TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 103 PERKUMPULAN KELUARGA BESAR.


Pagi itu, Rania berpamitan pada Sintia dan Riko. Mereka masih harus berada disana untuk menunggu kedatangan keluarga Widia. Karena sejak kemarin kondisi Widia masih kritis di ruang ICU.


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi gue. Ponsel kalian udah dibawa petugas, nanti tinggal kalian minta saja. Karena petugas bakal datang kesini buat minta keterangan dari kalian. Bentar lagi mobil travel nya datang, gue pamit dulu ya. Maaf gak bisa tuntas membantu kalian." Ucap Rania dengan menghembuskan nafas panjang.


"Gak apa-apa kok Mbak, kita udah cukup terbantu. Mengenai kondisi Widia yang seperti itu emang udah takdir. Sementara Dina yang hilang, kayaknya emang karma buat dia sendiri!" Kata Sintia tertunduk.


Sintia dan Riko mengantarkan Rania sampai ke depan lobby. Keduanya melambaikan tangan perpisahan, setelah mobil yang ditumpangi Rania perlahan berjalan pergi. Rania hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Merasa jika tugasnya dalam membantu para mahasiswa itu belum tuntas sepenuhnya. Meski jiwa para lansia itu sudah kembali ke alam keabadian, tapi Mariyati pasti menaruh dendam pada ketiga mahasiswa itu. Karena mereka telah menggagalkan rencana besarnya.


"Lebih baik aku meminta bantuan Mbak Ajeng aja. Mungkin dia bisa membantu ku. Karena aku gak mungkin menghadapi semuanya sendirian." Batin Rania di dalam hatinya.


*


*


Dina sampai di sebuah rumah kuno dengan model bangunan khas Belanda. Seorang wanita berkebaya merah dengan kain jarik parang menuntun nya masuk ke dalam bangunan rumah yang paling besar. Rumah besar itu terlihat ramai dipenuhi orang-orang yang langsung menyapanya dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Sepasang suami istri membungkukkan badan di hadapannya.


"Semua sudah kami siapkan sesuai perintah mu. Dan simbok juga sudah kami sembunyikan di rumah kosong. Karena beliau datang dalam keadaan terluka setelah pertikaian nya dengan kuntilanak itu." Ucap Wanita paruh baya yang bernama Melati.


Dina mengembangkan senyumnya, lalu berjalan ke depan kerumunan orang. Ia menjelaskan jika ia masih ingin menggunakan raga tua itu.


"Kalian semua tau, jika raga baru ini adalah milik gadis muda yang saat ini bersemayam di dalam ragaku. Jika sewaktu-waktu keadaan merugikan ku dalam raga ini, aku bisa kembali ke dalam ragaku yang sesungguhnya. Dan kembali mendapatkan persembahan dari organ tubuh para manusia yang ditumbalkan." Jelas Dina, yang ternyata sudah bertukar jiwa dengan Mariyati.


Mariyati yang berada dalam tubuh tua itu sebenarnya adalah Dina. Dan yang ada di dalam tubuh muda Dina adalah Mariyati. Keduanya bertukar raga sebelum Mariyati berhasil memandang wujud aslinya dalam cermin. Meskipun kini Mariyati menempati tubuh Dina, di dalam cermin wujud aslinya akan tetap terlihat. Karena itulah ia meminta Melati dan Harto sebagai pemilik rumah, untuk tak meletakkan sembarang cermin. Hanya ada beberapa kaca jendela yang harus selalu tertutup tirai besar. Kelompok sesat itu akan mengadakan dua ritual sekaligus. Setelah memberikan dua tumbal untuk anak semata wayang pemilik rumah besar tersebut. Melati Hadiningrat adalah satu-satunya keturunan Nek Dijah yang mengikuti jejaknya dalam menganut ajaran ilmu hitam. Sebelumnya Melati sudah pernah menikah dengan lelaki lain, dan memiliki dua anak kembar lelaki dan wanita. Namun salah satunya sudah menjadi tumbal untuk kemakmuran ibunya. Dan anak yang lainnya masih hidup dalam penyamaran. Kini ia menikah lagi dengan Harto, seorang lelaki yang melakukan pesugihan demi bisnis keluarga nya dapat terus berjalan. Keduanya memiliki seorang anak lelaki dengan kelainan pada dirinya. Setengah dari jiwanya bukanlah manusia. Restu Bahuwirya namanya, seorang anak lelaki yang seharusnya berusia dua puluh tiga tahun. Namun karena perjanjian gaib yang dilakukan kedua orang tua nya dengan sosok yang mereka puja. Restu tak bisa tumbuh normal seperti anak lainnya. Setiap enam bulan sekali, ia harus mendapatkan persembahan jiwa supaya raganya dapat tumbuh normal seperti manusia lainnya. Malam ini adalah waktunya ia kembali ke wujud dewasanya. Setelah satu bulan terakhir ia terperangkap dalam tubuh kerdil yang menyeramkan. Bagaimana tidak, ketika ia berwujud kerdil, tubuhnya dipenuhi bulu lebat dan gigi taring yang mencuat keluar. Mariyati yang berada di dalam tubuh Dina, menyempurnakan ritual pembebasan ubah Restu. Hanya dalam sekali tarikan nafas, Mariyati menghembuskan nafas panjang ke seluruh bagian tubuh kerdil Restu. Dan secara ajaib, tubuh kerdilnya berubah menjadi lelaki dewasa.


Nampak tubuh tinggi gagah dengan kulit putih bersih. Restu menjelma menjadi sosok yang rupawan. Ia hanya mengenakan selembar kain jarik yang dibalutkan di pinggangnya. Semua mata tertuju pada sosok rupawan itu. Mariyati menyebut kelompok itu sebagai keluarga besar Hadiningrat. Semua yang ada disana adalah semua keturunan Nek Dijah yang terpilih, karena mereka tak ditumbalkan untuk menebus kehidupan abadinya.


"Simbok harus bersabar, karena sebentar lagi akan ada tumbal pengganti. Gadis bodoh yang telah menghianatimu telah terjebak di dalam tubuh renta itu." Ucap Melati pada Nek Dijah dalam wujud lansia.


Nek Dijah berdecih, ia melihat Dina yang terperangkap dalam tubuh renta Mariyati. Bahkan kini Dina terlihat lebih tua dari Nek Dijah yang merupakan Nenek Buyutnya. Kedua bola mata Nel Dijah dipenuhi kemenangan. Meskipun ia tak mendapatkan persembahan dari keturunannya sendiri. Ia akan tetap mendapatkan persembahan pengganti. Meski nilainya tak akan sama jika tumbalnya adalah keturunannya sendiri.


"Aku sudah memperingatkan gadis bodoh itu. Tapi dia terlalu serakah, dan percaya dengan tipu muslihat Mariyati. Sehingga kini ia terjebak dalam tubuh renta, yang tak bisa apa-apa. Bahkan untuk berdiri dan menopang tubuhnya saja tak bisa. Dina... Dina... Kau menghianati Nenek Buyut mu hanya untuk lebih menderita!" Pungkas Nek Dijah seraya menggelengkan kepalanya.


Nampak wanita tua duduk di atas kursi roda dengan raut wajah sendu. Matanya berkaca-kaca, seakan ia menyesali pilihannya. Namun tak ada gunanya, karena nasi sudah menjadi bubur. Dan ia terjebak di dalam raga Nenek tua yang tak bisa apa-apa.