
Hari itu keadaan di Panti Jompo Muara Hati agak kacau. Mariyati murka dan menghukum nek Siti. Jiwa nek Siti disiksa dengan berbagai macam cara, untuk mengembalikan energi hitam pada jiwanya. Kakek Ridho tak dapat melakukan apapun, karena ia sendiri juga tak berdaya menghadapi kedua manusia sesat yang mengontrol mereka. Kini nek Dijah dapat tersenyum bahagia, ia merasa di atas angin karena dapat melihat nek Siti tersiksa. Sementara lansia yang lainnya, hanya diam tertunduk penuh ketakutan. Mereka tak ada yang berani melawan Mariyati, karena jalan hidup merekan sudah ditentukan oleh pengelola Panti itu.
Sementara ketiga mahasiswa yang masih bertahan di Panti melakukan aktivitas seperti biasanya. Dina merasa semakin berkuasa atas Riko, karena ia tak memiliki saingan lagi. Seperti yang dikatakan Mariyati, jika mereka semua akan melupakan kalau Sintia pernah ada di Panti itu. Sehingga ia merasa menang karena bisa memiliki Riko seutuhnya.
"Wid, lu bisa kan ke pasar sendiri. Gue kayaknya gak enak badan nih, dan gue juga ngidam mangga muda. Ntar sekalian lu beliin ya di pasar." Kata Dina seraya memegangi perutnya yang membuncit.
Widia menghembuskan nafas panjang, lalu menggelengkan kepala. Ia mengeluh jika harus berbelanja seorang diri, karena dulu ia merasa ada seseorang yang menemaninya ke pasar. Tapi sekarang ia harus pergi seorang diri untuk membeli berbagai kebutuhan di Panti.
"Udah Wid, biar gue aja yang temenin lu belanja!" Celetuk Riko seraya melangkahkan kakinya.
"Kalau lu berdua pergi, siapa yang jaga para lansia?" Tanya Dina dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Terus lu maunya gimana Din? Kasihan Widia dong, kalau harus belanja sendiri belum lagi lu nitip macem-macem!" Jawab Riko dengan nada kesal.
"Ya udah deh lu ikut dia ke pasar aja, biar lu bisa cariin mangga muda buat calon bayi kita." Kata Dina menyunggingkan senyumnya.
Nampak Widia risih melihat tingkah Dina, ia bergidik seraya berjalan pergi. Kini Widia sudah ada di depan ruangan pengelola Panti. Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban sama sekali. Dari kejauhan kakek Ridho berjalan ke arahnya, ia memberitahu jika Mariyati sedang berada di ruang ritual bersama yang lainnya.
"Memang kau ada perlu apa Wid?"
"Itu kek, saya mau minta budget buat belanja bulanan. Daftar list belanja juga sudah saya tulis, tinggal nunggu bu Mariyati mau nambahin apa lagi."
"Tunggulah di ruang tamu, biar kakek panggilkan dulu." Ucap kakek Ridho berjalan perlahan menggunakan tongkat sebagai penopang tubuhnya.
Widia dan Riko menunggu di kursi depan, keduanya sedang membahas tugas kuliah yang belum terselesaikan karena mereka tiba-tiba pkl di Panti itu. Mereka juga membahas teman-teman sekelompok nya, Beni, Dony, dan Sintia. Keduanya merasa aneh, karena ketiga temannya tak mengikuti pkl yang sama di Panti Muara Hati. Karena seharusnya mereka berenam ada di tempat yang sama. Ternyata obrolan mereka didengar oleh Dina, yang langsung menyahuti ucapan Widia dan Riko.
"Kalian berdua gimana sih! Masak lupa, kalau Beni dan Dony memang ikutan pkl di Panti ini. Mereka kan pulang ke Jakarta sebelum menyelesaikan pkl. Beni ada saudaranya yang sakit, sementara Dony kayaknya pulang mendadak karena dia gak sehat secara fisik. Takutnya makin parah, makanya dia dikasih ijin balik ke rumahnya. Emang kalian berdua beneran lupa ya?" Tanya Dina dengan mengaitkan kedua alis mata penuh tanya.
"Kok gue gak inget ya?" Jawab Widia dan Riko bersamaan.
"Ada apa ini, kenapa kalian ribut-ribut?" Mariyati menatap ketiganya dengan sorot mata menakutkan.
Terlihat mereka bertiga langsung diam dengan menundukkan kepala. Hanya Dina yang mengatakan sesuatu mengenai Beni dan Dony. Dari penjelasan Dina, barulah Mariyati menyadari kesalahannya. Ia hanya menghipnotis Widia dan Riko untuk melupakan Beni, Dony, dan Sintia. Sementara Dina hanya dibuat lupa mengenai Sintia. Karena diwaktu yang bersamaan, Dina tak bersama Widia dan Riko ketika mereka berdua ditemukan di sebuah gubuk. Mariyati memijat pangkal hidungnya, ia telah ceroboh membuat rencana. Namun ia berusaha mengendalikan keadaan, dengan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah sudah. Tak perlu diperdebatkan lagi, lebih baik kalian berdua pergi ke pasar saja. Kalian bisa membawa sepeda motor milik mbah Gito." Pungkas Mariyati seraya menyerahkan kunci motor.
Widia menerima kunci dan daftar belanja, sementara Riko langsung memasukan uang ke kantong celananya. Sebelum mereka pergi, Mariyati memperingatkan mereka untuk tak mampir kemana-mana. Apalagi berbicara dengan seseorang yang tak memiliki kepentingan dengan Panti Jompo itu. Widia dan Riko hanya mengangguk dengan wajah kebingungan.
Di ujung pengkolan jalan, keduanya melihat pak Kirun duduk di atas delmannya. Ia memandang Widia dan Riko seraya menyunggingkan senyum, sementara keduanya hanya membalas dengan anggukan kepala. Karena kedua mahasiswa itu melihat Mariyati dari pantulan kaca spion. Mereka tak mau membuat pengelola Panti itu marah, karena mereka berhenti untuk menyapa pak Kirun.
Mariyati membulatkan kedua mata melihat pak Kirun dengan sorot mata membunuh. Namun pak Kirun tetap memandang adiknya dengan penuh kasih sayang. Semenjak pertarungan gaib di hutan tempo hari. Pak Kirun dan Mariyati semakin berjarak, apalagi kini rencana Mariyati menjadi berantakan setelah Sintia pergi. Namun meskipun ia kehilangan satu calon tumbal, Mariyati tetap yakin jika Sintia akan segera kembali cepat atau lambat.
Sesampainya di pasar, Widia dan Riko pergi ke warung sembako. Yang kebetulan waktu itu si pemilik kios mengingat wajah Widia. Ia langsung mengingatkan Widia mengenai orang kota yang datang ke desa untuk mencari anaknya.
"Beberapa minggu yang lalu, adek ini datang ke pasar bersama satu teman perempuan nya. Itu loh yang berambut hitam panjang sepungggung. Kalian berdua bertanya kalau saya mendapatkan info mengenai berita mahasiswa yang hilang itu loh. Terus temanmu yang satunya ngasih saya foto ini loh!" Jelas si ibu pemilik kios seraya memperlihatkan pas foto Beni yang ada di dalam kotak penyimpanan uangnya.
Seketika Widia dan Riko terperanjat. Mereka saling melihat dengan tatapan bingung. Keduanya heran, karena perempuan pemilik kios itu memiliki foto teman mereka.
"Itu kan foto Beni Wid. Darimana si ibu punya pas foto itu?" Ucap Riko dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Gue tau darimana dodol. Kok gue jadi makin bingung ya. Tadi di Panti, Dina ngomong kalau Beni dan Dony ikutan pkl. Terus disini, si ibu ngomongin hal yang gak masuk akal juga." Kata Widia seraya memijat pangkal hidungnya.
"Loh adek ini kok malah kayak bingung gitu to. Waktu itu kau bersama gadis cantik itu yang memberikan foto ini ke saya. Katanya kalau saya dapat kabar, diminta ngasih tau. Ini saya mau kasih info ke kalian, tapi kok kayak orang kebingungan gitu to?" Pungkas si ibu pemilik kios dengan menggelengkan kepala.
Memang beberapa minggu yang lalu, Sintia dan Widia meminta informasi melalui pemilik kios tersebut. Namun si ibu tak memiliki nomor ponsel mereka, sehingga ibu itu tak bisa menghubungi keduanya. Dan kebetulan hari ini Widia datang ke kiosnya untuk membeli sembako. Lalu pemilik kios itu mengingat wajah Widia, ia ingin menjelaskan sesuatu mengenai perkembangan pencarian Beni yang dilakukan pihak kepolisian dan juga orang tuanya. Namun yang terlihat oleh si ibu, seakan Widia tak tau apa-apa dan bingung dengan arah pembicaraan nya.