TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 93 TERBONGKAR DENGAN SENDIRINYA.


"Kenapa nenek memberitahu tentang ini semua? Apa tujuan nek Dijah mengatakan semua padaku? Tunggu! Jangan katakan apa-apa dulu, aku jadi curiga dengan sesuatu!" Seru Dina dengan mengaitkan kedua alis mata.


Nek Dijah menyeringai, ia merasa Dina cukup cerdik. Dan memang pantas menjadi keturunannya. Namun ia membutuhkan Dina, supaya bisa menjalani hidup seperti manusia normal. Meski hanya sebatas di lingkup Panti Jompo saja.


Tiba-tiba Dina menebak hal yang tak pernah nek Dijah bayangkan. Ia curiga, jika kelak dirinya juga akan menjadi tumbal persembahan seperti teman-temannya yang lain.


"Apakah satu persatu dari teman-temanku ditumbalkan untuk para lansia yang ada disini? Bukankah artinya aku juga calon tumbal untuk kalian! Apa kau berusaha menghasut ku supaya aku tak mendengarkan kata bu Mariyati, dan kalian berharap aku menjadi santapan untuk kalian pada demit lansia! Karena jika aki memiliki kekuatan dan kesaktian yang sama sepertinya, maka kau dan para demit lansia itu tak akan bisa mendapatkan persembahan dariku! Benar begitu kan faktanya!" Ucap Dina dengan membulatkan kedua mata. Kali ini ia nampak berani, karena beranggapan jika ia benar-benar akan mewarisi semua kesaktian Mariyati.


Nek Dijah tersenyum kecut. "Dasar bodoh! Kau tak sadar hanya diperalat Gito dan Mariyati. Mungkin kau tak tau saja, meski aku tak mendapatkan persembahan jiwa darimu aku masih memiliki calon tumbal lainnya. Keturunan ku tak hanya dirimu saja Dina!" Bentak nek Dijah murka.


Deegh.


Sintia terkejut mendengar pembicaraan keduanya. Ia berdiri di balik tembok dengan reaksi tak percaya, mulutnya menganga dengan mata membulat.


"Apa ini? Apa maksudnya ini semua persembahan jiwa, keturunan? Sebenarnya tempat apa ini? Bukankah kami disini untuk PKL saja. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Oh iya Riko, bukankah Dina bilang Riko sebentar lagi kembali. Apa aku harus bertanya ke dia aja. Karena kalau aku menanyakan semua ini pada Dina, aku tau dia tak akan menjawabnya dengan jujur. Lantas dimana teman-temanku yang lainnya. Beny, Dony, dan Widia. Apakah mereka juga ada disini sebelumnya?" Batin Sintia dengan nafas yang berderu kencang.


Di balik tembok sana, keadaan semakin memanas antara Dina dengan nek Dijah. Keduanya sama-sama ber ego tinggi, namun ada sesuatu yang disadari Dina. Ketika nek Dijah mengatakan jika keturunannya tak hanya dirinya saja. Dina mengambil kesimpulan, jika nek Dijah adalah keluarga dekatnya. Lantas kenapa ia ingin menumbalkan dirinya sebelumnya. Pertanyaan berkecamuk di dalam hatinya, membuat Dina membuka mulut dan bertanya pada sosok renta yang ada di hadapan nya.


"Ciiih... Dasar demit tua bangka! Kau mau menipuku dengan mengatakan jika aku adalah keturunan mu. Kau pikir aku akan luluh jika mendengarnya! Aku sudah tak takut lagi padamu, meski kau merubah wujud menjadi demit sekalipun. Kelak aku yang akan menjadi pemimpin di tempat ini, dan aku tak membutuhkan demit tua bangka sepertimu!" Cetus Dina dengan berkacak pinggang.


"Hahaha... Licik kau bilang nek? Berkacalah lebih dulu! Buah tak akan jauh dari pohonnya! Jika dari akarnya saja sudah busuk, maka buahnya juga akan sama nek! Itu artinya, kau sama saja dengan mengatai dirimu sendiri!"


Perdebatan sengit antara nenek buyut dengan cicitnya itu disaksikan oleh para lansia lainnya. Dan tak ada yang tau, jika sebenarnya Sintia juga melihat semuanya. Sampai akhirnya Sintia berjalan mengendap, ia meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya. Hanya nek Siti saja yang mengetahuinya, namun ia memilih diam dan tetap menjaga jarak dari Sintia. Ia tak ingin jika nyawa Sintia kembali terancam dalam waktu yang lebih cepat. Nek Siti masih mengulur waktu untuk mencari cara supaya dapat membebaskan Sintia dari perjanjian gaib nya.


"Sedang apa kalian berkumpul disini?" Bentak Mariyati dengan nada tinggi.


Mereka semua diam tak mengatakan apapun. Hanya terlihat ketegangan di antara Dina dengan nek Dijah. Mariyati mendekati keduanya, ia meminta penjelasan. Nek Dijah marah lalu pergi dari sana. Kini hanya ada Dina di hadapan Mariyati, dan ia terpaksa memberikan jawaban untuk pengelola Panti itu. Sebuah jawaban sekaligus pertanyaan dilontarkan oleh Dina. Membuat Mariyati meradang karena nek Dijah membongkar semuanya pada Dina. Ia mengepalkan kedua tangan dengan mata melotot.


"Kembali ke kamarmu sekarang juga Dina! Sekarang sudah mendekati waktunya magrib, biar saya yang berbicara dengan nek Dijah. Sepertinya ada hal yang harus diluruskan terlebih dulu!" Tegas Mariyati, namun Dina sempat membangkang. Tapi Mariyati memiliki aura yang kuat, sehingga Dina langsung bungkam dan menuruti ucapan wanita tersebut.


Sesampainya di kamar, Dina membanting pintu dengan kencang. Membuat Sintia terkejut dengan jantung yang berdetak tak karuan. Ia menatap wajah Dina dengan seksama.


"Apakah dia benar-benar Dina? Dina yang aku kenal memang memiliki watak keras. Tapi sejak kapan dia memiliki pengetahuan mengenai hal gaib. Dan apakah yang ia bicarakan dengan nek Dijah itu benar. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batin Sintia di dalam hatinya ketakutan.


Dari kejauhan sosok kuntilanak nek Siti mengawasinya. Ia tau jika saat ini cicitnya pasti sedang dilema dan sangat ketakutan. Namun ia tak memiliki cara apapun untuk membuat Sintia pergi dari sana. Karena jiwa Sintia sudah menyatu dengan jiwanya. Selagi nek Siti masih ada di alam fana itu, maka jiwa Sintia masih akan terus terancam. Dan nek Siti memikirkan sebuah cara. Namun apakah jika ia melakukan pengorbanan, hidup Sintia akan tetap aman. Karena melakukan pengorbanan belum tentu bisa menyelamatkan nyawa Sintia. Sehingga nek Siti kembali bimbang, dan mencari cara lain supaya nyawa Sintia dapat selamat. Dan ia bisa meninggalkan tempat terkutuk itu untuk selamanya.