
Rania merasakan energi lain di dekat Dina. Ia berdiri tepat di samping Dina, dan menatapnya tanpa berkedip. Dina memicingkan kedua mata dan membentak Rania.
"Kau siapa hah? Ngapain lihat saya sampai kayak gitu? Kau pikir sudah menang ya, karena dapat menyelamatkan mereka! Dasar gadis bodoh!" Seru Dina dengan membulatkan kedua mata.
"Eh Din, lu jaga ucapan ya! Jangan kurang ajar deh kalau ngomong! Mbak Rania ini udah susah payah bantu kita tau gak!" Bentak Sintia kesal.
"Kau berani sekali ya Sintia! Kau sudah terlalu lancang, dan berani padaku." Dina nampak mengepalkan kedua tangan dengan nafas yang berderu kencang.
Riko menengahi perdebatan itu, lalu mengajak Sintia dan Rania keluar. Nampak Dina berdecih dengan sorot mata penuh amarah.
"Mbak, maaf ya temen gue emang agak lain wataknya. Dia selalu bertentangan sama gue, makanya dia ikutan kesal sama lu."
"Gak apa-apa kok Sin. Gue cuma ngerasa ada yang ngeganjel aja. Tapi apa ya? Gue baru pertama kali ini ngerasain firasat aneh kayak gini. Tapi gue gak bisa lihat apapun dengan mata batin gue." Keluh Rania dengan menghembuskan nafas panjang.
"Memangnya tentang apa Mbak, yang bikin lu ngerasa gak tenang gini?" Sambung Riko dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Gimana ya, susah buat jelasinnya. Karena gue belum pernah merasakan hal semacam ini. Berdasarkan dari intuisi gue ya, sebenarnya gue ngerasa ada sebuah ancaman. Tapi gue gak tau darimana asalnya. Apalagi sewaktu kita di ruangan Dina tadi. Energi jahatnya sangat besar. Tapi pas gue terawang dengan mendekati Dina. Gue gak lihat apapun yang mempengaruhinya. Gak ada sihir atau mantra-mantra jahat yang mengendalikan dirinya. Bisa jadi energi jahat itu terpancar dari jiwa Dina sendiri!" Jelas Rania seraya mendongakkan kepala ke atas.
"Kalau itu sih gue gak heran Mbak. Emang udah dari wataknya si Dina itu jahat dan licik! Gue yakin kalau yang mukul kepalanya Widia itu ya si Dina. Karena sebelumnya gue lihat mereka berdua jalan bareng masuk ke ruangan ritual itu. Dan kita semua juga paham betul dengan sifatnya, yang ingin menang sendiri. Jadi ya kalau Mbak Rania bilang energi jahat terpancar dari jiwanya sendiri, gue sangat setuju. Ya kan Ko?" Sintia menaikan dagunya, meminta pendapat Riko. Dan dibalas anggukan kepala tanpa sepatah kata.
Riko menghembuskan nafas panjang. "Tapi lu gak ngerasa aneh dengan cara bicaranya Sin? Si Dina kan anak gaul, yang selalu ngomong lu gue, bahkan ke orang yang lebih tua sekalipun. Tapi tadi dia ngomongnya lebih formal gitu, pakai saya dan kau." Ujar Riko dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Kalian berdua tunggu di depan ruangan Widia aja. Biar gue yang awasin gerak-gerik Dina. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang gak kita ketahui." Rania bergegas melangkahkan kaki ke ruangan Dina.
Rania mengawasi Dina dari luar ruangan. Tak ada yang aneh dari setiap gerak-gerik nya. Tak berselang lama, datang segerombolan orang yang berjalan ke arahnya. Lalu seorang wanita berkebaya merah hati, dan menggunakan kain jarik parang berhenti tepat di depan nya.
"Apa Mbak tau dimana ruang kenanga? Kami mau menjenguk kerabat yang dirawat di Rumah Sakit ini." Tanya nya dengan wajah datar.
"Hmm bukannya ini belum masuk jam besuk ya Bu. Apakah ada yang bisa saya bantu. Kebetulan ini memang jalan menuju ke ruang kenanga." Jawab Rania agak heran, karena di tengah malam seperti ini, ada keluarga pasien yang diperbolehkan untuk membesuk.
"Kami tidak mau merepotkan. Permisi..." Ucapnya agak membungkukkan badan, lalu melangkah pergi.
Rania mengaitkan kedua alis mata, merasakan dua energi besar yang menyatu. Ia tak bisa membedakan energi negatif ataupun positif, karena keduanya menyatu dan tersamarkan keberadaan nya.
"Aneh! Kekuatan apa ini, aku baru pertama kali berhadapan dengan energi yang membingungkan seperti ini. Jangan-jangan ucapan Pak Abdul memang tak benar, jika anggota kelompok sesat ini lebih tertata rapi keberadaan nya. Sehingga mereka tersamarkan dengan masyarakat umum." Batin Rania di dalam hatinya dengan menghembuskan nafas panjang.
Waktu berlalu dengan cepat, sang mentari menyapa di pagi hari. Suara burung bercuitan terdengar menawan melodinya. Rania dan Sintia tertidur di lobby rumah sakit. Keduanya terbangun setelah seorang security mendatangi keduanya. Sementara Riko berjaga sendirian di depan ruang ICU. Ia sengaja berjaga disana untuk menunggu kedatangan keluarga Widia. Namun seorang perawat mengejutkannya. Dari kejauhan terlihat Rania dan Sintia juga berlari menghampiri nya. Seorang perawat menjelaskan pada ketiganya. Jika teman mereka menghilang dari ruang perawatan.
"Keluarga pasien baru datang untuk mengambil jenazah bayi Nyonya Dina. Tapi yang bersangkutan justru tak ada di ruangan nya. Apakah kalian tau dimana pasien itu?"
Mendengar pertanyaan perawat, membuat ketiganya saling menatap, lalu dengan kompak menggelengkan kepala. Akhirnya mereka memutuskan berpencar untuk mencari Dina. Karena dalam keadaan seperti itu, seharusnya Dina tak dapat berjalan jauh, apalagi bekas jahitan di perutnya masih belum kering. Riko dan Sintia memeriksa rekaman cctv yang ada di sekitar ruang perawatan Dina. Namun tak ada rekaman video yang tersimpan sejak dua hari terakhir. Mengetahui hal tersebut, Rania memutuskan untuk mencari tau melalui mata batinnya. Berharap ia dapat mengetahui dimana keberadaan Dina.