, sampai kaget begitu lagi?"
"Kampret lu mbak! Bikin gue sport jantung aja sih! Gue lagi lihatin orang-orang itu, ngapain pada pergi kesana ya?"
"Mungkin mereka mau numpang ke toilet kali. Secara kan cewek mana mungkin buang hajat sembarangan. Emangnya lu mau numpang ke toilet juga?"
Rania diam untuk sesaat, ia memegangi perutnya yang melilit. Ternyata ia lebih membutuhkan warung makan ketimbang toilet. Ia pun menggelengkan kepala seraya melangkahkan kakinya. Tapi kini justru Dahayu yang menghentikan langkah, lalu memandang ke arah ketiga orang yang mengetuk pintu bangunan tua tadi. Nampak pintu sedikit terbuka, salah satu dari mereka terlihat berbicara dengan seseorang yang tak terlihat dari luar. Tak lama ketiganya masuk ke dalam, lalu pintu kembali ditutup. Dahayu merasa ada energi lain yang keluar dari dalam bangunan tua tadi. Ia mengaitkan kedua alis mata, curiga dengan sesuatu yang tak ia ketahui.
"Kenapa gue ngerasa agak lain ya, seperti ada energi besar dari dalam sana. Tapi gue gak tau itu energi apa an!" Gumam Dahayu pada dirinya sendiri.
Rania menghembuskan nafas panjang seraya berjalan menghampiri Dahayu. Ia menarik tangannya, lalu mengajaknya meninggalkan tempat itu. Rania belum menyadari sesuatu, karena apa yang dilihat oleh visual matanya berbeda dengan apa yang pernah dilihatnya melalui batin.