TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 80 HILANG?


Setelah mendengar suara ringkikan kuda, Rania dan Dahayu memandang ke segala arah. Tak jauh dari arah mereka, kurang lebih jarak dua ratus lima puluh meteran, nampak lelaki paruh baya yang berdiri di depan seekor kuda yang menarik delman. Keduanya mengaitkan kedua alis mata penasaran, ingin melihat dengan lebih dekat. Namun karena terhalang oleh orang-orang yang berkerumun, mereka kesulitan melihat ke arah depan. Beberapa warga sekitar dan para penumpang lelaki sedang berusaha mengangkat batang pohon. Kedua gadis itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang, tak bisa mengetahui ada apa yang sebenarnya di depan sana.


Sementara di depan sana, terjadi perselisihan antara pak Kirun dan mbah Gito. Keduanya saling berhadapan untuk memperebutkan Riko yang sudah setengah sadar. Saat pak Kirun menemukannya tadi, Riko sudah berada di bawah jurang yang tak jauh dari belakang Panti. Karena kebetulan pak Kirun berjalan kaki melewati jalanan setapak itu untuk lebih cepat sampai ke rumahnya. Sehingga ia bisa menemukan Riko yang sudah terluka karena, kaki sebelah kirinya tak bisa digerakkan. Lalu pak Kirun menolongnya sampai ke atas, dan ia memanggil kuda kesayangannya untuk menjemput mereka. Namun keberadaan mereka sudah terpantau kedua jiwa tanpa raga yang diutus mbah Gito. Sehingga mereka dapat ditemukan dengan mudah. Disaat mbah Gito sibuk melawan pak Kirun, nampak Mariyati berusaha menurunkan Riko dari atas delman. Sang kuda jelmaan mengetahui tindakan wanita sesat itu, sehingga ia berubah wujud menjadi manusia. Terlihat Mariyati terkesima dengan ketampanan paripurna sang kuda jelmaan. Ia sempat tercengang untuk beberapa saat, namun ia berusaha mengembalikan fokusnya. Terjadi perlawanan di alam gaib di antara mereka berempat. Secara kasat mata, mereka hanya berdiri diam dengan saling menatap satu sama lain. Namun pada kenyataannya, terjadi perkelahian hebat di alam antah berantah. Kini tak ada yang menjaga Riko, yang sedang setengah sadar merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dari kejauhan, nampak seorang gadis berjalan mengendap ke arah delman. Ia bersembunyi di balik pohon untuk mengamati pergerakan ke empat orang yang ada di dekat delman. Ia ingin memastikan apa yang sedang terjadi disana, karena ia mengetahui ada yang sedang mereka perebutkan. Begitu ia tau, jika ke empat orang itu dalam keadaan yang tak sadarkan secara fisik. Ia memberanikan diri berjalan mengendap ke belakang delman. Ia mengintip dari jarak yang lebih dekat. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan perasaan campur aduk, ia mengumpulkan keberanian untuk menolong seseorang yang ada di atas delman. Kondisinya yang terlihat memperihatinkan membuatnya tak tega. Sehingga ia terpaksa ikut campur dalam urusan yang tak seharusnya ia campuri. Karena ia merasa tak terancam, ia dengan leluasa menurunkan lelaki itu dari atas delman. Ia memapah lelaki tersebut dengan susah payah. Tubuhnya hampir tak kuat menahan beban berat pemuda yang ditolongnya. Namun ia terus berusaha memapah sampai keduanya terjungkal ke tanah. Dan ia pun sempat terguling ke semak-semak.


Bruugh.


Keduanya terperosok ke dalam semak dan tak sadarkan diri selama beberapa saat. Mbah Gito dan Mariyati tak tau sama sekali, jika ada seseorang yang membawa Riko pergi. Padahal mereka sedang bersusah payah melawan musuhnya. Sampai akhirnya di dunia nyata beberapa warga menyentuh tubuh mereka, karena mereka berdiri tepat di tengah jalan. Jiwa mereka kembali ke dalam raga masing-masing, sementara sang kuda masih menjelma menjadi manusia. Ia tak mungkin merubah wujudnya secara tiba-tiba.


"Maaf, kalau saya mengganggu. Apa ada yang bisa dibantu, kenapa kalian berdiri di tengah jalan seperti ini?" Tanya seorang warga yang penasaran.


"Tidak ada. Maaf kalau kami menghalangi jalan. Apakah pohon nya sudah berhasil dipindahkan? Karena saya membawa orang sakit yang harus segera dibawa ke mantri desa." Jawab pak Kirun seraya menyeka peluh yang membasahi keningnya.


"Siapa yang ingin kau bawa ke mantri desa? Setahuku tak ada siapapun di atas delman mu!" Celetuk Mariyati dengan mengaitkan kedua alis mata.


Nampak pak Kirun dan mbah Gito terperanjat. Mereka sama-sama terkejut, lalu berjalan cepat ke belakang delman. Keduanya kebingungan melihat Riko sudah tak ada disana. Sontak saja keduanya langsung melihat ke arah Mariyati, dengan sorot mata tajam.


"Hmm maaf sepertinya pemuda tadi sudah turun dari delman tanpa sepengetahuan saya." Ucap pak Kirun seraya memindahkan delman beserta kudanya ke tepi jalan.


Mereka saling menatap dengan curiga, tak ada yang tau kemana Riko pergi. Sampai akhirnya ketiganya menggunakan penglihatan batin untuk mengetahui siapa yang sudah membawa Riko pergi dari sana. Karena Riko dalam keadaan terluka, dan tak bisa menggerakkan sebelah kakinya. Sangat tak mungkin jika ia pergi seorang diri tanpa bantuan orang lain.