TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 71 MENATA RENCANA.


Dina merenung di dalam kamarnya. Ia gelisah untuk mengambil keputusan. Selepas jam delapan malam, para lansia sudah mulai berkumpul di ruang belakang. Riko yang masih shock setelah melihat penampakan hantu, berusaha memberanikan diri keluar dari kamarnya. Ia tak melihat Dina ataupun Widia, hingga membuat perasaannya makin tak karuan.


"Kek, Riko mau manggil Widia sama Dina dulu ya. Riko gak bisa jaga sendirian soalnya." Ucap Riko pada kakek Ridho, dan dibalas dengan anggukan kepala.


Baru saja Riko berjalan beberapa langkah, terlihat Dina berjalan setengah berlari. Wajahnya nampak panik dengan peluh yang membawa keningnya.


"Ko gawat nih! Widia kayaknya kabur sendiri deh, gue cari dia dimana-mana gak ada!" Seru Dina.


"Hussd... Pelanin suara lu! Gak mungkin Widia nekat pergi sendiri, dia gak seberani itu Din! Jangan-jangan terjadi sesuatu yang gak kita tau, sampai buat Widia nekat begitu." Kata Riko dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Terjadi apa sih Ko! Jelas-jelas kalian berdua yang mengada-ngada. Mana mungkin ada hal misterius yang terjadi di tempat ini. Kalian cuma termakan hasutan orang luar aja tau gak!"


"Oke. Kalau menurut lu begitu, kenapa lu bilang kalau Sintia pernah ada disini juga. Padahal seingat gue sama Widia, gak pernah ada tuh Sintia pkl di Panti ini!"


"Hmmm... Soal itu, gue salah ngomong aja kok! Lagian mana ada Sintia disini, dia kan mahasiswi yang cerdas. Ngapain dia ikutan pkl cuma buat dapetin nilai bagus!"


Riko langsung diam mendengar ucapan Dina. Ia memijat pangkal hidungnya, lalu berjalan mondar-mandir karena bingung.


"Lu udah kasih tau bu Mariyati kalau Widia hilang?" Tanya Riko dibalas gelengan kepala Dina.


Riko berlari ke ruangan Mariyati, ia mengetuk pintu selama beberapa kali. Terdengar suara yang berbicara dari dalam sana, ia meminta Riko menunggu di tempat para lansia bersantai.


Terpaksa Riko mengurungkan niatnya, ia kembali dengan sia-sia. Tak lama setelah itu, Mariyati datang bersama mbah Gito. Ia memberikan pengumuman, jika lusa adalah ulang tahun nek Windu. Dan mereka akan mengajaknya pergi ke kampung sebelah untuk mengikuti ritual seperti lansia lainnya yang berulang tahun. Dan merela selalu kembali dalam keadaan yang lebih baik secara fisik.


"Apa yang ingin kau sampaikan Riko?" Tanya Mariyati dengan suara datar.


"Widia kabur bu! Saya hawatir kalau ada apa-apa dengan dia. Bukankah diluar sana banyak buronan dan orang jahat yang bersembunyi. Belum lagi para makhluk halus itu!" Jawab Riko seraya mengusap belakang lehernya.


"Apa yang terjadi ketika kalian keluar dari Panti tadi?"


Mendengar pertanyaan Mariyati, Riko bungkam seribu bahasa. Ia bingung harus berkata apa. Sehingga Dina langsung mengatakan segalanya tanpa sungkan.


"Jadi kalian mendengar hal yang tidak-tidak mengenai Panti ini? Lalu kalian berniat kabur begitu?"


"Gak kok bu. Kami gak berniat begitu. Mungkin hanya Widia saja yang memiliki niat seperti itu. Iya kan Ko?" Dina menyikut lengan Riko, supaya ia sependapat dengannya.


Nampak Riko terpaksa menganggukkan kepala, karena ia segan di hadapan pengelola Panti itu.


"Nanti saya yang akan membuat laporan kehilangan ke kantor polisi. Saya juga akan menghubungi pihak kampus, supaya mereka tak menyalahkan saya atas kejadian ini. Semoga Widia baik-baik saja, dan cepat ditemukan. Kalian lanjutkan saja pekerjaan, karena hanya tersisa kalian berdua saja. Maka tugas kalian semakin berat. Belum lagi Dina sedang mengandung!" Pungkas Mariyati seraya menatap wajah Riko tanpa berkedip.


Terlihat wajah para lansia itu biasa saja. Mereka nampak tak perduli, dan fokus pada diri mereka masing-masing. Riko memiliki firasat lain, ia berniat membuktikan ucapan pak Kirun tempo hari. Jika ia harus melihat keluar kamar ketika jam dua belas tengah malam. Hanya itu saja, cara yang akan membuktikan kecurigaan nya itu benar.