TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 55 MENEMBUS TEMBOK, PINDAH ALAM?


Karena merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Sintia berlari menghampiri Riko dan Widia. Ia berdiri dengan berkacak pinggang di depan keduanya. Nampaknya Riko penasaran dengan tingkah Sintia.


"Kenapa lu kesini Sin? Apa lu mau kabur sekalian bareng kita?" Tanya Riko mengaitkan kedua alis mata.


"Kalian berdua... Kenapa gak punya bayangan?" Jawab Sintia dengan menunjuk ke bawah.


Widia tersenyum melalui sudut bibirnya, membuat Sintia semakin bertanya-tanya. Riko melihat Sintia dengan tatapan aneh.


"Bayangan? Lu gak lihat kita ada di bawah pohon sekarang. Tuh bayangan lu juga gak ada Sin. Emangnya kenapa sih sampai mempermasalahkan bayangan segala?" Ucap Riko dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Sintia tercekat. Spontan ia melihat ke bawah, dan menyadari jika bayangan nya pun tak ada. Ia menghembuskan nafas panjang, beranggapan jika perasaannya salah. Dan ia terlalu mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi.


"Hmm gak ada apa-apa sih Ko. Gue cuma mau nganter kalian sampai taman. Kalau dalam dua hari gue gak datang, kalian harus cepat pergi dari daerah ini. Oke?" Kata Sintia.


Riko hanya diam dengan mengacak rambutnya kasar. Sementara Widia hanya diam tanpa ekspresi. Sampai akhirnya Riko dan Widia pergi meninggalkan Sintia seorang diri.


"Gak tau kenapa gue ngerasa ada yang aneh. Tapi masalah bayangan emang gak masuk akal. Gue gak mau buat mereka salah paham. Ah ya sudahlah, gue pikir sekarang udah aman. Karena mbah Gito dan bu Mariyati belum datang. Tapi kalau emang yang dibilang Widia benar, bu Mariyati harusnya emang gak keluar dari persembunyian dulu. Dan apa mungkin gue bisa tetap aman bersama para hantu lansia itu." Batin Sintia di dalam hatinya resah.


Saat ia membalikkan tubuhnya, nampak mbah Gito berdiri tepat di belakangnya. Lelaki paruh baya itu memandangi Sintia dengan raut wajah serius. Sintia berkeringat dingin, ia takut jika apa yang dilakukannya sudah ketahuan. Karena itulah Sintia tak membuka mulutnya sama sekali.


"Kenapa kau terlihat sangat ketakutan Sintia?"


"Hmm gak kenapa-napa kok mbah!"


"Apa kau melihat sesuatu disini?"


Sintia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia baru menyadari jika sikap gugupnya justru membuat mbah Gito curiga. Akhirnya ia bersikap normal, dan mengajukan pertanyaan mengenai Dina.


"Ah iya... Gadis itu sudah ada di dalam kamarnya. Tapi kau harus membantunya, dia sangat lemah. Sepertinya ada kehidupan lain di dalam tubuhnya."


"Kehidupan lain? Maksud mbah Gito apa?"


"Kau tentu sudah tau, jika beberapa waktu yang lalu. Riko dan Dina sempat berbuat yang tidak senonoh, mungkin hasil dari hubungan itu adalah apa yang ada di dalam tubuh Dina saat ini."


Deegh.


Jantung Sintia sempat berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia seakan tak percaya dengan kenyataan yang ada. Matanya berkaca-kaca menahan kesedihan dan kekecewaan. Ia baru tersadar ketika mbah Gito menyentuh pundaknya.


"Tolong ambilkan makan dan minum untuk gadis itu. Kasihan janin yang ada di dalam rahimnya. Untung saja aku bisa menyelamatkannya dari siluman harimau, kalau aku terlambat datang, mungkin saja Kirun sudah menyerahkan janin itu pada siluman harimau."


"Ba baik mbah..." Kata Sintia dengan suara bergetar menahan air mata.


"Gue gak maksud buat ninggalin lu di hutan Sin. Tapi gue seakan dapat karma instan, gue hampir aja jadi santapan siluman harimau. Untung aja ada pak Kirun dan mbah Gito. Kalau gak, mungkin gue dan calon bayi gue bakal celaka." Dina kembali terisak seraya memegangi perutnya.


"Ja jadi lu beneran hamil anak Riko?" Ucap Sintia terbata-bata.


"Dari awal kan gue udah bilang Sin. Tapi lu gak mau denger perkataan gue. Tolong panggilin Riko, minta dia datang kesini. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!"


Sintia tercekat. Ia baru teringat jika Riko dan Widia sudah meninggalkan Panti. Lantas apa yang akan ia jelaskan pada Dina. Ia tak ingin membuat Dina salah paham, jika ia mengatakan kalau Riko sudah tak ada disana.


"Sin... Kok lu malah bengong sih?"


"Gu gue gak tau Riko dimana, tadi pagi sih gue masih lihat dia. Tapi sejak jam dua belas tadi, gue gak lihat tadi."


"Lu gak ada maksud buat halangin hubungan gue sama Riko kan? Karena saat ini gue udah hamil anaknya!"


"Gak kok Din, gue gak ada maksud apa-apa. Ya udah, lu makan bubur dulu. Biar gue cari Riko sendiri."


Sebelum Sintia melangkahkan kakinya, Dina menarik tangannya. Ia berbicara setengah berbisik. Seketika Sintia mendekatkan telinganya, lalu Dina membisikkan sesuatu yang membuat Sintia agak terkejut.


"Lu yakin Din?"


"Gue denger sendiri Sin. Ngapain gue bohong sama lu. Tapi gue gak yakin juga sih, karena kan mereka berbeda. Kayak orang asing gitu!"


"Sebenarnya selama lu pergi ada masalah di Panti. Dan gue juga gak tau harus jelasin mulai darimana. Mungkin lu juga bakal terkejut dengernya."


"Emangnya apa yang terjadi di Panti?"


Sintia terdiam. Ia tak tau harus berkata apa, karena ia ragu jika Dina akan tetap tutup mulut setelah mengetahui bahwa Riko telah meninggalkan Panti bersama Widia.


"Kayaknya gue harus sembunyikan kebenarannya dari Dina. Paling gak sampai keadaan kondusif. Takutnya Dina shock dan buat keributan, karena dia gak bakal terima kalau ternyata Riko ninggalin dia." Batin Sintia di dalam hati.


"Nanti aja ya gue ceritakan, gue cari Riko dulu." Ucap Sintia mengalihkan pembicaraan.


Setelah kepergian Sintia. Dina menatap penuh curiga. Ia teringat perkataan mbah Gito mengenai Sintia yang kemungkinan bisa jadi penghambat hubungannya dengan Riko.


"Jangan-jangan sesuatu terjadi antara Sintia dengan Riko. Makanya Sintia kayak ragu ngomong ke gue!" Gumam Dina dengan mengepalkan tangannya.


Ditengah kegalauan hati Dina, Sintia justru terlihat semakin kacau. Suasana hatinya sedang tak menentu. Ada perasaan sakit hati, kecewa serta rasa cemas. Tanpa sadar ia melamun di lorong gelap. Sayup-sayup ia mendengar suara rintihan sendu. Sintia mengusap belakang lehernya, karena bulu-bulu halus di tubuhnya meremang. Ekor matanya menangkap wujud sesosok sundel bolong yang ia lihat semalam. Sintia memundurkan langkahnya dengan membulatkan kedua mata. Sundel bolong itu langsung menjambak rambutnya. Ia ditarik menembus tembok dan berpindah ke dimensi lain. Tembok dengan batu bata merah itu terbuka lebar, hanya ada cahaya hitam dari dalamnya. Sundel bolong perwujudan nek Dijah membawa Sintia pergi ke hutan rawa mayit. Tempat dimana berkumpulnya para sundel bolong tinggal.