
Rania akhirnya mengambil keputusan untuk datang ke kantor polisi. Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, ia sudah mempersiapkan semua peralatan yang harus ia bawa untuk mewawancarai saksi dan terduga. Nampak mbak Ayu baru saja keluar dari kamarnya, lalu memberikan semangat pada Rania.
Mbak Ayu menepuk pundak Rania seraya menyunggingkan senyumnya. "Sorry ya kali ini gue gak bisa bantuin lu. Tapi kalau dalam waktu 5 hari lu gak balik, gue terpaksa nyusul lu kesana. Gue takut lu kenapa-napa disana!" Cetusnya dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Tenang aja mbak, jadinya gue pergi sama mas Adit. Lu bisa tenang bekerja disini, gue gak akan kenapa-napa. Ini bukan pertama kalinya gue nanganin kasus yang rumit, jadi lu bisa tenang gak usah hawatir lagi. Oke?"
Keduanya mengakhiri pembicaraan setelah ojek online yang dipesan Rania datang. Memang ia sedikit terlambat, karena jalanan ibukota yang cenderung macet setiap harinya. Bahkan Adit mengira jika Rania tak jadi datang ke kantor polisi, sampai-sampai ia menghubungi Rania beberapa kali.
Sudah hampir tengah hari Rania baru sampai di kantor polisi. Setelah memperkenalkan diri dan melakukan sesi tanya jawab dengan kedua saksi yang baru saja ia kenal. Rania juga melihat beberapa penampakan wanita, namun jiwa-jiwa tanpa raga itu enggan berkomunikasi dengannya. Padahal ia sudah berusaha membuka gerbang komunikasi, namun kedua jiwa itu tetap diam seribu bahasa. Seakan ada sesuatu yang membuat keduanya tak mau membuka mulutnya.
Rania menghembuskan nafas panjang, merasa usahanya sia-sia untuk mendapatkan informasi. Nampak seorang wanita yang baru saja ia wawancarai tersenyum ke arahnya, membuat Rania bertanya-tanya apa yang telah membuat wanita tersebut tersenyum.
"Apakah wanita ini bisa melihat makhluk tak kasat mata juga? Tapi aku gak bisa ngelihat apapun mengenai dirinya. Aah... Kenapa aku jadi berpikiran negatif padanya ya? Apalagi dengan hasil wawancara tadi, seakan ada sesuatu yang sepertinya ia tutupi. Tapi apa ya?" Batin Rania di dalam hatinya penuh tanya.
"Apakah kami sudah selesai diwawancarai? Karena kami harus segera pulang, masih ada urusan lain soalnya." Ucap seorang wanita yang bernama Melati.
"Hmm untuk wawancara saksi sudah selesai, saya akan meminta keterangan dari terduga. Mungkin lain kali saya bisa minta waktu ibu untuk wawancara lagi?" Tanya Rania seraya merapikan peralatan nya.
"Tentu saja, tapi bukan di tempat ini kan wawancara nya?" Jawab Melati dengan senyum ramahnya.
Rania hanya menganggukkan kepala seraya menjabat tangan ketiga orang yang ada di depannya. Wanita muda yang bernama Putri terlihat sangat akrab dengan Adit, membuat Rania penasaran dengan hubungan keduanya.
"Mbak Rania... Saya sudah mendengar banyak hal dari mas Adit. Apakah mbak Rania bisa membantu saya?" Ucap Putri seraya menggenggam tangan Rania.
Nampak Melati dan suaminya langsung menghentikan langkah. Mereka menoleh ke belakang, sebelum melanjutkan langkah keluar ruangan. Putri tak langsung mengutarakan isi hatinya, karena ia sadar jika Melati dan Harto sedang menatap ke arahnya. Setelah keduanya keluar, barulah Putri bernafas lega.
"Hmm gimana ya mbak... Mas Adit tolong bantu jelaskan ke mbak Rania dong!" Putri bingung harus memulai pembicaraan darimana.
Akhirnya Adit menjelaskan maksud dan tujuan Putri meminta pertolongan padanya. Nampak Rania terkejut dengan membulatkan kedua matanya.
"Jadi wanita yang berinisial A itu saudara mu? Kenapa kau tak bilang sejak awal sebelum aku mengajukan pertanyaan ke bu Melati?"
"Maaf ya mbak, tapi aku gak mau orang-orang tau kalau kami bersaudara. Karena aku memang mau mencari tau kebenaran tentang kematian mbak Ayu. Jadi tolong bantu aku berkomunikasi dengan arwah mbak Ayu, dan kalau memungkinkan jangan ungkap mengenai jati diriku yang sebenarnya." Pinta Putri dengan mata berkaca-kaca.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa kau tau semua tentang ku? Apa mas Adit memberitahu segalanya tentang ku? Apa kalian ada hubungan khusus?" Tanya Rania menatap keduanya.
Putri dan Adit saling menatap tak mengatakan apa-apa, hingga membuat Rania salah paham mengira mereka memiliki hubungan lebih.
"Gak kok mbak! Sebenarnya kami ini kerabat jauh, kami saudara sepupu! Dan baru tadi kama sama-sama tau. Makanya aku langsung curhat mengenai kematian mbak Ayu. Kami sekeluarga gak percaya kalau mbak Ayu memang bunuh diri seperti berita yang beredar. Bukankah mbak Rania bisa berkomunikasi dengan mereka yang gak kasat mata? Mau kan mbak bantu aku, tanya ke mbak Ayu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia bisa tewas tergantung di gedung kosong itu!" Putri benar-benar berlinang air mata, kali ini ia tak bisa menahan kesedihan nya lagi.
Terdengar suara ketukan pintu, suara berat seorang lelaki memanggil nama Putri. Seketika Putri menyeka air matanya, lalu menjawab panggilan orang tersebut.
"Sebentar ya pak, ada yang sedang saya bicarakan!" Sahut Putri dengan menelan ludah kasar.
Rania menepuk pundak Putri lalu mengatakan jika ia akan membantunya, namun masih ada masalah lain yang harus ia selesaikan.
"Sekarang kau pulang saja dulu, nanti kalau udah waktunya aku pasti akan membantumu. Ada masalah yang urgent banget harus aku telusuri secepatnya. Dan satu hal lagi, tolong waspada dengan lingkungan di sekitar mu. Jangan sembarangan percaya sama orang yang baru kau kenal. Karena aku belum bisa melihat apapun mengenai lingkungan tempat tinggalmu. Dan memang ada beberapa jiwa tanpa raga di sekitarmu tadi. Mungkin salah satunya adalah jiwa kakakmu!"
Mendengar penjelasan Rania, membuat Putri menyunggingkan senyumnya. Ia merasa ada secercah harapan untuk mengetahui kebenaran mengenai kematian kakaknya. Ia langsung mendekap Rania seraya mengucapkan syukur berulang kali.