
Beruntungnya yang mendatanginya malam itu memanglah pak Kirun. Laki-laki paruh baya itu baru saja kembali dari tengah hutan, karena ia merasakan pertanda buruk yang akan terjadi. Namun setelah ia pergi ke tengah hutan, ia justru bertemu dengan sosok nek Dijah yang melesat cepat kembali ke Panti. Setelah mencari tau yang sebenarnya terjadi, pak Kirun buru-buru kembali ke pondoknya. Dan ia melihat Sintia sedang duduk bersimpuh di depan pintu rumahnya.
"Bangun nduk! Kita masuk saja ke dalam, supaya kau tak terlihat mata batin para manusia sesat itu!"
"Tapi pak sa saya..."
"Sudah nduk... Aku sudah tau semuanya. Nenek buyut mu yang menyuruhmu datang ke gubuk ku ini kan? Aku akan memberikan ongkos supaya kau bisa kembali ke kota. Nanti sebelum jam tiga dini hari, aku akan mengantarkan mu sampai ke batas desa. Disana banyak bis antarkota yang lewat pada waktu seperti itu. Untuk sementara ini, istirahatlah di gubuk ku. Hanya tempat ini yang aman untukmu, karena mereka tak akan bisa menerawang mu di dalam sini." Ucap pak Kirun seraya menuangkan secangkir teh hangat.
Teh hangat itu bukan sembarang teh, karena setelah meminumnya Sintia akan merasa lebih baik secara fisik. Karena fisiknya sudah terlalu lemah untuk menghadapi berbagai hal yang kemungkinan akan terjadi ke depannya.
Angin kencang memporak-porandakan kayu bakar yang ada diluar gubuk. Sosok dari alam kegelapan beterbangan diluar sana. Pak Kirun menerawang melalui batinnya, melihat para utusan gaib yang dikirim pak Kirun untuk memantau keadaan.
"Sepertinya mereka tak tau jika Sintia berada disini bersamaku. Mereka hanya mengutus para sosok dari alam kegelapan untuk mencari Sintia. Karena tadi Siti sudah memberikan pesan, jika ia akan membuat kesalah pahaman di Panti. Yang akan membuat para penghuni Panti saling curiga. Jadi inilah yang Siti rencanakan." Batin pak Kirun di dalam hatinya.
Pak Kirun memperkuat pagar gaib yang melingkupi gubuknya. Ia berada di kamar khususnya dengan membaca mantra-mantra. Sintia yang berada di ruang tamu mengernyit heran. Ia baru tau jika pak Kirun juga mendalami ilmu seperti mbah Gito. Sintia mendengar pak Kirun merapalkan mantra-mantra jawa, membuatnya merinding berada disana seorang diri. Ia bangkit berdiri, mengintip keluar gubuk melalui celah-celah lubang kayu. Ia melihat sekelebatan bayangan beterbangan, tak jelas wujudnya seperti apa yang ia tau hanya warna gelap hitam dan pekat.
"Jangan menampakkan diri di depan mereka Sintia! Mereka adalah para sosok yang ditugaskan untuk mencarimu. Sepertinya kita harus menunda perjalanan sampai adzan subuh berkumandang. Para makhluk itu akan kembali ke tempat asalnya." Jelas pak Kirun dibalas anggukan kepala Sintia.
Waktu berlalu dengan cepat, samar-samar terdengar suara adzan. Pak Kirun berjalan ke belakang gubuk dan mengambil air wudhu di gentong air. Ia bertanya pada Sintia, apakah ia menganut ajaran yang sama dengannya. Sintia mengangguk perlahan dengan ragu. Karena hampir selama hidupnya, ia jarang melakukan ibadah. Meskipun ia masih mengingat bacaan ayat-ayat suci. Sintia ragu untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. Terlebih selama ia berada di Panti, ia seperti melupakan keyakinannya sendiri.
"Mari nduk kita shalat bersama dulu. InsyaAllah segala rintangan akan menyingkir dengan sendirinya." Ajak pak Kirun seraya memakai pecis di kepalanya.
"Sintia gak bawa mukena pak..."
Keduanya menjalankan shalat subuh bersama, dan memanjatkan doa setelahnya. Dengan harapan jika segala urusan dapat selesai dengan mudah.
Setelah melakukan ibadah, keduanya keluar dari pondok di awali dengan bacaan basmallah. Pak Kirun berjalan di depan Sintia seraya membawa obor di tangannya.
"Delman pak Kirun diletakkan dimana pak?"
"Kuda itu ada di kandang tak jauh dari gubuk ku. Kita harus berjalan kurang lebih dua ratus meter ke timur."
Mereka menyusuri jalan setapak di pinggiran hutan. Sampai terlihak kandang bambu di depannya. Terdengar suara ringkikan kuda, seakan memberikan petunjuk pada pemiliknya. Seketika pak Kirun menghentikan langkahnya, dan menghadang langkah Sintia. Pak Kirun menggelengkan kepala, seolah memberikan pertanda jika ada bahaya di depan mereka.
Whuuussd...
Angin dingin menerpa wajah bagian kirinya. Sintia menelan ludah kasar seraya bergidik. Ia melihat ke segala arah, berusaha mencari tau apa yang baru saja melewatinya. Tiba-tiba Pak Kirun berkata, jika setelah ini Sintia harus pergi seorang diri karena pak Kirun harus menghadapi seseorang. Dan benar saja. Tak jauh dari mereka berdiri, nampak mbah Gito berdiri mengambang dengan berkacak pinggang. Ia mengaitkan kedua alis mata, menatap Sintia dengan aura membunuh.
"Kau harus segera pergi dari sini, sebelum Mariyati datang dan menangkapmu! Aku tak bisa menghadapi keduanya dalam waktu bersamaan. Karena bulan purnama masih tersisa sebentar lagi, maka kau masih memiliki waktu untuk melarikan diri dari mereka. Biar aku yang akan menghadapi Gito, selagi Mariyati belum berubah wujud. Bawalah kantong hitam yang berisi uang dan beberapa jimat yang suatu saat dapat membantu mu." Pungkas pak Kirun seraya mendorong tubuh Sintia, supaya ia segera berlari kencang.
Pak Kirun mendongakkan kepala ke atas, melihat bulan purnama yang sebentar lagi akan menghilang. Dengan berakhirnya bulan purnama itu, maka wujud cantik dan kesaktian Mariyati akan segera kembali. Pak Kirun tak mau mengambil resiko dengan membahayakan nyawa Sintia. Jadi ia terpaksa membiarkan gadis muda itu untuk mencari jalan seorang diri. Karena begitu Mariyati mendapatkan kesaktiannya kembali, ia pasti akan langsung mendapatkan pesan dari mbah Gito untuk segera datang ke hutan tempat tinggal pak Kirun berada. Dengan begitu, akan memudahkan keduanya untuk mengalahkan pak Kirun dan mendapatkan Sintia kembali. Namun pak Kirun tak bisa dibodohi, dan ia memilih menghadapi kedua manusia sesat itu seorang diri, lalu membiarkan Sintia memilih jalan nya sendiri. Jika nasibnya baik, maka hari itu ia akan terbebas dari tempat terkutuk itu. Namun di tengah perjalanan, ia mengingat kedua temannya. Widia dan Riko yang berada di suatu bangunan, karena sebelumnya mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat persembunyian dan pertemuan mereka.
"Ah iya, apa gue harus ajak Widia dan Riko pergi bersama ya? Tapi kata pak Kirun waktu gue gak banyak, sebelum bu Mariyati datang. Tapi kalau gue nekat kabur sendirian, apa yang akan terjadi pada mereka?" Batin Sintia di dalam hatinya.
Ada pergolakan batin di dalam dirinya. Sintia bimbang, tak tega pergi seorang diri tanpa tau bagaimana kabar teman-temannya. Namun menurutnya, harus ada seseorang yang selamat dari tempat itu, supaya teman-temannya yang lain dapat selamat. Meskipun Sintia tak tau, apakah Widia dan Riko sudah meninggalkan desa itu atau tidak.