
Sintia melangkah lebih dekat ke arah mobil yang melaju, namun mobil itu melewatinya begitu saja. Sintia semakin panik dan ketakutan, membayangkan jika Mariyati ataupun mbah Gito datang. Ia tak mau tinggal diam di tempat itu saja, sehingga ia memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan beraspal yang sangat sepi dari pengendara. Hanya ada beberapa mobil pick up yang melewati jalan itu untuk membawa hasil perkebunan ke kota. Namun sudah ada dua mobil yang melewatinya tanpa berhenti sama sekali. Kini Sintia semakin panik, ia cemas jika tak ada waktu lagi untuk meninggalkan daerah itu. Ia membulatkan tekad untuk menghadang mobil di tengah jalan.
"Gue gak punya pilihan lain, kalau gue gak berdiri di tengah jalan, gak akan ada yang mau kasih gue tumpangan. Pasti orang-orang yang melewati daerah ini takut buat berhentiin mobilnya. Mungkin mereka pikir gue punya niat jahat." Batin Sintia di dalam hatinya.
Sintia sudah berada di tepi jalan, memandang dari kejauhan menunggu kendaraan apapun yang akan melintas di dekatnya. Hampir dua puluh menit lamanya ia menunggu, sampai akhirnya sorot lampu terang menembus kabut tebal. Sintia menghembuskan nafas panjang, lalu membaca basmallah sebelum berlari ke tengah jalan. Ia menghentikan langkah tepat di tengah-tengah seraya merentangkan kedua tangan. Tabrakan tak dapat terhindarkan, Sintia jatuh dan berguling di jalan. Seketika mobil itu berhenti, dan beberapa orang keluar untuk mengecek keadaannya. Nampak raut wajah ketiganya panik, mereka tak menyangka jika menabrak seseorang.
"Wah gilak! Kok perempuan ini nekat berdiri di tengah jalan sih, kayak mau bunuh diri aja!" Seru Dahayu seorang gadis yang memiliki ilmu leak, yang kemungkinan di masa depan bisa membantu banyak orang.
"Husssd... Jangan ngomong gitu mbak! Mungkin aja dia lagi ada masalah, tapi sebelum jarak kita semakin dekat dengan dia. Gue udah lihat nih cewek kayak sengaja berlari ke arah mobil kita sih. Tapi gak tau juga apa tujuan nya begitu!" Seru Rania, gadis indigo yang memiliki beberapa kemampuan khusus yang berhubungan dengan para makhluk gaib.
"Udah udah, jangan ribut lagi. Tolong bantuin bawa perempuan ini ke dalam. Kita harus membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku gak mau ada dugaan tabrak lari, kita harus menolongnya secepatnya." Sahut Adit, seorang petugas kepolisian yang berteman baik dengan kedua gadis yang bersamanya.
Akhirnya ketiganya membawa Sintia ke dalam mobil. Dahayu duduk dibelakang bersama gadis yang baru saja tertabrak mobil yang mereka tumpangi. Nampak darah mengalir dari kening nya. Sintia terluka cukup parah dibagian kepala, membuat ketiga orang yang tak sengaja menabraknya makin hawatir.
"Kok gue ngerasa ada bayangan hitam yang ngikutin mobil sih. Perasaan dari tadi gak ada gangguan apapun, kenapa sekarang ada sosok gaib yang seakan ngawal mobil ini ya?" Batin Rania di dalam hatinya.
Rania menolehkan kepala ke belakang, membuat Dahayu ikut penasaran. Keduanya yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan sosok gaib merasa ada kejanggalan, namun mereka tak bisa menemukan jawaban apapun.
"Gue ngerasa ada yang janggal juga sih mbak. Setelah kita bersama gadis ini, bayangan hitam itu semakin sering menampakkan wujudnya. Gue ngerasa sosok itu nyuruh kita ninggalin dia di hutan ini." Kata Rania seraya memandang ke arah hutan belantara.
"Udah deh kalian gak usah ngomongin yang gaib dulu. Kalau kita terlambat memberi pertolongan, bisa jadi kasus buat aku tau gak. Tolong nanti berikan keterangan ke pihak polisi setempat ya, aku udah menghubungi petugas. Kalau udah kalian berdua bisa pulang duluan ke Jakarta. Aku masih harus ada disini sampai gadis ini dinyatakan baik-baik aja." Jelas Adit seraya mengemudikan mobil.
Rania dan Dahayu saling memandang. Sebenarnya mereka tak tega meninggalkan Adit menghadapi masalah itu seorang diri. Namun tanggung jawab mereka pada pekerjaan tak bisa di abaikan. Sore harinya mereka harus kembali ke Jakarta, karena itulah Adit sudah memesankan mobil travel untuk keduanya.
Sesampainya di rumah sakit, para perawat segera membawa Sintia ke ruang igd. Ia mendapatkan pertolongan pertama disana. Adit sedang berbicara dengan petugas polisi setempat. Sementara Rania dan Dahayu masih menunggu diluar ruangan igd. Keduanya kembali membahas sosok hitam yang memantau gerakan mereka. Padahal keduanya merasa tak memiliki masalah apapun dengan sosok tersebut. Karena itulah mereka penasaran, kenapa sosok hitam itu seakan memantau mereka.
"Gue jadi makin penasaran deh mbak. Jangan-jangan gadis yang kita tabrak tadi ada hubungannya dengan sosok hitam itu. Mungkin gak sih dia sengaja nabrakin dirinya, supaya kita berhenti dan nolongin?" Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Sebenarnya gue juga ngerasa gitu Ran, lagian ngapain tuh cewek pagi buta ada di tengah jalan perhutanan? Kan aneh loh, mana sendirian lagi gak ada siapa-siapa disana." Jawab Dahayu menerka-nerka.
"Nah itu dia mbak yang gue maksud. Ngapain dia disana sendirian, pasti ada sesuatu yang gak beres deh. Kalau bukan berhubungan dengan kriminal, pasti ada hubungannya dengan gaib. Apalagi dari tadi bayangan hitam itu kayak hilang muncul gitu terus. Seperti sedang mantau sesuatu!" Pungkas Rania seraya mendongakkan kepala ke atas.
Kedua gadis itu sedang mencari jawaban dari misteri yang terjadi hari itu. Meski mereka tak sengaja menabrak Sintia, tentu saja mereka ingin menyelesaikan misteri yang mengganggu naluri. Mungkinkah Rania dan Dahayu akan tetap membantu Sintia menyelesaikan semuanya. Sementara keduanya juga memiliki tanggung jawab atas pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Sintia sendiri masih dalam keadaan tak sadarkan diri di dalam ruangan igd.