
"Memang ada berita apa sih bu?" Tanya Widia dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Itu loh dek, si anak kota yang hilang itu katanya wajahnya mirip sama foto ini. Orang tuanya emang udah kembali ke kota, tapi pihak polisi masih terus melakukan penelusuran. Ada beberapa barang yang diduga milik pemuda ini. Emangnya adek ini siapanya laki-laki ini?" Jawab si ibu dengan pertanyaan.
"Ini maksudnya gimana sih Wid?" Kata Riko setengah berbisik di telinga Widia.
Plaaak
Widia menepuk pundak Riko, ia agak kesal karena Riko masih tidak paham dengan arah pembicaraan si ibu pemilik kios.
"Gimana gue mau ngerti Wid, si ibu aja kata-katanya penuh dengan teka-teki. Tadi dia bilang lu kesini sama perempuan rambut hitam panjang sepungggung. Padahal di Panti cuma ada lu sama Dina, nah rambutnya Dina aja agak pirang dan cuma sebahu aja. Terus yang dimaksud si ibu, lu sama siapa coba?"
Si ibu seketika menyahut, ia mengatakan jika gadis yang dimaksudnya bernama Sintia. Karena waktu itu ia pernah memperkenalkan namanya. Sontak saja Riko dan Widia tercekat. Mereka hanya diam dengan saling menatap.
"Ibu yakin, kalau gadis yang bersama saya namanya Sintia? Apa ibu gak salah ingat, soalnya teman saya itu gak ikut datang ke daerah ini!" Jelas Widia.
"Ibu yakin kok dek, ini ibu tulis namanya dibalik pas foto. Kalau gak gitu gimana saya ingat dan dapat foto ini. Gak mungkin saya salah ingat, kalau saya dikasih lihat fotonya juga saya masih ingat kok!" Seru si ibu dengan yakin.
Mendengar penjelasan pemilik kios itu, Riko langsung mengeluarkan dompet dari saku celananya. Ia selalu menyimpan foto gadis yang dicintainya di sela-sela dompetnya. Nampak selembar foto Sintia yang berukuran 4x7 di dalamnya. Widia langsung melongok dan menarik dompet itu. Ia menunjukkan foto Sintia pada si ibu pemilik kios. Dan benar saja, perempuan paruh baya itu langsung mengenali Sintia. Ia membenarkan, jika Sintia lah gadis yang bersama Widia waktu itu.
"Sebenarnya kalian itu ngapain di desa terpencil ini dek? Kok saya jadi bingung dengan tingkah kalian. Kayak orang linglung aja to. Katanya kalian disini karena urusan perkuliahan. Memang kalian tinggal dimana?"
"Kami tinggal di Panti Jompo Muara Hati. Untuk mendapatkan nilai bagus, kami harus menyelesaikan pkl disana." Kata Riko.
"Oh iya iya... Waktu itu gadis di foto ini sudah mengatakan pada saya. Tapi saya kan bukan asli sini jadi gak tau dimana Panti itu. Karena setau saya cuma ada satu Panti Jompo, tapi sudah lama tutup setelah sempat kebakaran. Memang sih pernah buka kembali, tapi gak bertahan lama."
"Lah itu dia bu Panti yang kita tempati." Celetuk Widia.
Disaat si ibu sibuk menyiapkan bahan sembako yang mereka beli. Riko mengatakan sesuatu diluar dugaan. Bahkan Widia sampai terheran-heran mendengar perkataan temannya itu. Riko berkata, jika ada kemungkinan teman-temannya memang pernah ada di Panti Jompo Muara Hati. Namun ada sesuatu yang membuatnya tak mengingat apapun.
"Kalau sampai beberapa minggu saya ataupun teman saya gak kelihatan belanja kesini, tolong ibu laporkan berita kehilangan ke kantor polisi. Karena setelah mendengar penjelasan ibu, saha jadi mencurigai sesuatu. Jangan-jangan memang terjadi sesuatu di Panti itu. Sehingga saya dan teman saya gak ingat apapaun mengenai Sintia." Pungkas Riko dengan nafas berderu kencang.
"Eh Ko jangan sembarangan kalau ngomong, ntar kalau ketahuan bu Mariyati bisa gawat tau gak! Mending kita langsung belanja ke tempat lain aja!" Widia cemas sampai keningnya berpeluh.
"Gue jadi curiga Wid, jangan-jangan terjadi sesuatu yang gak kita tau di Panti itu! Nyatanya Dina juga ngerasa kalau Beny dan Doni ikutan pkl sama kita. Sedangkan kita berdua malah gak ingat apa-apa."
Mendengar perdebatan kedua anak muda yang ada di depannya, ibu itu jadi memiliki kecurigaan yang sama. Ia menuliskan alamat rumah beserta nomor ponselnya, yang diberikan pada Widia.
"Ini untuk berjaga-jaga dek, kalau ada apa-apa kalian bisa datang ke rumah saya. Alamatnya gak jauh kok dari Panti itu, tapi memang saya jarang di rumah lebih sering di pasar. Jangan sungkan untuk datang ya, kalau kalian butuh bantuan saya." Ucap ibu itu seraya menepuk pundak Widia.
Riko dan Widia pergi meninggalkan kios sembako. Keduanya menuju kios penjual bunga. Nampak raut wajah si penjual agak tegang ketika bertemu dengan Widia. Seketika Widia merasa heran, karena penjual bunga itu seakan menghindari tatapan matanya. Penjual bunga langsung membungkus bunga tujuh rupa tanpa melihat wajah Widia sama sekali.
"Tolong jangan beli kesini lagi ya dek, di belakang sana masih ada penjual bunga yang lain. Kau bisa beli kesana saja mulai besok, karena saya gak mau berurusan dengan orang-orang yang tinggal di Panti Jompo itu lagi!" Ucap si penjual bunga dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Loh kenapa ibu ngomong gitu ke kami? Memangnya apa yang salah dengan Panti Jompo Muara Hati? Lalu darimana ibu tau kami tinggal disana?" Tanya Widia dengan berkacak pinggang.
"Maaf... Saya gak mau ikut campur. Tapi saya hanya gak bisa berurusan dengan kalian lagi. Silahkan bawa bunga ini, gak usah bayar juga gak apa-apa!" Jawab nya menundukkan kepala seraya berjalan pergi dari kios nya.
Nampak Riko dan Widia semakin bertanya-tanya. Mereka merasa ada sesuatu dengan Panti Jompo yang mereka tempati. Beberapa orang seakan ketakutan hanya dengan menyebut nama Panti itu. Akhirnya keduanya terpaksa meninggalkan kios tersebut setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar bunga tujuh rupa yang dipesan oleh Mariyati.
Widia bergidik ketakutan, ia jadi berpikiran negatif setelah berjumpa dengan kedua pedagang di pasar itu. Ia mengajak Riko untuk kabur menggunakan sepeda motor yang mereka bawa. Namun Riko hanya diam, ia tak tau harus percaya dengan siapa. Karena ia tak memiliki bukti apapun mengenai Panti Jompo Muara Hati.