
"Widiaa... Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya!" Gumam Sintia dengan raut wajah panik.
Sintia hendak berlari ke ruangan ritual, namun suara kuntilanak Nek Siti menghentikan langkahnya. Menurut Nek Siti, ia harus menggali gundukan tanah yang di dalamnya ada bughul yang harus segera dibakar. Karena dengan begitu, mereka semua dapat terbebas dari perjanjian gaib.
"Tak ada gunanya kau masuk ke ruangan itu Sin... Kau tak akan sanggup menolong Widia. Mereka semua bukan tandinganmu! Dengan membakar semua bughul itu, kau dan teman-temanmu bisa terbebas. Tentu saja Widia juga bisa selamat, sebelum Mariyati menyelesaikan ritualnya." Ucap Nek Siti yang tiba-tiba diserang sosok sundek bolong nek Dijah.
Tubuh hampa Nek Siti mengeluarkan kepulan asap, yang membuatnya memuntahkan seteguk darah berwarna hitam. Nek Dijah berhasil menyerang titik kelemahan Nek Siti, disaat ia sedang fokus memberikan informasi pada Sintia. Sontak saja Sintia tercekat. Ia menangis dan berlari menghampiri nenek buyutnya yang tergeletak di tanah. Nek Dijah kembali memberi perlawanan, ia menyeret tubuh Sintia melayang ke atas udara. Sundel bolong Nek Dijah berusaha melemparkan tubuh Sintia dari atas ketinggian. Namun sebelum semuanya terjadi, Nek Siti dengan sisa kekuatannya melesat ke atas. Dengan dorongan dari tubuh hampanya, akhirnya Sintia dapat terbebas, namun kini ia terjun ke bawah, dan tubuhnya hampir membentur batu. Ia memejamkan kedua mata pasrah. Namun ada seseorang yang menangkap tubuhnya dari bawah. Orang yang selama ini ia cari sedang memeluknya dengan erat.
"Riko... Lu kemana aja?" Ucap Sintia berlinang air mata. Sintia memeluk Riko dengan tubuh yang bergetar.
"Gue gak bisa ceritain semuanya sekarang. Ada hal penting yang harus kita lakukan. Diluar sana, ada dua orang yang akan membantu kita. Tapi gue kesulitan buka pintu itu, makanya gue menyelinap lewat samping. Lu tau gak, ada dimana tempat peralatan disimpan? Gue mau ambil linggis buat nyongkel pintu itu!" Kata Riko seraya mengusap air mata Sintia.
Sementara di atas langit gelap sana, sosok kuntilanak Nek Siti membawa sundel bolong Nek Dijah pergi entah kemana. Ini dalah kesempatan bagi mereka menyelamatkan diri.
"Ta tapi gue harus gali tanah itu dulu Ko... Nek Siti minta gue bakar bughul yang bertuliskan nama-nama kita. Supaya kita dapat terbebas dari perjanjian gaib. Dan di dalam sana ada Widia sama Dina, gue gak tau apa yang terjadi. Tapi tadi gue denger teriakan Widia Ko..." Jelas Sintia sesegukan dengan raut wajah panik.
"Mbak Rania datang kesini Ko? Lu bawa dia datang buat bebasin kita? Dan siapa Pak Abdul?"
"Udah Sin, gak ada buat jelasin semuanya. Yang penting sekarang lu lakukan semua yang gue omongin tadi. Cepet Sin, sebelum Widia kenapa-napa!"
Mendengar penjelasan Riko tadi, Sintia langsung bangkit berdiri. Ia masuk ke gudang yang gelap dan tak ada cahaya sama sekali. Entah bagaimana caranya ia bisa menemukan linggis di antara tumpukan barang bekas. Namun tiba-tiba ia merasakan hawa dingin di belakang tubuhnya. Sintia berusaha mengacuhkan rasa takutnya. Tangan meraba-raba ke dalam kotak kardus besar. Ia menemukan benda bulatn kecil yang menggores tangannya. Ternyata benda itu adalah pecahan kaca, dan disampingnya ada korek api. Sintia menggunakan korek api itu sebagai penerangan. Begitu ia menyalakan api, dan cahaya menerangi ruangan. Nampak sosok hantu berpakaian adat china berdiri mengambang di belakangnya.
"Ka Kakeek Bimooo..." Sintia memundurkan langkah, karena takut melihat wujud asli lansia itu.
Sosok itu melesat ke arahnya dengan meneteskan cairan kental dari mulutnya. Ia tergiur dengan aroma darah yang keluar dari jari tangan Sintia. Dengan tubuh bergetar Sintia memegangi korek api yang batangnya tinggal setengah. Ia berjaga-jaga supaya api itu tak padam. Namun ia terpeleset setelah menginjak suatu benda yang keras.
Bruuugh.
Sintia terjungkal ke bawah, lalu batang korek api yang berasal dari pohon pinus itu jatuh ke lantai dan masih masih. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi asap. Nampak sosok Kakek Bimo seperti terbakar setelah melesat melewati api yang berasal dari bawah lantai tadi. Entah bagaimana asalnya, tau-tau sosok Kakek Bimo terbakar hingga wujudnya hancur menyisakan abu. Terlihat Sintia menelan ludah kasar karena kebingungan. Ia tak tau bagaimana sosok hantu lansia tadi bisa hancur menjadi abu. Apakah karena api yang berasal dari korek api tadi. Ia tak bisa menemukan jawaban yang masuk akal, dan memilih kembali mencari linggis yang ia butuhkan. Sintia memantik api, mengarahkan cahaya yang berasal dari api ke beberapa tempat. Namun rupanya benda yang ia cari justru berada di dekatnya terjatuh tadi. Lebih tepatnya, linggis itu yang telah membuat Sintia jatuh ke lantai. Ia buru-buru berjongkok mengambil linggis tersebut. Lalu memasukan korek api tadi ke saku celananya. Namun begitu ia sampai di luar ruangan. Ia dikejutkan dengan penampakan sesosok pocong yang tinggi menjulang hingga menembus plafon. Seketika tubuh Sintia bergetar hebat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia tak tau siapa sosok pocong yang sedang menghadang langkahnya. Beberapa saat kemudian tubuh hampa pocong itu kembali menjadi ukuran normal. Terlihat wajahnya yang rusak menghitam, dengan cairan busuk dan belatung yang menempel menggerogoti bagian wajahnya hingga menjadi tengkorak. Perut Sintia mual menghirup aroma busuk yang menyengat itu. Perlahan sosok pocong itu melompat ke arah nya, tapi kakinya tak menempel ke lantai. Sosok pocong itu seakan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Cairan berwarna hitam pekat yang akan ia muntahkan ke wajah Sintia. Beruntung nya Sintia dengan cepat berguling untuk menghindar. Sehingga ia tak terkena air liur dari pocong tersebut. Karena ia pernah mendengar desas-desus yang mengatakan jika air liur pocong dapat membuat kulit membusuk, dan mata menjadi buta.