
Sintia membulatkan tekad untuk pergi seorang diri tanpa teman-temannya. Karena ia memiliki firasat lain, jika ia harus kembali ke tempat yang mereka sepakati bersama. Bahkan pak Kirun sudah mewanti-wantinya, jika di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, dan orang itu berniat menghambat langkahnya. Sudah dipastikan jika itu bukanlah orang yang ia kenal. Karena Mariyati ataupun mbah Gito memiliki ilmu untuk merubah wujud menjadi siapapun yang mereka mau.
Langkahnya semakin berat. Sintia mengatur nafasnya yang terasa ngos-ngosan. Peluh sudah membanjiri wajahnya. Samar-samar terdengar suara rumput yang bergesekan, semakin dekat ke arahnya.
"Tolooong..." Jeritan seseorang yang tak asing di telinganya.
Sintia langsung memandang ke segala arah, mencari keberadaan pemilik suara itu. Dari kejauhan, nampak Dina berlari dengan memegangi perutnya. Begitu jarak keduanya semakin dekat, Dina langsung memeluk Sintia dengan berderai air mata.
"Sin... Lu kemana aja, kenapa ninggalin gue sendirian di Panti Jompo mengerikan itu? Gue baru tau, kalau ternyata keberadaan kita disana untuk menjadi tumbal para lansia itu! Gue takut Sin... Tolong bawa gue pergi dari tempat ini!" Seru Dina menangis sesegukan.
Hening. Tak ada jawaban dari Sintia. Ia seperti memikirkan sesuatu, karena tiba-tiba orang yang dikenalnya datang disaat yang tidak tepat. Padahal sebelumnya pak Kirun sudah memperingatkan, mengenai seseorang yang dikenalnya tiba-tiba muncul. Namun ia juga tak bisa mengacuhkan Dina begitu saja. Akhirnya Sintia bertanya, bagaimana caranya Dina bisa meninggalkan Panti dan sampai di hutan itu kembali. Dina menjelaskan dengan berlinang air mata. Ia mengatakan, jika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Mariyati dengan mbah Gito.
"Mereka bilang mau numbalin gue sama calon bayi gue Sin... Gue gak mau mati di tempat itu bersama calon anak gue. Tapi kenapa lu udah pergi lebih dulu ninggalin gue?" Ucap Dina dengan nafas tersengal-sengal.
"Gue gak pernah ninggalin lu Din. Tadi gue emang lagi nyari Riko, tapi tiba-tiba ada kuntilanak yang bawa gue pergi ke alam lain. Dan panjanglah ceritanya, sampai gue bisa sampai disini!" Jelas Sintia, fokus memperhatikan gelagat Dina.
Sesekali Dina menoleh ke berbagai arah, seakan ia mencemaskan sesuatu. Batin Sintia, mungkin Dina takut diikuti para pemuja sesat itu. Tanpa ada keraguan, Sintia menggandeng Dina menyusuri jalanan setapak. Sesuai dengan petunjuk pak Kirun, Sintia menuju ke arah timur. Namun setelah ia berjalan selama beberapa menit lamanya. Ia tak pernah pergi meninggalkan jalanan setapak yang ditumbuhi rumput mengering. Seakan ia terus berputar-putar disana. Sintia menghentikan langkah seraya menyeka peluh yang menetes dari keningnya. Ia mendongakkan kepala ke atas, dan ia baru sadar jika bulan purnama sudah menghilang. Berganti dengan langit berwarna jingga. Sintia mengaitkan kedua alis mata, menatap Dina dari atas ke bawah. Ia merasa janggal dengan kedatangan Dina yang mendadak.
"Kok bisa kebetulan banget ya, Dina langsung ketemu sama gue. Bukannya hutan ini sangat luas. Seperti sudah direncanakan saja, atau mungkin ini memang sebuah kebetulan?" Batin Sintia di dalam hatinya bertanya-tanya.
Dina hanya berdiri diam tanpa kata. Matanya menatap Sintia tanpa berkedip. Ia menyeringai seraya mencengkeram tangan Sintia dengan kencang. Sontak saja Sintia menghempaskan tangan Dina, namun Dina kembali memegangi tangan Sintia dengan kuat.
"Lu gak bisa nipu gue Sintia!"
"Nipu apa maksud lu? Sadar Din, pasti lu udah dalam pengaruh bu Mariyati ataupun mbah Gito." Ucap Sintia panik.
Dina hanya tersenyum melalui sudut bibirnya, ia menggelengkan kepala lalu berjalan memutari Sintia. Ia mengatakan hal-hal yang tak masuk akal. Dari ilmu awet muda beserta ilmu pelet yang bisa ia miliki nantinya. Seketika Sintia berteriak lantang, menanyakan siapa Dina yang sebenarnya.
"Lu gak tau siapa gue? Yakin lu gak kenal?" Ucap Dina sebelum tertawa kencang.
"Gak! Lu pasti bukan Dina! Lepasin tangan gue!" Seru Sintia seraya melepaskan tangannya dari cengkeraman Dina.
Tanpa berpikir panjang, Sintia mendorong tubuh Dina hingga terjerembab di semak-semak. Sintia mengambil langkah seribu berlari meninggalkan Dina yang terlihat kesakitan dengan memegangi perutnya yang agak membuncit. Dari kejauhan ia mendengar suara rintihan Dina yang mengerang kesakitan. Hati nuraninya tak tega mendengarkan suara Dina. Ia ragu untuk melanjutkan langkahnya, padahal sebentar lagi sudah hampir pagi. Dan kemungkinan bis kota sudah melewati daerah itu. Namun Sintia mencoba acuh, dan melanjutkan langkahnya. Ia berdoa sebelum memulai langkahnya. Setelah membaca doa, langkah kakinya seakan ringan. Sintia bisa meninggalkan tengah hutan dengan mudahnya. Tak jauh dari kakinya berdiri, Sintia dapat melihat jalanan beraspal. Ia mempercepat kakinya, namun sesuatu yang melesat cepat menghentikan langkahnya.
Seorang perempuan cantik mengenakan dress hitam panjang berdiri mengambang tepat di depannya. Sintia membulatkan kedua mata terkejut, melihat Mariyati sudah ada di depan matanya. Sintia menggelengkan kepala tak percaya, lalu memundurkan langkah kakinya menjauh dari Mariyati.
Whuuuusd.
Sosok Mariyati melesat cepat ke hadapan Sintia, lalu mencekik lehernya. Perlahan tubuh Sintia terangkat ke udara, dan ia pun menggelepar seperti ikan yang kekurangan air. Di tengah keputus asa an nya, terdengar suara ringkikan kuda. Dan sesuatu yang diluar nalar kembali terjadi. Kuda pak Kirun berubah wujud menjadi seorang lelaki muda, dengan postur tubuh yang tinggi tegap dengan garis rahang tegas. Ia menangkap tubuh Sintia supaya tak terjatuh ke tanah. Namun Mariyati tak mau tinggal diam begitu saja. Ia langsung memberikan perlawanan, dan menyerang lelaki itu menggunakan cambuk hitam besar yang dipecutkan ke punggung lelaki jelmaan kuda itu.