TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 100 ANCAMAN.


Secara mengejutkan tubuh muda Mariyati berubah menjadi sosok tua renta. Bahkan ia kesulitan untuk menopang tubuhnya sendiri. Lututnya bergetar dan langsung tersungkur ke lantai. Kulit keriputnya langsung menempel di bagian kulitnya. Kurus kering tak menyisakan daging sama sekali. Bahkan wajah ayu nya seketika berubah menjadi tengkorak dengan kulit kisut yang membalut pipi cekung nya. Mariyati terduduk lemah dengan berlinang air mata. Ia kesulitan untuk berkata-kata. Karena giginya sudah tanggal semua, dan lidahnya pun seakan kelu tak dapat berucap. Melihat wujud baru Mariyati membuat semua orang terbelalak.


"Tolong kalian bawa Mariyati ke kamar, sekarang dia hanyalah orang tua biasa yang tak memiliki kekuatan apapun. Kita harus membawa ketiga gadis itu ke Rumah Sakit." Ucap Pak Abdul memandang Widia, Sintia, dan juga Dina yang sudah tak sadarkan diri.


Riko dan Rania meninggalkan Mariyati di dipan kayu yang sebelumnya adalah kamar Nek Dijah. Tak ada yang mau menunggu wanita renta itu seorang diri. Mereka hawatir jika kelompok sekutu Mariyati datang untuk membalas dendam. Dan berdasarkan saran Pak Abdul, mereka terpaksa meninggalkan Panti Jompo itu meski ada sosok renta yang mereka tinggalkan.


"Apa gak apa-apa meninggalkan wanita tua itu sendirian?" Rania terlihat ragu dan tak tega, ia gelisah harus meninggalkan Mariyati seorang diri.


"Mau tidak mau Ran. Saya memiliki firasat jika sekutunya pasti akan segera datang. Entah berapa sekutu yang ia punya. Karena kelompok sesat ini jumlahnya sangat banyak dan menyebar. Jati diri mereka tersimpan dapat, dan sulit untuk ditebak. Mereka membaur dengan masyarakat sekitar, menjadi satu organisasi umum. Kalau kau bertekad menjaga Mariyati, kau harus bersiap menghadapi beberapa kelompoknya yang akan datang. Dan kau mungkin akan kesulitan melawan mereka seorang diri. Karena saya harus bertanggung jawab dengan pondok pesantren, jadi saya tak bisa berlama-lama diluar. Jadi lebih baik, kau jaga para anak muda ini. Terlebih lagi gadis yang bernama Widia dan Dina. Saya merasakan aura mereka sudah berbeda." Jelas Pak Abdul dengan menghembuskan nafas panjang.


"Aura berbeda bagaimana Pak? Apakah Widia bisa tertolong? Dan Dina, wanita itu kan sebelumnya membelot. Dia menghianati teman-temannya, memang apa yang bisa terjadi dengannya? Melihat kondisinya, pasti bayi itu sudah tiada di dalam kandungnya. Kasihan bayi tak berdosa itu, dia jadi tiada di dalam perut ibunya." Rania tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah jangan disesali lagi. Itu mobil dari pesantren sudah datang, kau bawa saja mereka ke Rumah Sakit. Kalau ada apa-apa hubungi saya. Dan kau Riko, jaga semua wanita-wanita ini. Hanya kau saja lelaki di antara mereka semua. Jangan sungkan meminta tolong pada Rania, dia gadis yang baik dengan segala kemampuan yang luar biasa." Ucap Pak Abdul sebelum menunggangi sepeda motor yang dibawa salah satu santri nya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Widia, Dina dan Sintia mendapatkan penanganan. Riko duduk di lorong depan dengan mengacak rambutnya kasar. Dia merasa bersalah melihat kondisi Dina, karena menurut Dokter bayi yang berada di kandungannya sudah meninggal dan harus di operasi untuk mengeluarkan mayatnya. Riko masih mengira jika bayi itu adalah darah dagingnya. Barulah setelah Rania memberitahu yang sebenarnya, Riko terkejut dengan membulatkan kedua mata.


"Aaah... Sial! Pantas saja, gue gak pernah ngerasa berbuat apapun tapi jadi tertuduh! Ternyata gue hanya jadi alibi saja! Kurang ajar tuh tua bangka!" Riko kesal dengan mengepalkan kedua tangannya.


Tak berselang lama Sintia datang. Ia hanya mendapat perawatan untuk luka bagian luarnya saja. Sehingga ia tak perlu menjalani perawatan lebih. Ia memeluk Rania dengan mengucapkan terima kasih. "Mbak Rania udah nepatin janji buat selamatin temen-temen gue. Gak taunya gue justru kembali ke tempat terkutuk itu. Dan gimana ceritanya kalian bisa saling kenal?" Tanya Sintia dengan lengan yang dibalut perban beserta jari tangannya.


"Iya sih Mbak, biarpun Dina kelakuannya kayak gitu, gue harap dia masih bisa survive meski harus kehilangan bayinya." Sahut Riko dengan menggelengkan kepala.


Setelah menunggu selama lima jam, Widia masih belum sadarkan diri karena ia kehilangan banyak darah. Dan ada benturan di bagian belakang kepalanya, yang membuatnya koma. Sementara Dina yang selesai melakukan operasi caesar sudah kembali ke ruangan biasa. Ia masih terbaring lemas di atas brangkar. Sintia dan Riko menjenguknya terlebih dulu. Meski ada perasaan marah dan benci, keduanya masih berusaha bersikap baik pada Dina. Namun begitu melihat wajah Sintia, Dina langsung emosi dengan mencengkeram pergelangan tangannya.


"Karena kau semuanya jadi berantakan! Aku kehilangan semua impian ku, dan kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu itu Sintia!" Pekik Dina membulatkan kedua mata penuh amarah.


"Awww... Sakit Din, lepasin tangan gue! Lu sendiri yang berhianat dan mendukung Bu Mariyati, dan lu tau gak sih bayi yang lu kandung itu anaknya Mbah Gito?" Sintia menarik tangannya paksa, meninggalkan bekas cakaran dari kuku Dina.


Dina berdecih, ia berusaha bangkit dari ranjang. Namun bekas jahitan di perut membuatnya tak dapat bergerak sama sekali. Ia memegangi seluruh bagian tubuhnya dengan wajah kebingungan.


"Udah Din tenangkan diri lu. Sekarang jenazah bayi lu ada di kamar mayat, bentar lagi keluarga lu datang. Jadi lu gak usah panik, semuanya udah berakhir. Kita udah selamat dari Panti Jompo terkutuk itu! Bu Mariyati harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya. Meski sekarang dia dalam wujud yang sangat memperihatinkan. Tapi hukum di Negara ini harus tetap berlanjut. Dia udah bikin Widia sekarat, dan mungkin dia juga yang udah bunuh kedua teman kita yang lainnya." Ucap Riko dengan memegangi pundak Dina.


Dina tersenyum miring setelah mendengar ucapan Riko. Ia mengatakan hal-hal yang tak masuk akal. Menurutnya meski Bu Mariyati akan ditahan Polisi, tak akan membuat semuanya berhenti sampai disitu saja.


"Kalian gak tau seberapa besarnya kekuatan yang dimilikinya. Dan pengaruh besar apa yang bisa ia gunakan untuk mempengaruhi banyak orang. Mungkin kalian pikir Bu Mariyati akan segera tewas dengan wujudnya yang tua bangka itu. Tapi dia akan terlahir kembali dalam wujudnya yang baru, dan akan terus melakukan penumbalan untuk keberlangsungan sekte sesat yang sudah ia bangun ratusan tahun lamanya bersama Mbah Gito. Jadi kalian jangan senang dulu, dan merasa sudah di atas angin. Suatu hari nanti dia pasti akan kembali, dan kalian pasti akan tetap menjadi calon tumbal selanjutnya!" Ucap Dina dengan sorot mata yang tajam.


Sintia dan Riko saling menatap, lalu menelan ludah kasar. Keduanya merinding mendengar ucapan Dina, dan mengusap belakang tengkuknya. Dari arah belakang mereka, ada Rania yang memperhatikan gerak-gerik ketiganya. Ia berdiri agak jauh, dan tak mendengarkan semua pembicaraan ketiga mahasiswa itu.