TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 76 SIAPA KEDUA JIWA ITU?


"Gak tau kenapa gue jadi tertarik melihat bangunan tua itu. Mungkin mengingatkan gue sama situasi tempat tinggal kita." Jelas Dahayu mengaitkan kedua alis mata.


"Hmm... Mungkin sih mbak, tapi gue juga agak keppo sih. Kayak pernah lihat bangunan itu dimana gitu loh!" Ucap Rania seraya memijat pangkal hidungnya.


"Bangunan tua kayak gitu kalau di kota kan banyak Ran! Rata-rata jadi gedung pemerintahan, kalau gak musium dan sebagian lainnya kalau gak terbengkalai ya beralih fungsi jadi apa aja selagi masih bisa digunakan. Entah restoran, tempat wisata jaman dulu, atau jadi rumah singgah mungkin." Celetuk Dahayu kembali melangkahkan kakinya.


Rania menjentikkan jari, ia mendapat petunjuk dari gambaran yang Dahayu katakan. Ia jadi ingat dengan penglihatan batin di sebuah taman yang ada di Panti Jompo Muara Hati. Melihat bentuk bangunan nya nampak sama, sontak saja ia membalikkan tubuhnya dan melihat ke halaman luar bangunan tua tadi.


"Dimana ya, kok gak ada sih?" Kata Rania bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia menggaruk kepala yang tak gatal, mencari papan nama Panti Jompo Muara Hati. Tapi tak ada papan nama apapun disana.


"Gimana sih, seharusnya kan ada. Kalau emang ini tempat yang sama, yang gue lihat melalui batin!" Gumamnya pada diri sendiri.


Dahayu lagi-lagi menepuk lengan Rania. Karena sedari tadi gadis itu terus berbicara sendirian. Akhirnya Rania menjelaskan apa yang mengganjal di dalam hatinya, mengenai kemungkinan bangunan tua itu adalah Panti Jompo yang diceritakan Sintia. Tapi mereka tak memiliki bukti apapaun untuk membenarkan kecurigaan mereka. Sehingga keduanya memilih menduga-duga saja.


"Kita sambil jalan aja ke depan sana, kali aja ada warung yang masih buka. Terus kita bisa tanya-tanya sama warga sekitar mbak."


"Ya udah yuk, kalau laper gue juga gak bisa mikir nih Ran!"


Keduanya berjalan sampai dua ratus meteran lebih. Sampai mereka menemukan gubuk kecil, yang terlihat ada beberapa orang duduk bersantai dengan bermain catur. Mereka menghembuskan nafas lega, karena sepertinya gubuk itu terlihat seperti warung kopi remang-remang. Meski agak aneh di tempat terpencil seperti itu ada warung yang masih buka. Rania dan Dahayu memberanikan diri berjalan mendekat. Setelah bertanya pada beberapa lelaki yang berkumpul disana, mereka sedang menunggu tengkulak datang untuk memborong hasil perkebunan mereka. Sehingga mereka bergadang disana, dan pemilik warung sengaja buka sampai larut karena masih ada pembeli yang melariskan dagangannya. Pembeli itu hanya berjualan sampai larut ketika para petani itu mau menjual hasil kebun ke tengkulak saja.


"Kami penumpang travel yang mobilnya terpaksa berhenti di ujung jalan sana pak. Ada pohon tumbang yang menghalangi jalan, jadi kami gak bisa melanjutkan perjalanan." Jelas Rania seraya memesan mie instant dan segelas teh hangat.


"Di ujung jalan mana mbak? Kalau malam begini bakal susah nyari bantuan. Apalagi terkendala dengan peralatan juga. Mungkin bisa menunggu agak pagian, para petani pasti bakal pergi ke sawah atau kebun mereka. Naj, nanti bisa minta tolong supaya dibantu memindahkan pohon tumbang itu tadi." Tanya salah satu pembeli yang ada disana.


"Itu loh pak dekat bangunan tua khas belanda. Kami jadi ketahan disana, dan terpaksa berjalan sampai sini karena lapar." Jawab Dahayu seraya melahap sebungkus roti sobek.


Nampak semua orang saling menatap satu sama lain, mereka berbisik mengatakan sesuatu yang tak bisa didengar.


"Oh iya pak, bangunan tua itu terlihat terawat ya. Emangnya digunakan buat apa ya pak, kok di tempat terpencil kayak gini masih ada bangunan dengan model begitu." Rania bertanya karena penasaran.


"Hmm... Itu bangunan milik bu Mariyati, tapi orangnya jarang terlihat. Mungkin karena udah tua juga, cuma kami sering lihat ada keponakannya yang seusia kalian sering keluar masuk bangunan itu. Mungkin ya gadis itu yang merawat bangunan tua itu, kalau tidak mana mungkin pemiliknya sanggup merawat bangunan besar begitu." Jelas bapak penjual warung.


"Oh jadi itu hanya bangunan biasa yang dijadikan rumah. Pantas aja gak ada papan nama Panti Jompo nya. Mungkin hanya terlihat mirip aja sih, soalnya hampir semua bangunan bekas Belanda memiliki arsitektur yang sama. Dan lagian yang gue lihat cuma bagian dalamnya aja, karena di dalam penglihatan batin, gue gak lihat bagian luar Panti Jompo itu." Batin Rania di dalam hatinya.


Dahayu bertanya dengan gestur tubuh, dan dibalas dengan gelengan kepala Rania. Tak lama mie instant pesanan mereka datang, keduanya langsung menyantapnya.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi beberapa tengkulak mulai berdatangan. Para petani itu mulai melakukan transaksi, Dahayu terlalu asyik mengamati suasana kebun disana. Sementara Rania malah diikuti sesosok hantu anak kecil yang merengek minta susu cokelat. Hantu kecil itu terlihat kelelahan, karena ia mengaku habis bermain-main dengan para hantu yang tinggal di gubuk tua. Kedua hantu pemuda yang meminta tolong pada hantu gadis kecil itu, supaya mereka dapat kembali ke alam keabadian. Namun hantu kecil itu mengatakan, jika jiwa kedua hantu pemuda itu tak bisa meninggalkan alam fana ini. Menurutnya jiwa keduanya sudah tergadaikan, berbeda dengan sosoknya, meski gentayangan ia bisa kembali ke alam keabadian kapanpun ia mau. Mendengar cerita hantu gadis kecil itu, Rania terlihat iba dan kasihan pada kedua hantu pemuda yang diceritakan. Namun jika memang benar begitu adanya, maka sudah bisa dipastikan kedua jiwa tanpa raga itu pasti terikat dengan perjanjian gaib sebelum mereka meninggal dunia.