TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 88 RENCANA PENYELAMATAN.


"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Rania dengan raut wajah gelisah.


"Ada satu cara yang harus kita lakukan, tapi saat ini entah bisa kita lakukan atau tidak. Mengingat kondisinya sekarang ini, aku tak tau apakah kita bisa meminta bantuannya!" Jawabnya seraya memberikan penglihatan mengenai seseorang yang bisa memasuki Panti Jompo dengan bebas.


Begitu melihat penglihatan itu, Rania mengernyitkan dahi. Karena jika dilihat dari kondisinya, mereka akan kesulitan meminta bantuan orang tersebut. Dan apakah orang tersebut mau menjalankan misi yang mereka rencanakan.


"Pergilah kesana, dan jelaskan apa tujuanmu. Hanya kau saja yang bisa masuk ke tempat itu dan menemui nya. Mungkin akan sedikit kesulitan baginya mengingat, tapi kau harus berusaha." Ucapnya sebelum menghilang bersama hembusan angin.


Jiwa Rania kembali ke dalam raganya. Ia tersadar dengan posisi duduk menyilangkan kedua kakinya. Ia meraih ponsel memasukan sebuah alamat di dalam goggle maps. Muncul sebuah petunjuk jalan, yang jaraknya lumayan jauh dari lokasinya. Saat itu sibuk mengurutkan jalanan untuk bisa sampai ke tempat tersebut, tiba-tiba google maps menunjukkan sebuah tempat bertuliskan Panti Jompo Muara Hati.


"Hah, sejak kapan disini ada Panti Jompo? Perasaan sebelumnya aku pernah lewat daerah ini, dan gak ada lihat ada tempat ini. Apa aku gak salah lihat ya?" Batin Rania dengan mengucek kedua matanya.


Rania bangkit berdiri berjalan ke arah kamar mbak Ayu. Ia melihatkan google maps yang ada di ponselnya.


"Mana ada Panti di daerah sana Ran! Kita kan pernah singgah disana semalaman, dan kita lihat sendiri gak ada Panti Jompo. Mungkin yang masukin alamatnyabke google salah! Emangnya kenapa sih lu tanya-tanya tentang ini?" Kata mbak Ayu menatap Rania penuh tanya.


"Gue dapat petunjuk gaib mbak, yang mengarah ke sebuah penglihatan. Ada seseorang yang bisa digunakan untuk masuk ke dalam Panti Jompo itu. Tapi sayangnya orang itu dalam keadaan yang gak baik-baik aja. Tugas kita buat bantu orang itu kembali ke keadaannya sebelumnya."


"Maksudnya Ran?"


Rania membisikkan sesuatu di telinga mbak Ayu, ia mengatakan semua yang dijelaskan seseorang yang ia temui di alam lain.


"Jadi harus datangin orang itu dulu kesana? Tapi kayaknya gue gak bisa nemenin deh. Udah terlalu sering cuti, gue gak enak sama guru yang lain!"


"Ya udah gak apa-apa mbak, biar gue sendiri aja yang kesana. Karena emang cuma gue yang bisa, soalnya tempat itu suci dan gak sembarangan orang bisa leluasa masuk. Beliau yang ngasih petunjuk udah naruh sesuatu disana, buat mengembalikan sesuatu yang telah hilang. Dan gue harus pastikan kalau orang itu mau balik ke Panti dan nyelametin orang-orang yang gak bersalah. Gue udah dikasih tau salah satu cara buat ngejatuhin mental dan batin seseorang yang paling berkuasa di Panti itu. Akan lebih baik jika pendukungnya tak ada di Panti saat kita menjalankan rencana. Mungkin gue juga harus ada di sekitar sana deh. Apa gue resign aja ya dari kantor?" Rania duduk dengan kedua tangan yang menahan dagunya.


"Oh jadi ini yang dikhawatirkan. Utusan itu masuk ke dalam perangkap. Seharusnya perangkap itu buat gue mbak, tapi yang datang lebih dulu justru orang itu. Dan gue dihentikan oleh seseorang yang gak pernah kita duga."


"Siapa yang hentiin lu di alam lain?" Tanya mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.


Rania menjelaskan semua yang ia tau, membuat mbak Ayu terkejut dan tak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kok bisa kebetulan gitu, jangan-jangan orang itu kenal sama orang-orang sesat yang ada di Panti Jompo lagi!"


"Gue gak tau mbak, dan gak bisa asal nuduh! Dia hanya ngasih tau sebuah cara yang bisa melemahkan pemimpin Panti Jompo. Katanya di Panti itu gak akan ada kaca atau cermin karena pemimpin Panti itu pantang untuk melihat wujud aslinya. Hanya di depan kaca saja, wujud aslinya bisa kelihatan. Dan kita harus buat orang itu berdiri di depan cermin supaya kekuatannya melemah. Dan kita bisa selamatin semua mahasiswa yang ada disana."


"Lu yakin Ran? Dia gak nipu lu?"


"Kayaknya gak deh mbak, beliau kenal sama eyang buyut gue. Katanya beliau murid eyang, dan gue percaya dengan omongannya. Dia udah jujur ke gue, mungkin sebelumnya beliau pernah salah jalan. Makanya ada energi negatif yang ngebuat dia gak bisa leluasa masuk ke tempat suci yang gue bilang tadi."


"Terus langkah lu selanjutnya apa?"


"Pagi ini juga gue harus ketemu sama orang itu. Orang yang leluasa masuk ke Panti, dan gue bakal pantau dari luar. Mungkin gue juga harus dapat bantuan dari polisi, buat jaga-jaga kalau ada tindakan kriminal!"


"Ya udah ajak Adit Ran, biar ada laki-laki disana!"


"Orang yang mau gue cari itu juga laki-laki mbak! Moga aja orangnya udah sembuh, dan bisa di ajak kerja sama."


Rania menghembuskan nafas panjang, ia mendongakkan kepala ke atas melihat ke atap rumah. Nampak sekelebatan bayangan putih melesat melewatinya, bayangan yang mengarah ke taman depan berubah bentuk menjadi seseorang yang tak asing di matanya.