
"Kita gak bisa pergi gitu aja tanpa nyelidikin yang sebenarnya Wid. Lagian Dina masih ada disana, mana mungkin kita tinggalin dia sendirian. Selain kita harus ngasih tau Dina, kita juga perlu menemukan fakta yang benar. Supaya gak ada kejanggalan lagi."
"Tapi jujur aja gue jadi takut balik ke Panti itu lagi Ko. Apalagi setelah lihat tingkah penjual bunga tadi. Dia kayak takut banget denger nama Panti Jompo Muara Hati. Emang lu gak curiga sama sekali apa?"
"Tentu gue curiga Wid, tapi mau gimana lagi. Kita gak bisa percaya gitu aja, meski ada yang mencurigakan. Kita balik kesana dulu, dan lihat gimana perkembangan nya. Pelan-pelan kita cari tau, dan ngasih peringatan ke Dina. Jadi kita semua bisa meninggalkan tempat itu bersama."
Widia menghembuskan nafas panjang, setengah hatinya ingin langsung meninggalkan Panti itu secepatnya. Namun mengingat Dina masih berada disana, mereka tak bisa meninggalkan nya begitu saja. Kini mereka berdua terpaksa kembali ke Panti Jompo itu. Namun ketika mereka berdua baru saja meninggalkan pasar, sepeda motor keduanya mogok di tengah-tengah perjalanan. Riko berusaha menghidupkan motor itu, dan tak lama terdengar suara ringkikan kuda yang mendekat ke arah mereka. Nampak pak Kirun menghentikan laju delmannya, lalu ia membantu Riko menghidupkan sepeda motor. Hanya dengan satu engkolan kaki saja, pak Kirun berhasil menghidupkan mesin motor kuno itu. Nampak raut wajah lega keduanya. Widia dan Riko sama-sama mengucapkan terima kasih, lalu segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Namun pak Kirun mengatakan sesuatu yang membuat mereka tercekat.
"Jika ingin mengetahui kebenaran, keluarlah dari kamar kalian ketika jam dua belas tengah malam. Periksalah satu persatu kamar para lansia yang ada disana, maka kalian akan menemukan kebenaran." Cetus pak Kirun dengan senyum teduhnya.
"Maksudnya pak Kirun apa ya?" Tanya Riko mengaitkan kedua alis mata.
"Kalian berdua sedang mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di kepala kalian bukan? Saya hanya memberi sedikit petunjuk, supaya kalian bisa mendapatkan jawaban." Jawab pak Kirun seraya melangkahkan kakinya.
Widia dan Riko masih diam menelaah ucapan kusir kuda itu. Keduanya saling menatap sebelum membalikkan tubuh mereka. Namun begitu mereka berbalik badan, mereka tak dapat menemukan kusir kuda itu. Pak Kirun seakan hilang ditelan bumi. Ia lenyap begitu saja, hanya dalam hitungan detik.
"Loh pak Kirun kemana Ko?" Widia melihat ke segala arah, ia tak menemukan keberadaan kusir kuda itu.
"Bukannya tadi disini ya Wid, kok cepet banget hilangnya!"
"Tuh kan segalanya yang ada di sekitar kita jadi kayak misterius gitu. Jangan-jangan pak Kirun itu bukan manusia lagi!" Seru Widia seraya bergidik.
"Tapi lu mau buktiin omongan pak Kirun tadi gak Ko? Gue jadi penasaran nih, kenapa tiap jam dua belas tengah malam kita gak dikasih keluar kamar. Masak iya cuma gara-gara buronan yang bersembunyi?"
"Kalau lu penasaran kenapa gak coba aja buktikan ucapan pak Kirun. Kita cari tau aja apa yang sebenarnya terjadi!" Pungkas Riko seraya mengendarai sepeda motor.
"Nah gue setuju sama ide lu Ko." Kata Widia dengan menjentikkan jarinya.
Siang itu mereka terlambat sampai di Panti Jompo. Nampak Mariyati sudah menanti kedatangan keduanya di depan pintu. Ia berkacak pinggang dengan membulatkan kedua mata. Mariyati sangat marah, karena Widia dan Riko terlalu lama berada diluar. Hanya dengan satu gertakan saja, membuat nyali keduanya mengecil.
"Ta tadi motornya mogok bu, jadi kami terlambat pulang." Ucap Widia gagap.
"Iya bu, benar kata Widia. Motornya mogok, belum lagi kami harus membelikan titipan Dina yang sedang ngidam." Jelas Riko dengan menenteng sekantong besar belanjaan titipan Dina.
Dari dalam terdengar suara yang menyahuti, jika apa yang Dina inginkan memang harus dituruti supaya jabang bayinya gak ileran.
"Kau harus memahami hal yang satu itu Mariyati! Aku juga tak mau bayi itu kelak menjadi tak sempurna." Cetus mbah Gito seraya tersenyum melalui sudut bibirnya.
Riko merasa ada makna tersembunyi dibalik perkataan mbah Gito. Namun ia tak dapat menerka-nerka, sehingga ia hanya mengaitkan kedua alis mata. Widia memberikan kode dengan gestur tubuh. Ia menyikut lengan Riko dengan menaikan dagunya. Gadis itu juga menaruh curiga pada lelaki tua yang ada di depannya. Keduanya kini sedang mencari cara, supaya dapat memberikan informasi pada Dina. Jika ada bahaya yang mengintai mereka di Panti Jompo tersebut. Namun, baik Widia ataupun Riko juga masih bimbang menyampaikan kecurigaan mereka pada Dina.