
"Bukan begitu nduk maksudku. Mungkin kau pernah bertemu dengan orang-orang dengan aura yang berbeda di suatu tempat. Orang yang kau temui tanpa ada keperluan pekerjaan. Biasanya kau tak akan menduga jika mereka adalah salah satu kelompok pemuja iblis."
Mendengar penjelasan pak Jarwo, Rania langsung diam dan mengingat beberapa kejadian. Memang sebelum kembali ke Jakarta, ia sempat bertemu dengan orang-orang baru karena mobil travel yang ditumpanginya terpaksa berhenti karena terhalang pohon tumbang. Belum lagi ketika sampai di Jakarta, ia juga berurusan dengan beberapa orang yang membawanya ke dalam kasus pembunuhan istri seorang pengusaha.
Plaaakk!
Mbak Ayu menepuk pundak Rania dari belakang, membuatnya berjingkat karena terkejut.
"Kalau gue sih curiganya sama orang-orang di desa sana Ran. Biasanya orang desa identik dengan hal gaib. Tapi belum pasti juga sih, mengingat tante Ajeng yang tinggal di kota juga melakukan perjanjian gaib dengan iblis. Jadi mau dari kota ataupun desa bisa saja melakukan hal sesat macam itu." Celetuk mbak Ayu yang ternyata mendengar obrolan Rania di telepon.
"Hmm gimana ya pak, masuk akal juga penjelasan mbak Ayu!"
"Baiklah nduk, malam ini coba kau telusuri dulu. Tapi jangan terlalu dalam, bisa saja kau masuk jebakan mereka. Aku sedang ada pasien yang kondisinya sangat parah, jadi aku harus menolongnya terlebih dulu. Ingatlah pesanku, jangan terlalu dalam melakukan penelusuran. Kelompok sesat kali ini lebih bahaya dari kelompok yang dipimpin Ajeng. Aku harap kau menuruti perkataan ku." Ucap pak Jarwo sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Rania terduduk lemas di bangku depan, mbak Ayu menyunggingkan senyuman seraya menggenggam tangan nya. Tak berselang lama Adit menghampiri keduanya, ia menjelaskan jika ibu Sintia dalam perjalanan ke suatu tempat untuk meminta pertolongan pada orang yang paham dengan dunia gaib.
"Mungkin kita percayakan saja dulu pada ibunya. Siapa tau orang yang didatangi ibunya bisa membantu."
"Gak bisa gitu mas, aku harus tetap melakukan sesuatu. Karena pak Jarwo bilang orang-orang yang menggadaikan jiwa Sintia sudah mencurigai ku. Dan aku harus tau siapa orang yang dimaksud pak Jarwo. Aku akan melakukan penelusuran malam ini." Cetus Rania dengan sorot mata tajam.
*
*
Ibu Sintia mendapat kabar buruk, jika orang pintar yang didatangi nya telah kalah. Ia bahkan terjebak di alam lain, dan tak bisa kembali. Dengan berlinang air mata, ibu Sintia duduk bersimpuh seraya memohon pada Yang Maha Kuasa. Ia tak tau harus meminta kepada siapa lagi selain pada PenciptaNya.
Di tempat lain, Rania sudah berhasil melepas jiwa untuk pergi menelusuri alam gaib. Namun ada sosok lain yang menghadang langkahnya. Seseorang yang tak asing di matanya. Lelaki paruh baya mengenakan blangkon dan celana hitam yang terlilit kain jarik di pinggangnya.
"Apa kau mengenaliku? Dari awal bertemu aku merasa kau tak asing bagiku. Ternyata kau adalah keturunan Ki Ageng Gede, orang kepercayaan Pangeran Jin muslim. Beliau adalah junjungan ku, panutan sekaligus guru spiritual ku."
"Da darimana kau mengenal eyang buyutku? Sebenarnya kau ini siapa, auramu berbeda dari kakek buyutku, bagaimana mungkin kau mengenalnya?" Tanya Rania di alam berantah.
"Aku adalah murid Ki Ageng Gede, auraku agak sedikit berbeda darinya. Karena dulunya aku adalah seorang pembangkang. Aku pernah mempelajari ilmu sesat, dan mengorbankan beberapa nyawa demi menghidupkan nyawa orang yang ku sayang. Nyatanya aku hanya ditipu, jiwa yang merasuk ke dalam raga orang yang paling ku sayang telah dirasuki oleh sosok dari alam lain. Aku ditipu, dan satu-satunya keluarga ku yang tersisa kini berseberangan keyakinan denganku. Aku mencegahmu melakukan penelusuran karena mereka sudah mencurigai akan ada yang datang untuk mencari mereka. Kau akan terjebak bersama orang yang telah menyusup ke dalam sana. Jangan bertindak gegabah dulu, aku akan membantumu."
"Apa aku bisa mempercayai perkataan mu?" Rania mengaitkan kedua alis mata curiga.
Sosok yang ada di depannya hanya menyunggingkan senyum, tanpa mengatakan apapun. Ia membuka lebar telapak tangannya di depan mata Rania. Muncul gambaran-gambaran seseorang yang tak ia kenal. Kisah masa lalu beberapa orang yang tinggal di sebuah Panti Jompo. Sebuah tempat yang terlihat tenang dan dipenuhi kehangatan, meski banyak dari para penghuninya yang kehilangan kasih sayang dan perhatian keluarganya. Namun mereka mendapat dukungan dan perhatian dari orang-orang yang menjaga mereka selama di Panti. Sampai terjadi suatu tragedi yang membuat pengelola Panti terpaksa melakukan perjanjian gaib dengan penguasa dari alam kegelapan. Sejak saat itu, kehidupan di Panti berubah drastis. Satu persatu lansia yang tinggal disana sakit keras dan beberapa meninggal dunia karena tragedi yang pernah terjadi. Namun anehnya tiba-tiba mereka bisa pulih dari sakitnya. Dan kembali sehat bahkan lebih bugar dari sebelumnya.
Rania terbelalak melihat semua gambaran tersebut. Ia jadi semakin curiga, jika Panti jompo yang sedang ia lihat adalah Panti yang sama tempat Sintia dan teman-temannya terjebak. Lalu apakah yang akan dilakukan Rania setelah ini?