
Sedari tadi nek Siti selalu menoleh ke ruangan Mariyati. Ia hawatir jika pengelola Panti itu mengetahui fakta jika Widia sudah tak ada di dalam ruangan yang sama dengannya.
"Apa kau sedang mencemaskan sesuatu?" Nek Windu menatapnya penuh curiga.
"Windu... Kenapa sekarang kau berubah menjadi tamak? Apa sisi kemanusiaan mu sudah hilang sepenuhnya?" Nek Siti memandang wajah nek Windu dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kau berkata seperti itu Siti? Kemanusiaan mana yang kau bicarakan? Apa kau lupa, kita sudah bukan manusia lagi. Kenapa kau mempertanyakan ku begitu?"
"Tetap saja, dulunya kau tak seperti itu. Bahkan saat kau mempersembahkan tumbal pertamamu, kau selalu mengutuki perbuatan mu sendiri. Tapi sekarang, kau ingin menumbalkan cicit yang baru saja kau jumpai? Apa kau tak memiliki sedikit kasih sayang untuknya?"
Nek Windu diam dengan menundukkan kepala. Ingatannya kembali ke beberapa puluh tahun ke belakang. Ia teringat wajah anak sulungnya yang menjadi tumbal pertama. Tanpa terasa air mata mengalir membawa wajahnya. Nek Windu terisak dalam diam, bayangan wajah Widia juga terlintas di kepalanya.
"Apa kau sedang berusaha mempengaruhi Windu? Dasar picik! Kau masih saja berusaha memecah belah keluarga di Panti ini. Kalau kau tak mau menerima persembahan, jangan pernah mempengaruhi mereka semua!" Ucap nek Dijah membulatkan kedua mata.
Nek Siti berdecih. Ia meninggalkan nek Dijah begitu saja. Sementara nek Windu masih terus berlinang air mata. Tak berselang lama, kakek Ridho datang menegur nek Dijah.
"Sudah cukup Dijah! Perbuatan mu keterlaluan! Kau berniat menjebak Sintia, meski pada akhirnya cicitmu sendiri yang celaka. Jika Dina sampai tak kembali lagi, kau sendiri yang akan merugi!" Kakek Ridho menegurnya dan membuat nek Dijah bungkam seribu bahasa.
"Jika sampai sore nanti Dina tak segera kembali. Aku sendiri yang akan membuat Sintia pergi dari Panti ini. Kalau aku tak bisa mendapatkan persembahan jiwa. Siti juga tak boleh mendapatkan nya!" Batin nek Dijah di dalam hatinya.
Terlihat nek Siti tersenyum melalui sudut bibirnya. Ia seakan tau isi hati nek Dijah, dan membiarkan lansia itu mengatur rencana jahatnya. Terkadang sesuatu yang buruk justru terjadi untuk menunjukkan kebaikan bagi semuanya. Nek Siti yakin, dengan usaha nek Dijah menyingkirkan Sintia dari Panti itu, akan membuatnya terbantu. Kakek Ridho berbicara pelan dengan nek Siti. Ia meyakinkan nek Siti dengan rencana yang akan mereka lakukan. Mereka tak ingin membuat Mariyati curiga, dan akan menyakiti cicit mereka.
"Kita akan limpahkan kesalahan itu pada Dijah. Dia sudah tega menjebak cicitku, kali ini aku akan membalasnya dengan perbuatan nya sendiri."
"Lantas bagaimana jika Dina ternyata dapat kembali lagi? Apakah mungkin Dijah akan mengurungkan niatnya untuk membuat Sintia pergi dari Panti ini?" Tanya kakek Ridho mengaitkan kedua alis mata.
"Meski Dina kembali, kita tetap harus membuat gadis itu meninggalkan tempat terkutuk ini. Walaupun nenek buyutnya jahat, aku tak bisa memperlakukan cicitnya dengan kejam."
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Sebelum terdengar suara adzan dzuhur, para lansia sudah masuk ke dalam kamar mereka. Dengan cepat Sintia menarik tangan Riko ke dalam kamarnya. Ia membuka pintu lemari kayu, dan melihat Widia tak berada di dalam sana. Sontak saja Sintia panik, ia gemetaran menyadari jika temannya sudah tak ada di tempat persembunyian nya.
Cekleeek.
Terdengar suara derit pintu yang terbuka. Sintia dan Riko saling menatap tak berani membalikkan tubuhnya. Terasa sesuatu yang menyentuh pundaknya. Sintia membulatkan mata terkejut, deru nafasnya terdengar berat. Ia tak bergeming dari tempatnya berdiri. Riko menoleh ke belakang, lalu menghembuskan nafas panjang.
"Astaga Widia... Lu ngagetin kita aja tau gak!" Seru Riko menggelengkan kepala.
"Ya ampun Widiaaa... Lu bikin panik kita aja sih! Kenapa lu ninggalin kamar ini tanpa pamit ke gue?" Tanya Sintia dengan mata berkaca-kaca, lalu mendekapnya.
Tak ada jawaban dari Widia. Nampak tatapan matanya kosong, ia hanya berdiri diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sintia mengernyit, ia merasa aneh dengan perubahan sikap Widia. Padahal sebelumnya Widia selalu merengek ingin segera pergi meninggalkan Panti. Namun kali ini ia hanya diam tanpa kata.
"Sekarang adalah waktu yang tepat buat kalian berdua pergi meninggalkan tempat ini. Biar gue yang mastiin semua baik-baik aja. Ini kalian bawa aja, di dalamnya ada perbekalan dan senjata untuk perlindungan diri." Kata Sintia seraya memberikan ransel berwarna hitam pada Riko.
"Tapi lu gimana Sin? Mana mungkin gue bisa tenang ninggalin lu disini sendirian!"
"Gue gak sendirian Ko, lu tenang aja. Kalian harus segera keluar dari sini. Cepatlah lewat belakang. Masih ada tangga yang gue pakai semalam sama Dina. Kalian harus pergi sebelum Mbah Gito ataupun Bu Mariyati datang!" Sintia langsung mendorong Riko dan Widia keluar dari kamarnya.
Sintia mengawasi sekitarnya. Ia tak mengantarkan kedua temannya sampai taman belakang. Karena ia hanya mau memastikan jika tak ada siapapun yang mengetahui rencananya. Riko dan Widia sudah melewati lorong panjang. Mereka berdiri di tengah taman, dan memandang ke arah Sintia berdiri. Namun ada perubahan ekspresi di wajah Widia. Ia berdecih sebelum menyeringai dengan sorot mata tajam.
"Kenapa ekspresi Widia kayak gitu sih? Sebenarnya dia kenapa? Kok gue kayak gak ngenalin Widia ya?" Batin Sintia dengan mengaitkan kedua alis mata.
Sintia menundukkan kepala melihat ke tanah. Di siang hari dengan terik matahari yang memancarkan cahaya, ia tak dapat melihat bayangan tubuh kedua temannya. Seketika Sintia terkejut, ia berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin kedua temannya itu tidak memiliki bayangan, meski mereka berdiri di bawah sinar matahari. Mungkinkah sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan nya.