TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 38 MISTERI ISI KOTAK KARDUS?


Sintia melangkahkan kakinya perlahan. Ia memperhatikan sekitar, dan melihat ke sudut ruangan. Matanya tertuju pada sederet sesajen yang ada di ujung ruangan yang paling gelap. Dan salah satu sesajen nya terlihat memiliki ciri khas seperti sesajen yang dipakai orang tionghoa. Nampak buah-buahan dan dupa di sekitat sana. Sintia mengaitkan kedua alis mata, ia sedang menerka-nerka apa tujuannya meletakkan sesajen di dalam ruangan gelap seperti itu. Ia sedikit curiga dengan ucapan Mariyati, yang selalu memperingatkan nya untuk tak membuka tirai penutup cermin.


"Entah kenapa gue ngerasa agak lain dengan peringatan itu. Sepertinya sudah berkali-kali dia ngebahas tirai cermin yang gak boleh kebuka. Emang sih seingat gue, waktu itu pernah lihat penampakan perempuan tua ketika tirai itu kebuka karena ketiup angin. Tapi apa sosok itu yang dimaksud dapat mengundang bahaya buat gue ya?" Gumam Sintia pada dirinya sendiri.


Sintia memilih tak menghiraukan kecurigaan nya. Ia membongkar kotak kardus yang menumpuk, dan banyak debu serta sarang laba-laba yang tebal. Ia terbatuk begitu debu itu menghambur ke wajahnya. Sintia menutupi hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya membersihkan debu yang menumpuk di atas kardus.


"Kenangan tempo doeloe." Kata Sintia membaca tulisan tangan seseorang di atas kertas usang yang menempel di kardus.


Sintia membongkar isi kardus yang berisi foro-foto Panti Jompo Muara Hati pada jaman dulu. Nampak setumpuk album foto dengan gambar hitam putih. Terlihat banyak foto lansia yang pernah tinggal di Panti, dan berbagai kegiatan mereka pada waktu itu. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya, foto-foto seorang perempuan yang tak asing di matanya. Ia terlihat berpose dengan beberapa lansia yang ada disana. Tak jelas tahun berapa foto itu di ambil, tapi jika melihat kualitas gambarnya tentu sudah sangat lama. Lagi-lagi Sintia semakin curiga, setelah melihat isi album foto lama itu. Namun di tengah-tengah kecurigaannya, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dengan cepat Sintia menutup album foto itu. Ia berniat mengembalikan semuanya ke dalam kardus. Namun karena terburu-buru, ia malah menjatuhkan setumpuk album foto itu ke lantai.


Braaakkk.


Suara gaduh menggema di ruangan itu. Sintia panik dan berniat bersembunyi di balik lemari besi yang berkarat. Namun setelah ia mendengar suara Widia, Sintia mengurungkan niatnya. Ia keluar dari persembunyian, lalu menarik lengan Widia ke dalam ruangan gelap.


"Duh sakit tau Sin, ada apa an sih?" Protes Widia seraya mengibaskan tangan Sintia.


"Sini deh, ada yang mau gue tunjukin ke lu Wid!"


"Nanti aja deh nunjukinnya, lu udah dicari bu Mariyati tuh. Piringan hitam nek Dijah udah ketemu, dia emang suka lupa naruhnya dimana. Untung ada Riko yang gerak cepat nyari, kalau gak lu bakal kelamaan di dalam gudang angker ini." Ucap Widia seraya bergidik mengusap belakang lehernya.


Sintia termangu dan tak dapat berkata apa-apa, apalagi saat Widia menarik tangannya begitu saja. Reflek ia hampir meninggalkan album foto itu begitu saja. Namun ia memilih untuk merapikan kembali, dan meletakan nya tak jauh dari pintu gudang. Sintia bermaksud untuk melihat album foto itu kembali, dan memastikan sesuatu yang membuatnya curiga. Begitu mereka kembali ke ruang tengah, nampak nek Dijah dan kakek Dodit sedang menari bersama. Sementara kakek Bimo memilih bermain catur bersama kakek Ridho.


"Sin, semua pekerjaan lu udah gue selesaiin. Habis ini lu bisa duduk santai nemenin nek Siti." Kata Riko seraya menyunggingkan senyum.


Tak ada jawaban dari Sintia. Ia mengacungkan Riko, dan menyibukkan diri di dapur. Terjadi perdebatan di antara mereka, karena Riko memaksa untuk memberikan penjelasan. Perdebatan mereka terhenti setelah nek Siti datang, dan mengajak keduanya untuk mengobrol di teras belakang.


Mendengar penjelasan nek Siti, nampak Sintia hanya mengerutkan kening. Ia merasa jika nek Siti berusaha memberitahu sesuatu melalui kata-katanya. Namun ia tak berani banyak tanya, karena tak jauh darinya ada Mariyati yang mengamati pergerakan mereka. Reflek Sintia menarik tangan Riko dan berlagak seakan semua baik-baik saja.


"Lu jangan salah paham ya, gue kayak gini karena mau dengerin nasehat nek Siti. Gue gak mau ada orang lain yang di untungkan dari perdebatan kita. Jadi mulai sekarang bersikap normal saja, anggap kita gak ada masalah. Tapi jangan terlalu berharap gue mau deket lagi sama lu!" Seru Sintia sebelum melangkah pergi.


Mariyati tersenyum melalui sudut bibirnya, ia sudah menebak jika nek Siti masih berusaha memberi petunjuk pada cicitnya. Namun Mariyati sudah menyiapkan strategi khusus, supaya kelak nek Siti tak dapat berkutik. Dan terpaksa menerima persembahan jiwa Sintia.


"Kenapa kau tersenyum melihat mereka?" Tanya Mbah Gito seraya menenteng barang-barangnya.


"Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Siti, dan itu akan menjadi hadiah spesial dariku. Nantinya Siti akan suka rela menerima takdirnya, sementara Sintia sendiri yang akan menyerahkan dirinya hahaha." Mariyati tertawa angkuh merasa rencananya akan berhasil.


Keduanya berbincang seraya berjalan keluar. Mariyati mengantarkan Mbah Gito sampai halaman depan. Dari kejauhan nampak Pak Kirun duduk di atas delman, memperhatikan keduanya dengan sorot mata tajam.


"Ternyata kau masih membiarkan dia berkeliaran di sekitar sini. Apa kau sengaja merencanakan sesuatu di belakang ku?" Kata Mbah Gito mengaitkan kedua alis mata di depan Mariyati.


"Lancang! Berani sekali kau menuduh ku begitu Gito?" Mariyati membulatkan kedua mata, menatap Mbah Gito penuh amarah.


Terlihat Pak Kirun mengemudikan delmannya ke arah keduanya. Ia menghentikan laju delman tepat di depan Mariyati dan Mbah Gito. Dengan tersenyum ramah, Pak Kirun menyapa mereka seraya turun dari delmannya. Namun keduanya justru bersikap dingin, dan mengacuhkan sapaan kusir kuda itu.


"Ternyata kalian berdua masih kompak saja ya. Apalagi rencana kalian kali ini? Aku harap, tak ada penyesalan di dalam hidup kalian kelak. Ingatlah selamanya hidup di dunia ini tak selalu mendatangkan kesenangan. Ada kalanya hal yang tak sesuai bisa saja terjadi. Seharusnya kalian hidup sesuai dengan ketentuan yang ada, maka kalian tak akan terkatung-katung seperti ini." Pak Kirun berkata seraya berjalan memutari keduanya.


"Tutup mulutmu lelaki tua bangka! Kau tak pantas berceramah seperti itu, kami lebih sakti daripada yang kau kira. Ilmu kami sudah jauh di atas mu, jadi jangan berani lagi menantang!" Seru Mbah Gito seraya berkacak pinggang.


Mariyati hanya diam dengan menundukkan kepala. Ia tak sanggup menatap wajah lelaki tua yang ada di depannya. Meski berbeda aliran, ia masih memiliki rasa segan pada lelaki pengemudi delman itu.