
"Gak tau juga sih Don, soalnya kan banyak orang dengan marga yang sama. Kayak sepupu gue yang orang batak juga gitu, nama marga nya sama kayak tetangga sebelah rumah gue. Tapi mereka gak ada hubungan keluarga kok, mungkin hanua kebetulan aja sama. Kalau emang Beni punya keluarga yang pernah tinggal di Panti ini, pasti dia bakal cerita ke kita dong!" Kata Riko seraya menenteng selembar kertas yang berisi data Bimo Tjen Liu.
Tanpa terduga, Mariyati sudah ada di belakang mereka. Ia mengambil kertas itu, lalu membacanya.
"Ternyata berkas Kakek Bimo tercampur disini. Lanjutkan tugas kalian, saya akan membawa berkas ini saja!" Ucap Mariyati sebelum pergi dari sana.
Mereka semua langsung menghembuskan nafas panjang. Lega karena Mariyati tak membicarakan apa yang mereka bahas tadi.
"Makanya jangan asal ngomong lu pada! Mentang-mentang nama belakang sama, malah di sangkut-sangkutin!" Cetus Widia.
"Tunggu deh Wid! Tapi bisa aja itu emang ada hubungannya loh. Karena bisa jadi semua yang ada disini bukan kebetulan. Contohnya kayak sekarang ini, kita diminta mencari data lansia yang dulu tinggal disini. Apa iya hanya untuk menyampaikan pesan terakhir aja? Kok gue jadi penasaran ya!" Sintia mengaitkan kedua alis mata seraya melihat data-data yang ada di atas meja.
Sesuai daftar list yang diminta Mariyati. Hanya ada sepuluh nama lansia yang ia minta carikan. Sementara penghuni Panti Jompo itu pasti lebih banyak dari daftar yang diminta Mariyati.
"Kenapa cuma sepuluh nama ya?" Gumam Sintia.
"Dih malah ngomong sendiri, udah jelas kan karena Bu Mariyati ingin menyampaikan pesan terakhir para lansia yang ada di daftar list itu!" Sahut Widia yang masih sibuk membaca lembaran kertas.
"Tapi agak aneh juga loh Wid, kenapa baru sekarang nyarinya. Emangnya dari dulu gak bisa disampaikan?" Celetuk Riko.
"Bisa jadi karena emang gak sempat. Udah lah gak usah mikirin hal yang gak penting, bentar lagi kita harus siapin makan malam."
"Oh iya Mbah Gito nginep disini kan, kita siapin makan malam buat dia juga gak?" Widia bangkit berdiri, lalu berjalan menuju dapur.
"Kayaknya gak usah Wid, Mbah Gito gak pernah makan kalau nginep disini. Ko, Don. Kalian lanjutin aja ya, gue sama Widia mau ke dapur!" Pungkas Sintia meninggalkan Riko dan Doni yang masih sibuk membaca lembaran berkas.
Widia sudah memanaskan beberapa sayur dan lauk pauk. Ketika ia seorang diri di dapur, ia mengira jika Sintia sedang memotong buah-buahan. Terdengar suara pisau yang di asah hingga memekakkan telinga.
"Sin berisik tau, telinga gue sampai pengang!"
Tak ada jawaban dari Sintia, justru terdengar suara perempuan yang bersenandung. Widia sangat yakin, jika itu bukanlah suara Sintia. Seketika kakinya lemas, ia kehilangan kemampuan untuk menopang tubuhnya sendiri.
"Anak cantik... Cepat tolooong aku!" Ucap sesosok hantu mengenakan kain jarik dan kebaya yang compang-camping.
Keringat dingin mengalir deras dari kening ke pipinya. Sekujur tubuh Widia terasa semakin lemas, karena sosok yang ada di depannya berjalan merayap melalui plafon atas.
Bruuugh!
"Lu kepleset ya Wid?" Tanya Sintia setelah Widia mulai mendapatkan kesadarannya.
Widia terlihat sangat shock, ia menoleh ke berbagai arah lalu mendekap Sintia dengan berderai air mata.
Riko dan Doni sudah bisa menebak dari ekspresi Widia barusan. Pasti dia baru melihat sesuatu yang membuatnya takut, karena itulah ia sampai pingsan di dapur. Sintia pun akhirnya peka dengan kode yang Riko berikan. Sehingga Sintia tak mengajukan pertanyaan lagi.
"Udah Wid, gak usah takut lagi. Hampir dari kita semia udah pernah lihat hantu yang lehernya tergorok itu kok. Jadi lu gak usah ketakutan seorang diri, karena kita semua udah sama-sama lihat. Tapi gak apa-apa kok, dia gak nyakitin kita. Cuma emang serem sih wujudnya!"
"Bukan itu Sin! Yang gue lihat tadi belum pernah gue lihat sebelumnya. Itu setan perempuan tua Sin, dia pakai kebaya compang-camping. Wajahnya gak bisa gue kenali, karena udah hancur dimakan belatung. Gue takut Sin, udah dua kali gue lihat hantu disini!" Widia menangis sesegukan dipelukan Sintia.
Tak berselang lama Mariyati datang bersama Mbah Gito. Malam ini ia akan makan bersama sebelum melakukan ritual tengah malam. Dan sepertinya Mbah Gito mengetahui apa yang baru saja dilihat Widia.
"Biar saya yang akan membantu Widia supaya tidak shock lagi. Kalian jemput saja para orang tua untuk makan malam bersama!" Pungkas Mbah Gito membacakan mantra-mantra di segelas air putih.
Setelah kepergian para mahasiswa, Mbah Gito memberikan sihir supaya Widia melupakan sosok yang baru saja ia lihat. Mbah Gito juga memperingatkan Mariyati, untuk menegur para lansia supaya tak sembarangan menampakkan wujudnya pada para cicitnya.
"Entah apa tujuan para orang tua itu, apa mereka sengaja ingin membuat semua anak-anak ini kabur karena ketakutan?" Kata Mbah Gito dengan mengepalkan tangannya.
"Mungkin ada tujuan lain, kenapa mereka melakukan itu. Seperti apa yang Siti dan Ridho lakukan. Aku tau diam-diam keduanya ingin menjaga dan menyelamatkan cicitnya." Ucap Mariyati, tak melanjutkan perkataannya, karena para lansia dan anak-anak muda itu datang.
"Dimana Nek Windu?" Mariyati melihat ke sekelilingnya, dan ia tak melihat Nek Windu.
"Kami sudah mengetuk pintu kamar Nek Windu, tapi gak ada jawaban dari dalam. Sementara Nek Dijah, katanya tidak enak badan. Dina sedang bersamanya di kamar. Jadi mereka gak ikut makan bersama." Jelas Sintia seraya menggandeng tangan Nek Siti.
"Widia, kau duduk saja bersama yang lain. Biar saya yang menjemput Nek Windu!" Kata Mariyati.
Mariyati mendatangi Nek Windu, ia berada di balik selimut tak menjawab pertanyaan Mariyati. Sampai akhirnya Mariyati mengatakan sesuatu yang membuat Nek Windu bangkit dari tempat tidurnya.
"Kau pikir dengan bersembunyi seperti ini, aku tak akan tau apa yang kau perbuat? Kenapa kalian semua berusaha mengacaukan rencana yang sudah hampir selesai ini hah!" Bentak Mariyati membuat Nek Windu menundukkan kepala.
"Jawab aku Windu!" Suara Mariyati terdengar lebih keras lagi.
"Seluruh tubuh ku semakin hari bertambah sakit Mar. Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi, kenapa kau harus meminta ku menunggu sampai hari kelahiran ku tiba? Aku kesakitan serasa akan tiada untuk kedua kalinya!" Jelas Nek Windu berlinang air mata.
Nampak Mariyati langsung luluh mendengar ucapan Nek Windu. Bagaimanapun Mariyati sangat menyayangi para lansia itu, dan ia juga paham bagaimana menderita nya mereka semua. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Mariyati menjelaskan pada Nek Windu. Jika ia harus menunggu lebih lama lagi hanya untuk kebaikannya sendiri. Karena kalau ritual penumbalan jiwa dilakukan sebelum hari kelahiran para lansia, manfaat yang didapat untuk mereka tak akan sempurna. Meski sebenarnya dibalik semua itu, Mariyati juga memiliki tujuan lain dan tak ada siapapun yang tau. Kecuali satu orang terdekatnya, yang mengetahui semua rahasia yang disembunyikan oleh Mariyati.