
"Mengaku sajalah Dijah! Aku akan menjamin jika kau akan mendapatkan keuntungan lebih. Aku tau kau memiliki keturunan dari pemuda desa yang telah menghamili mu sebelum kau menikah dengan suamimu dulu. Apa kau juga tak ingin mendapatkan persembahan jiwa dari keturunanmu? Aku akan membantumu menemukan anak tidak sah mu itu!" Kata Mariyati membuat nek Dijah tercekat.
"Darimana kau tau mengenai itu? Aku sudah menutupnya rapat-rapat, apa Siti yang telah mengatakan nya padamu? Sudah ku duga pasti dia, karena hanya Siti saja yang mengetahui masa lalu kelam itu. Karena sebelumnya dia jugalah yang membongkar rahasia itu pada Ridho. Sehingga aku kehilangan cinta pertamaku. Karena Ridho lebih memilih Siti, begitu Ridho mendengar jika aku pernah hamil diluar nikah. Tapi aku cukup senang, karena akhirnya mereka berdua tak bisa bersatu. Aku telah mengacaukan kehidupan mereka, sehingga takdir mereka berantakan seperti sekarang. Karena itulah sampai saat ini, aku menaruh dendam pada Siti ataupun semua keturunannya! Siti tak berhak bahagia, meskipun ia telah tiada sekalipun!" Jelas nek Dijah membulatkan kedua mata.
Mariyati menyeringai mendengar penjelasan nek Dijah. Ia membujuk nek Dijah untuk mengatakan dimana keberadaan Sintia, karena setelah itu ia akan membawakan calon tumbal baru untuknya. Dan ia juga mengatakan sesuatu yang membuat nek Dijah semakin kesal. Karena berdasarkan penjelasan nya, Mariyati mengetahui semua rahasia nek Dijah memang dari mulut nek Siti. Tapi nek Siti melakukan semua itu secara tak langsung. Karena pada saat itu, nek Siti sedang berbicara dengan kakek Ridho. Keduanya membahas anak tidak sah yang dimiliki nek Dijah. Karena nek Dijah menyia-nyiakan anak tersebut, sehingga anak itu tumbuh dengan ajaran sesat. Sehingga anak tersebut juga mempelajari ilmu hitam, hanya untuk mendapatkan kekayaan dari sosok gaib.
"Bukankah anak tidak sah itu sempat datang ke Panti sewaktu kau masih hidup dulu? Bahkan kau menangis memohon padanya untuk diberi ampunan. Kau ingin hidup diluar Panti dengan anak itu, setelah mengetahui jika ia hidup layak dengan kekayaan yang melimpah. Keturunan mu itu telah bersekutu dengan sosok gaib untuk mendapatkan kekayaan melalui jalur persugihan! Namun sayangnya, kau justru dicampakkan. Dari situlah aku tau, jika yang datang waktu itu adalah anak yang tidak pernah kau akui keberadaan nya!" Mariyati tersenyum miring, membuat nek Dijah semakin kesal.
Nampak nek Dijah mengepalkan kedua tangannya. Ia menahan amarah, karena kisah masa lalunya di ungkit kembali. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan pengelola Panti itu. Nek Dijah menundukkan kepala, lalu mengajukan pertanyaan pada Mariyati.
"Keuntungan apa yang akan kau tawarkan, jika aku memberitahu dimana Sintia saat ini?"
"Tak hanya memberitahu, tapi kau harus membawanya kembali ke Panti. Sebagai gantinya aku akan membawakan keturunan dari anak mu yang durhaka itu. Karena anakmu itu seharusnya sudah lama tiada, namun karena perjanjian gaib nya dengan sosok dari alam berantah. Ia masih bertahan hidup di alam fana ini. Bahkan aku tau jika kau memiliki seorang cicit laki-laki yang masih hidup. Meski usianya mungkin tak akan bertahan lebih lama lagi. Dan akan ku beritahu satu hal padamu Dijah. Dengan kau mengembalikan Sintia, kau justru akan menang dari Siti. Kau akan berhasil melukai jiwa nya, karena sesungguhnya Siti tak lagi menginginkan persembahan jiwa. Dia akan semakin terluka, karena aku akan membuatnya menumbalkan nyawa cicitnya." Pungkas Mariyati tersenyum licik.
"Seorang cicit laki-laki yang berhasil selamat dari sebuah kecelakaan besar. Namun kedua orang tuanya sudah tiada, karena ditumbalkan untuk buto ireng sesembahan kakeknya. Apa kau benar-benar tak tau menanu mengenai hal itu?" Jawab Mariyati dengan pertanyaan.
Terlihat nek Dijah mengaitkan kedua alis mata. Ia memikirkan sesuatu, namun tak dapat menemukan jawabannya.
"Lantas siapa yang akan kau persembahkan untuk ku? Anak durhaka itu atau cucunya?" Nek Dijah semakin penasaran, namun Mariyati hanya menyeringai tak memberikan jawaban.
"Kedua jiwa mereka sudah tergadaikan untuk sosok buto ireng. Akan ku pastikan kau mendapatkan ganti yang lebih baik. Karena masih ada jiwa Dina, tumbal berikutnya masih tersisa beberapa tahun kedepan. Bukankah cicitmu itu pasti akan memiliki keturunan juga. Kau akan selalu mendapatkan persembahan jiwa, karena dari penerawangan terakhir ku, cicitmu itu sudah menikahi seorang gadis dan tak lama lagi gadis itu akan mengandung. Karena itulah, ku minta kau mengembalikan Sintia secepatnya. Siti akan semakin terluka, jika kita berhasil memberikan persembahan jiwa untuknya. Bagaimanapun Siti sudah ingin menyudahi perjanjian yang kita buat bersama. Namun ada satu hal yang kau lupakan Dijah! Jika salah satu dari kalian mengakhiri perjanjian yang kita buat bersama, kita semua pasti akan tiada untuk selamanya. Sosok dari kegelapan hanya menginginkan kesetiaan, tapi kalau kita mengingkarinya sosok itu akan mengambil jiwa kita semua. Kalian semua hanyalah jiwa tanpa raga, hanya jiwa yang kalian pergunakan untuk menjalani kehidupan palsu ini. Kalau kalian tak bisa dipercaya, untuk apa sosok itu memberikan apa yang kalian mau? Sama halnya dengan ku, aku tak akan mendapatkan apa yang seharusnya ku dapat. Yaitu kecantikan dan kehidupan yang abadi." Pungkas Mariyati dengan tertunduk lesu.
Berkat pencerahan yang diberikan Mariyati. Akhirnya nek Dijah menyadari kesalahannya. Ia kembali ke hutan rawa mayit untuk membebaskan Sintia. Namun tanpa diduga, nek Siti ternyata mengikutinya pergi ke hutan tersebut. Entah apa yang akan terjadi pada nek Siti. Karena hutan itu bukanlah tempat yang aman untuknya. Jiwa nya bisa saja celaka oleh sundel bolong lainnya. Tapi jika jiwa nek Siti benar-benar celaka, mungkinkah nek Dijah akan tetap mendapatkan penawaran baru dari Mariyati.