TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 91 RENCANA BERTAPA.


Seusai wawancara itu, Putri bersama Melati dan juga Harto meninggalkan lokasi. Rania bersama Adit pergi menemui seorang terduga. Lelaki tua yang berprofesi sebagai tukang kebun di tempat kost yang dimiliki salah satu saksi yang bernama Melati. Pak Sardi namanya, seorang tukang kebun yang menjadi terduga kasus tewasnya seorang wanita muda yang terkena mesin pemotong rumput hingga tewas. Meski dikategorikan sebagai kecelakaan, pak Sardi terkena pasal atas kelalaian dalam bekerja hingga membuat korban jiwa. Rania mengajukan beberapa pertanyaan, yang jawabannya sama persis dengan Putri. Menurut pak Sardi ada bayangan yang terbang ke arah nya sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Saya gak tau kenapa, baut-baut mesin itu terlepas satu persatu. Dan pisaunya terbang mengarah ke mbak Mira, lalu melukai lehernya hingga darah menyembur deras. Saya berdiri lemas gak tau harus berbuat apa. Orang tua seperti saya ini masih diterima kerja di tempat usaha bu Melati saja sudah bersyukur. Saya gak mungkin sengaja mencelakai orang mbak." Jelas pak Sardi dengan suara yang agak bergetar.


"Baiklah, saya mengerti pak. Apakah menurut bapak, memang sering terjadi hal yang gak wajar selama bapak bekerja disana? Seperti bayangan terbang yang bapak jelaskan barusan?" Rania memegangi mikrofon di depan pak Sardi.


Pak Sardi menggelengkan kepala, nampak raut wajah letih dan pasrah. "Baru sekali itu saja mbak. Meski banyak anak kost yang cerita macam-macam, tapi saya gak pernah lihat apapun sebelumnya. Mungkin hanya desas-desus yang beredar saja, jika sejak kematian mbak Ayu ada hal-hal aneh yang di alami beberapa orang yang ngekost disana. Tapi emang gak semuanya mengalami hal itu." Pak Sardi menghembuskan nafas panjang ia tertunduk lesu.


"Baiklah pak, saya sudah merekam semua pengakuan bapak. Semoga proses hukum dapat berjalan seadil-adilnya untuk bapak dan korban jiwa itu." Rania menjabat tangan pak Sardi sebelum mengakhiri sesi wawancara.


Pak Sardi kembali ke sel tahanan, untuk menunggu proses persidangan. Rania menatap punggung lelaki tua yang sudah agak bungkuk itu. Ia memijat pangkal hidungnya, ada beban yang berkecamuk di pundaknya. Ia gelisah harus berbuat apa. Terlalu banyak orang yang membutuhkan bantuan nya, sehingga ia sendiri merasa terbebani.


"Ada apa Ran? Kok bengong sih?"


"Gak apa-apa kok mas, cuma bingung aja. Gak tega lihat bapak tadi, tapi mau bagaimana lagi. Meski aku bisa membuktikan kalau kejadiannya gak disengaja, proses hukum akan tetap berjalan kan. Dan beliau tetap bakal masuk kurungan juga."


"Iya Ran... Jadi ya sudahlah biarlah semua berjalan dengan semestinya aja. Kau selesaikan masalah Sintia dan teman-temannya dulu. Kasihan mereka, meski gak tersandung kasus hukum namun keselamatan mereka terancam." Ucap Adit seraya merangkul pundak Rania.


Rania menatap Adit seraya menyunggingkan senyumnya. Ia berpamitan untuk kembali ke kantor, ia harus menyerahkan hasil wawancara sekaligus meminta ijin pada atasannya.


*


*


"Kekuatan apa itu? Kenapa kita tak bisa menjangkaunya. Siapa yang mencoba bermain-main dengan kita?" Mariyati berkacak pinggang dengan membulatkan kedua mata.


"Jika dirasakan, energi itu berasal dari aura positif yang berwarna putih. Pasti mereka berbeda aliran dengan kita. Kenapa mereka mengincar kita, dan ingin menggagalkan semua rencana kita. Apa ini ada hubungannya dengan jiwa lelaki yang kita tangkap? Apa sebenarnya tujuannya datang ke tempat ini?" Mbah Gito bertanya-tanya.


"Itulah kebodohan mu! Kenapa kau memusnahkan jiwanya tanpa mengorek informasi terlebih dulu! Sekarang kau sendiri yang kelabakan mencari jawabannya!" Seru Mariyati dengan nada tinggi.


"Baiklah untuk menebus keteledoran ku, aku akan melakukan sesuatu. Aku harus pergi ke kaki gunung semeru, dan bertapa disana untuk mendapatkan jawaban dari penglihatan batin yang tak dapat ku temukan jawabannya. Kau harus menjaga semuanya yang ada disini dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan yang kau lakukan. Karena sekarang tak hanya satu atau dua orang saja yang berusaha menerobos pertahanan kita. Terlalu banyak yang ikut campur. Bagaimana dengan anak-anak itu, apakah mereka sudah berhasil memberikan persembahan?" Mbah Gito membalikkan badan, menatap Mariyati dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Pergilah dan lakukan pekerjaan mu. Aku akan menjaga semua yang ada disini dengan seluruh kekuatan ku. Mengenai persembahan yang mereka berikan, sudah berjalan dengan sesuai rencana. Tak ada yang curiga pada mereka, karena mereka melakukan nya secara murni dan tak meninggalkan jejak."


Mbah Gito menyeringai dengan sorot mata tajam. Ia mendongakkan kepala ke atas dengan penuh keangkuhan. "Aku telah berhasil menumbuhkan bibit unggul, dan semuanya tak lepas dari usahamu juga Mar. Kelak jika raga renta ini binasa, dengan raga yang baru aku akan membuat bibit baru lagi, sebagai penerus semua kesaktian kelompok yang telah kita pimpin selama ratusan tahun ini." Pungkasnya seraya membelai lembuh wajah Mariyati.


Keduanya menyunggingkan senyum bersama, sebelum akhirnya saling memeluk. Entah apa sebenarnya hubungan keduanya. Dan siapa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah ada kelompok sesat lain yang terlahir dari ajaran yang sama seperti yang dianut mbah Gito dan Mariyati? Kelak waktu akan menjawab semuanya, ada misteri apa lagi yang sedang mereka sembunyikan selama ini.